Health & Diet
Jangan Sepelekan! Mata Kering Bisa Jadi Indikasi Penyakit Autoimun

17 Jul 2025

Jagalah mata agar selalu sehat tanpa perih kelelahan. Foto ilustrasi: Unsplash/Sayo Garcia


Pernah merasa mata kering, perih, atau seperti ada pasir di dalamnya? Sering kali kita menganggapnya hanya karena kelelahan atau paparan gadget berlebihan.


Namun, tahukah kamu bahwa mata kering bisa menjadi sinyal awal dari kondisi yang lebih serius, yaitu penyakit autoimun?

Berdasarkan studi, antara 10% hingga 95% pasien dengan gangguan sistem imun mengalami mata kering. Bahkan, American Academy of Ophthalmology (AAO) mengungkapkan bahwa 10% pasien mata kering menderita Sindrom Sjögren, sebuah penyakit autoimun kronis yang menyerang kelenjar air mata.

Yang lebih mengkhawatirkan, dua pertiga dari kasus ini sering kali tidak terdiagnosis!

Autoimun adalah kondisi sistem kekebalan tubuh, yang seharusnya melindungi kita dari penyakit, justru berbalik menyerang sel-sel sehat tubuh sendiri. Ketika serangan ini terjadi pada kelenjar eksokrin, seperti kelenjar air mata, dapat timbul peradangan kronis dan penurunan produksi air mata. Inilah yang menyebabkan mata menjadi kering.

Salah satu contoh paling umum adalah Sindrom Sjögren. Pada kondisi ini, sistem imun menyerang kelenjar yang menghasilkan air mata dan air liur, sehingga penderitanya sering mengalami mata kering sekaligus mulut kering.

Selain Sindrom Sjögren, beberapa penyakit autoimun lain juga dapat memicu mata kering, seperti Lupus, Rheumatoid Arthritis (RA), dan Scleroderma. Keempat penyakit ini dapat menyebabkan peradangan sistemik yang berdampak pada seluruh tubuh, termasuk permukaan mata.

Dry Eyes Awareness Month. Foto: Dok. JEC Eye Hospital


"Mata kering bukanlah sebuah kondisi ringan," kata dr. Niluh Archi, SpM, Dokter Spesialis Mata Kering dan Lensa Kontak dari JEC Eye Hospitals and Clinics. 

Lebih lanjut wanita yang akrab disapa dokter Manda ini menjelaskan, bagi sebagian pasien, mata kering justru bisa menjadi indikasi proses autoimun yang berlangsung diam-diam di dalam tubuh.

Advertisement
Tanpa penanganan dini dan tepat, mata kering akibat autoimun bisa menimbulkan komplikasi serius, mulai dari luka pada kornea, infeksi, hingga gangguan penglihatan permanen. Di Indonesia sendiri, prevalensi mata kering cukup tinggi, mencapai 27,5% hingga 30,6%, namun sering luput dari deteksi medis yang komprehensif.

DR. Dr. Laurentius Aswin Pramono, M.Epid, SpPD-KEMD, Dokter Penyakit Dalam, JEC Eye Hospitals and Clinics, menambahkan, dalam banyak kasus, gejala awal penyakit autoimun sering kali muncul dalam bentuk yang tidak spesifik. Salah satunya, timbulnya mata kering. 

“Karena itu, kolaborasi multidisiplin antara dokter mata dan dokter penyakit dalam menjadi sangat penting untuk mengenali pola-pola peradangan sistemik sejak dini,” kata DR. Laurentius. 

Mengingat kompleksitas mata kering yang terkait dengan autoimun, penanganannya tidak bisa hanya meredakan gejala. Dibutuhkan pendekatan menyeluruh yang tidak hanya mengatasi ketidaknyamanan, tetapi juga mencari akar masalahnya.

Beberapa pemeriksaan yang bisa dilakukan untuk mendiagnosis mata kering secara akurat meliputi Dry Eye Questionnaire (untuk mengidentifikasi gejala dan riwayat pasien), Schirmer Test (mengukur volume air mata), Tear Break Up Time (TBUT) (Menilai stabilitas lapisan air mata), Ocular Surface Staining (mengevaluasi tingkat peradangan pada permukaan mata), Meibography (memeriksa kondisi kelenjar Meibom di kelopak mata yang berperan dalam produksi minyak pelindung air mata), dan TearLab® Osmometer (mengukur tingkat osmolaritas air mata, penanda penting untuk mata kering). 

Setelah diagnosis yang akurat, berbagai penanganan dapat diberikan, mulai dari tetes mata pelembap (artificial tears), sumbat punctal (punctal plug), obat anti-inflamasi dan antibiotik tetes mata, autologous serum tetes mata, hingga terapi inovatif seperti E-eye® Intense Pulse Light (IPL) dan Dry Eye Spa.

Jangan biarkan gejala mata kering jadi berlarut-larut. Segera konsultasikan dengan profesional kesehatan mata jika kamu sering mengalaminya. Deteksi dini adalah kunci untuk mencegah komplikasi serius dan memastikan pasien mendapatkan penanganan yang tepat dan berkelanjutan, demi kualitas hidup yang lebih baik. (f

Baca juga: 
Menari 15 Menit Jaga Paru Tetap Sehat
Yayasan Jantung Indonesia Gelar Kampanye Lawan Hipertensi, Silent Killer yang Mengancam Segala Usia
Bye-bye Mata Panda!



Faunda Liswijayanti


Topic

#mata, #dryeye, #matakering, #autoimun

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?