Siapa tak bangga bisa menyelesaikan lari maraton sejauh 41,2 km, memiliki perut rata, atau bisa melakukan pose yoga yang sulit, setelah punya dua anak dan di usia kepala 3 bahkan nyaris mencapai usia 40?
Pencapaian-pencapaian seperti itu kini bukan hanya milik atlet yang telah menekuni olahraga sejak usia belia. Punggahan foto-foto dan status di media sosial bertebaran bukti maraknya gaya hidup berolahraga saat ini di masyarakat.
Dari sekadar ikut-ikutan tren atau ingin mencapai target tertentu, biasanya mereka yang telah merasakan manfaat berolahraga akan jatuh cinta dan ingin terus melakukannya. Banyak penelitian membuktikan, olahraga memacu produksi endorfin, hormon yang memberi rasa senang, dan adrenalin, hormon yang memacu detak jantung, sehingga tak heran kalau banyak orang ‘kecanduan’ olahraga. Apalagi jika sudah merasakan manfaatnya. Baca juga: (Alasan Berolahraga, Jangan Sekadar Ikut Tren).
Sejak rutin yoga selama tiga tahun terakhir, Nuresti (32) merasakan perubahan yang signifikan. “Dulu punggung sering pegal, sekarang tidak lagi. Tidur saya juga jadi lebih nyenyak semalamanan, padahal dulu sering terbangun berkali-kali,” ujarnya.
Jika awalnya ia hanya berlatih dua kali seminggu, kini ia bisa yoga 3–4 kali seminggu. Lebih-lebih saat berlatih bersama di studio yoga yang memiliki banyak variasi, semangatnya makin menyala. “Apalagi jika bisa melakukan pose baru yang semula terlihat impossible bisa saya lakukan, misalnya melakukan pose jungkir balik menggunakan hammock. Senang dan bangga rasanya,“ ujarnya. Perasaan itulah yang membuatnya makin ketagihan yoga.
Sementara Monique Hardjoko (39) yang memilih lari dan crossfit, yang mengutamakan latihan beban, kini hari-harinya tak bisa lepas dari olahraga. “Berat saya kini stabil antara 53-55 kg. Dalam waktu 4 bulan olahraga bersama personal trainer, saya sudah turun sampai 20 kg,” katanya. Lama-lama Monique merasa perlu tantangan. Mulailah ia ikut lomba lari, trail run, dan menekuni latihan beban semenjak ikut komunitas crossfit. “Saya juga mencoba berbagai olahraga baru seperti zumba, electronic muscle stimulation (EMS), dan yoga,” ia bercerita.
Tak ayal, semangat yang sangat besar untuk olahraga ini kemudian menjadi salah satu hal yang dikhawatirkan sebagian orang. “Apa tidak berbahaya, tiba-tiba banyak orang jadi seperti atlet?” Bagaimana pun juga, mereka baru setahun dua tahun akrab dengan sepatu olahraga. Apalagi, menurut Jansen, dari segi fisiologis memang ada perbedaan besar antara mereka yang memang aktif bergerak sejak kecil dengan yang baru gemar berolahraga setelah menjabat sebagai manajer di perusahaan multinasional.
"Secara keseluruhan mereka yang sudah rutin berolahraga sejak muda memiliki kondisi fisik yang lebih baik dibanding yang tidak,” jelas penggiat gaya hidup sehat, Jansen Ongko, M.S.d, R.D. Kondisi fisik yang terlatih ini memiliki beragam kelebihan, antara lain: kinerja sistem energi yang lebih baik karena organ tubuhnya dapat bekerja secara efisien sehingga tidak mudah lelah. Tidak mudah cedera karena memiliki jaringan ikat yang lebih kuat, serta memiliki kepadatan tulang yang lebih baik.
Mereka yang terbiasa berolahraga sejak kecil menurutnya juga dapat lebih cepat mempelajari gerakan-gerakan tertentu yang kompleks ataupun membutuhkan keterampilan yang tinggi karena memiliki kendali gerak di otak yang sudah terlatih. Ini juga yang dikatakan personal trainer pada Monique. “Ia mengingatkan saya untuk berhati-hati dan tidak memaksakan diri dalam berolahraga, karena bagaimana pun saya baru mulai berolahraga intensif saat sudah berusia 38 tahun,” ujarnya.
Sebetulnya peringatan itu berlaku untuk semua orang, bukan atlet, yang sedang gemar-gemarnya berolahraga. Menurut Jansen, euforia yang dihasilkan oleh event-event kompetisi ditambah tekanan dari tak langsung dari teman-teman satu komunitas, memang dapat memicu seseorang untuk termotivasi untuk ikut berkompetisi, demi sebuah pengakuan. Akibatnya, banyak peserta yang mengikuti kompetisi hanya bermodal tekad tetapi belum siap secara teknik, fisik maupun mental.
Padahal, minimnya wawasan dan jam terbang dari para kompetitor pemula tersebut hanya membahayakan kesehatan dan keselamatan mereka sendiri. Salah satu yang menjadi kekhawatiran di tengah maraknya trend berolahraga dan kompetisi olahraga untuk amatir, adalah cedera.
"Mampu menjalani lomba dan mencapai garis finish bukan berarti mereka sudah siap. Sukses berkompetisi tidak hanya mencapai garis finish, tetapi mampu menciptakan rekor atau prestasi tertentu dan terbebas dari cedera pascakompetisi,” ujar Jansen.
Dari pengalamannya sebagai konsultan kebugaran, Jansen melihat cedera yang paling banyak terjadi pada pemula adalah cedera pada bagian lutut. Pada mereka yang ikut kompetisi berbagai jenis lari, penyebab cedera bisa macam-macam, mulai dari teknik berlari yang buruk, sikap tubuh yang salah, postural dan muscular imbalance baik karena kebiasaan atau kesalahan saat latihan, otot dan jaringan ikat yang masih lemah karena belum terlatih, asupan gizi sebelum, sesaat dan setelah kompetisi yang tidak memadai, serta memakai alas kaki yang kurang tepat dengan postur telapak kaki. (f)