Health & Diet
Mengapa Memilih Tradisional?

24 Mar 2016


Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilakukan selama 6 tahun sekali, pada tahun 2013 sebanyak 30,4% rumah tangga memanfaatkan pelayanan kesehatan tradisional (baik dalam bentuk keterampilan maupun ramuan). Memang, pengobatan tradisional, nonmedis, hingga komplementer  selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Indonesia.    
 
Di dunia ini, dikenal 2 jenis pengobatan, medis dan nonmedis, yang secara internasional disebut konvensional dan nonkonvensional. Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), pengobatan konvensional adalah pengobatan berdasarkan  ilmu biomedik yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan, misalnya dokter, bidan, atau fisioterapis. Sedangkan nonkonvensional adalah pengobatan yang berdasarkan   ilmu di luar biomedik yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan dan nonkesehatan. Misalnya saja pijat, ramuan herbal atau jamu, hingga yang supranatural seperti pengobatan tenaga dalam dan paranormal.  Tradisi turun- temurun ini menjadi pengobatan alternatif orang-orang yang memilih tidak menjalani pengobatan medis ketika sakit.
           
Pengobatan alternatif memang tak bisa dilepaskan dari kebiasaan masyarakat Indonesia. Bahkan, kadang-kadang pengobatan nonmedis ini justru menjadi yang utama saat mereka harus berobat. Alasannya macam-macam, dari biaya, waktu, hingga takut akan efek samping pengobatan medis atau takut menjalani tindakan medis, operasi misalnya.
           
Secara turun-temurun, kita juga diwarisi pengobatan tradisional dari para leluhur yang kemudian menjadi kebiasaan sehari-hari. Ketika badan terasa pegal-pegal, pasti ingin dipijat. Saat batuk, daripada minum obat, lebih baik mengonsumsi kecap dan jeruk nipis. Sakit kepala, minum air jahe pasti bisa menyembuhkan, meski tidak langsung. Atau, jika rajin mengonsumsi bawang putih akan membantu mengurangi tekanan darah tinggi dan meningkatkan daya tahan tubuh sehingga tak mudah terserang penyakit.       
           
Menurut dr. Hardhi Pranata, SpS MARS, ahli saraf yang juga mendalami ilmu herbal, pengobatan dari dunia Timur, seperti herbal, pendekatannya adalah ilmu dari sisi sehat, seperti meningkatkan daya tahan tubuh, promotif, dan preventif. Jadi, seandainya Anda minum jamu dan hasilnya cespleng, berarti kemungkinan besar ada bahan obat kimia di dalamnya.   Buktinya, Badan Pengawas Obat dan Makanan pernah mengeluarkan peringatan publik mengenai adanya 54 obat tradisional yang mengandung bahan kimia obat. (BPOM, 2015)
 
Pengobatan dengan herbal juga bisa diterapkan di bidang kuratif, misalnya pada penyakit stroke  dan lainnya. Gracia Citrawerdhini (44), produser eksekutif, adalah salah satu yang memilih   herbal untuk mengobati kanker payudara stadium dini yang menyerangnya. “Selain alergi terhadap antibiotik, yang biasanya diberikan saat pengobatan medis, biaya pengobatan herbal juga lebih murah dibandingkan pengobatan konvensional,” jelas wanita yang biasa dipanggil Dede ini.
           
Dede pun bertekad menyembuhkan diri dengan metode ini dengan dr. Paulus W. Halim, seorang ahli bedah kanker yang memiliki pengalaman praktik pengobatan herbal. Beberapa obat herbal yang harus dikonsumsinya contohnya adalah curandro yang terbuat dari daun sambiloto dan temulawak yang berkhasiat untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Atau curcatrol yang terbuat dari daun sirsak dan temulawak yang bermanfaat untuk membunuh sel kanker.
           
Advertisement
Selain herbal, pengobatan akupunktur juga termasuk yang disukai oleh sebagian masyarakat kita. Klinik-klinik akupunktur bisa ditemukan dengan mudah, dan mengklaim bisa menjadi solusi berbagai macam gangguan kesehatan bahkan hingga kecantikan.

Namun, sama seperti herbal, sifat pengobatan akupunktur bukan ditujukan untuk menyembuhkan seketika. Berbeda dengan pengobatan konvensional yang bersifat allopathy, yaitu berdasarkan adanya suatu organ dalam tubuh kita yang sakit dan mengobatinya, akupunktur lebih bersifat holistik.
“Akupunktur memiliki dasar teori yin dan yang atau keseimbangan aliran energi. Caranya adalah dengan mengaktifkan kembali energi dari suatu sistem organ yang mampet dan nantinya bisa menimbulkan penyakit,” jelas dr. Hardhi. 
           
Adwina Hargini (30) mengaku memilih pengobatan akupunktur karena merasa penyakit maag yang dideritanya tak pernah tuntas. Ia merasa, khasiat obat-obatan yang ia beli bebas atau bahkan obat dari resep dokter ketika sakit maag-nya sangat parah, tak bisa bertahan lama. Banyak kegiatannya terganggu oleh penyakit  maag yang acap kali datang. Hingga akhirnya ia menjalani terapi akupunktur.
           
“Setelah 4 kali terapi, saya merasa akupunktur ini tak hanya mengobati masalah lambung. Dokter waktu itu menusukkan jarum di perut, kaki, dan kepala. Ini juga melemaskan otot-otot saya yang kaku dan terasa berat, sehingga setelahnya tubuh saya terasa lebih santai dan nyaman,” cerita Adwina, yang merasa hidupnya menjadi lebih berkualitas.
           
Memang, pada metode pencegahan dan untuk penyakit yang bersifat degeneratif (penyakit yang dapat menyerang seiring dengan bertambahnya usia seseorang), ilmu kedokteran Tiongkok, khususnya herbal dan akupunktur, sangat bisa diterapkan dan hasilnya terbukti baik. Namun, kedua jenis pengobatan ini sangat tidak boleh diterapkan pada beberapa situasi.

Pertama adalah traumatologi, misalnya patah tulang, luka akibat kecelakaan atau kekerasan. Kedua, kegawatdaruratan, yaitu pengobatan yang harus dilakukan dengan segera, seperti serangan jantung. Dan yang ketiga adalah infeksi, karena saat infeksi kita memang membutuhkan antibiotik. “Situasi ini hanya bisa diatasi oleh pengobatan konvensional, jadi inilah keunggulan kedokteran Barat,” jelas dr. Hardhi.
           
Bagaimana jika menggabungkan keduanya? Ternyata ditemukan, kedua jenis pengobatan ini akan sangat bermanfaat bila digunakan bersamaan untuk kasus penyakit fase kronis dan degeneratif. “Karena itulah, saya menggabungkan pendekatan oriental dengan ilmu kedokteran konvensional yang saya dapat. Dengan begitu saya dapat membantu penyembuhan pasien seutuhnya, yaitu jiwa, pikiran dan fisiknya,” ungkap dr. Hardhi, yang juga Ketua Umum Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia (PDHMI). (f)
 


 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?