Dari hasil penelitian Prof. Marius Hoper yang berjudul A Global View of Pulmonary Hypertension tersebut, sekitar 80 persen kejadian hipertensi paru-paru berada di negara berkembang, dan menyerang usia produktif, yaitu usia remaja hingga usia 50-an.
“Di Indonesia, diperkirakan ada satu hingga dua kasus hipertensi paru-paru per satu juta penduduk,” kata Prof. Bambang. “Saya bersyukur penyakit ini cepat ditemukan dan segera ditangani. Salah seorang teman, yang juga menderita hipertensi paru-paru, wafat empat hari setelah melahirkan,” ujar Dhian.
Temannya sesungguhnya sudah diketahui menderita hipertensi paru-paru sejak sebelum hamil, sementara Dhian baru mengetahui kondisinya tak lama setelah melahirkan anak kedua. Saat itu, dokter yang memeriksa Dhian, yang sedang melakukan pemeriksaan kesehatan untuk menjadi pegawai negeri sipil, menemukan ada yang tidak beres dengan irama jantungnya. “Ketika dirontgen, diketahui jantung saya bengkak,” ujarnya.
Pengalaman Dhian bisa jadi pelajaran berharga bagi wanita untuk lebih berhati-hati saat merasakan kondisi yang bisa mengarah pada hipertensi paru-paru. Apa kaitan antara kehamilan dan hipertensi paru-paru?
Cari Bantuan Medis!
- Jika keluar darah dari mulut baik berupa bercak, batuk darah, maupun muntah darah. Ini menunjukkan bahwa ada pembuluh darah paru-paru yang pecah akibat tingginya tekanan di paru-paru.
- Sesak napas, nyeri dada, detak jantung cepat dan tidak beraturan, bengkak air pada kaki dan perut yang tidak seperti biasanya, pingsan, diare berkepanjangan, hilang nafsu makan berkepanjangan, dan
tidak bisa buang air kecil.
- Batuk berkepanjangan, meskipun bukan darurat, perlu segera ditangani karena dapat menyebabkan tekanan pada paru-paru naik sehingga kondisi pasien akan menurun drastis.(f)
Baca juga: