Foto: Pixabay
Namun, produksi darah dan komponennya saat ini baru mencapai 4,1 juta kantong dari 3,4 juta donasi. Dari jumlah darah yang tersedia, 90% di antaranya berasal dari donasi sukarela.
Untuk memenuhi kebutuhan darah sekaligus meningkatkan kesadaran dan kerelaan masyarakat untuk mendonorkan darah. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah menghadirkan program kerja sama antara Puskesmas, unit transfusi darah (UTD), dan rumah sakit dalam pelayanan darah. Program tersebut dibentuk terutama untuk menjamin ketersediaan darah yang cukup bagi ibu hamil, melahirkan, dan nifas. Hal ini akan menurunkan angka kematian ibu karena kekurangan darah.
Baca juga:
Angka Kematian Wanita Hamil di Indonesia Tertinggi di ASEAN
Metode Kontrasepsi Jangka Panjang untuk Menekan Angka Kematian Ibu
Direktur Pelayanan Kesehatan (Yankes) Primer Kemenkes RI, Saraswati mengatakan, sudah ada petugas di masing-masing Puskemas (pusat kesehatan masyarakat) di seluruh Indonesia yang bertanggung jawab untuk mengajak masyarakat agar mau mendonorkan darahnya.
Saat ini sebanyak 2.394 Puskesmas melalui 123 Dinas Kesehatan kabupaten/kota telah menandatangani nota kesepahaman dengan UTD dan Rumah Sakit. “Para petugas di Puskesmas telah diberi pelatihan tentang cara-cara tepat untuk mengajak masyarakat dan membantu menjelaskan manfaat mendonorkan darah,” katanya di sela acara peluncuran kampanye Hari Donor Darah Sedunia yang bertema “What can you do? Give blood. Give now. Give often” di Kementerian Kesehatan RI, Selasa (11/7).
“Sangat diharapkan peran masyarakat untuk menjadi pendonor darah sukarela. Ketersediaan darah di sarana kesehatan sangat ditentukan oleh partisipasi masyarakat dalam mendonorkan darahnya,” ujar Saraswati. (f)
Baca juga:
7 Cara Hindari Penyakit Kelainan Pembuluh Darah
Diet Pengontrol Kadar Gula Darah
8 Mitos Donor Darah
Topic
#DonorDarah