Health & Diet
Kanker Jadi Penyebab Kematian Kedua Pada Anak

6 Mar 2017


Foto: 123RF
 
Menurut data Kementerian Kesehatan, tiap tahunnya ada lebih dari 175.000 anak di dunia didiagnosis mengidap kanker. Sekitar 90.000 di antaranya meninggal dunia, atau dengan kata lain,  tiap tiga menit satu anak meninggal karena kanker. Namun, angka-angka tersebut diyakini belum mencakup keseluruhan karena banyak yang tidak dilaporkan oleh masyarakat.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Lili Sriwahyuni Sulistyowati, M.M., mengungkap, kanker menjadi penyebab kematian kedua pada anak. Adapun, enam jenis kanker yang sering terjadi pada anak adalah leukemia (kanker darah), retinoblastoma (kanker bola mata), neuroblastoma (kanker di sistem saraf), limfoma malignum (kanker kelenjar getah bening), osteosarkoma (kanker tulang), dan karsinona nasofaring (kanker di antara hidung dan tenggorokan).

“Walau hanya menyumbang dua persen dari total penderita kanker di seluruh negeri, kita tidak bisa meremehkan. Pasalnya, kanker pada anak tidak dapat dicegah dan belum diketahui penyebabnya,” tegas dr. Lili. “Berbeda dengan kanker pada orang dewasa, kanker pada anak lebih sulit diketahui, karena anak pada umumnya belum mampu mengungkapkan apa yang dirasakan,” lanjutnya. Orang tua dan tenaga kesehatan memegang peranan penting dalam mengenali tanda dan gejala kanker pada anak, sehingga dapat dilakukan penanganan segera dan tingkat kesembuhan menjadi lebih besar.

Sayangnya, penanganan pada pasien kanker anak kurang tepat dilakukan. “Orang banyak menganggap bahwa memperlakukan pasien kanker anak sama saja dengan pasien orang dewasa. Padahal, seharusnya tidak demikian,” ujar dr. Edi Tehuteru, dokter Spesialis Kanker Anak RS Dharmais. Kebanyakan orang tua atau bahkan praktisi kesehatan terlalu berlebihan menangani pasien kanker anak.

“Anak-anak tidak diperbolehkan main atau sekolah, dengan dalih agar mereka tidak kelelahan. Tiap anak pasti bisa mengukur dirinya sendiri. Ketika mereka lelah bermain, mereka akan berhenti dan istirahat dengan sendirinya,” ujar dr. Edi,  mengingatkan bahwa terlalu protektif justru bisa membuat anak merasa penyakitnya sebagai beban.
Advertisement

Baca juga:
Fakta: 59% Anak dengan Kanker Memiliki Masalah Kesehatan Mental
Kisah Inspiratif Penyintas Kanker Payudara: Natarini Setianingsih, Berbagi Kebahagiaan di Bangsal Anak

Ditambahkan oleh dr. Edi, walau menderita kanker, anak-anak tetaplah anak-anak. Mereka membutuhkan waktu main, belajar, dan tentunya bebas dari rasa tertekan karena merasa takut dengan penyakit tersebut. “Perlu kita kondisikan sesuatu yang menyenangkan, karena hati gembira itu juga obat, lho,” paparnya lagi.

Menurutnya, masih banyak rumah sakit yang tidak memahami perbedaan dalam menangani pasien kanker anak dan dewasa. Misalnya, jika menangani pasien kanker anak, ada baiknya membuat suasana bangsal anak terasa lebih ceria dengan banyak permainan. “Bahkan kami di RS Dharmais, para dokter di bangsal anak tidak mengenakan jubah putih khas dokter. Hal ini kami lakukan agar anak-anak tidak merasa takut ketika kami kunjungi,” jelasnya.

Memang tak ada data pasti bagaimana seharusnya regulasi di rumah sakit dalam menangani pasien kanker anak. Namun, menurut dr. Lili, pemerintah senantiasa berupaya untuk meningkatkan pelayanan kesehatan, khususnya pada pasien  anak, agar menjadi lebih baik. Salah satunya mengimbau  tiap rumah sakit untuk memperlakukan para pasien anak dengan perhatian khusus, tidak seperti memperlakukan pasien dewasa. Juga peningkatan pelayanan paliatif, agar kondisi psikis sosial dan semangat pasien kanker anak lebih positif. (f)
 


Topic

#Kanker, #KankerAnak

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?