Health & Diet
Tingkat Polusi Udara Tinggi di Pagi Hari, Hati-hati Olahraga Outdoor Bisa Berisiko

19 Nov 2020


Foto: Unsplash


Salah satu aktivitas yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan di tengah pandemi COVID-19 adalah kegiatan olahraga luar ruangan (outdoor), seperti bersepeda, lari, jalan santai, hingga bermain futsal.

Tapi tahukah Anda bahwa olahraga luar ruangan bisa berdampak buruk bagi kesehatan, karena kualitas udara yang kurang baik atau polusi udara? Karena itu, penting bagi kita untuk memilih waktu yang tepat untuk beraktivitas di luar ruang, yaitu di saat kondisi udara dalam keadaan. baik. Apalagi saat ini, Jakarta menempati peringkat keempat kota paling tercemar di dunia.

Baru-baru ini, Nafas, sebuah aplikasi kualitas udara lokal, merilis data tentang risiko kesehatan saat olahraga outdoor pada pukul 04.00 - 09.00 WIB berdasarkan Polusi Particulate Matter (PM 2,5) dunia. 

Berdasarkan lima wilayah (DKI Jakarta, Tangerang, Tangerang Selatan, Depok, Bekasi) yang dipantau selama Agustus 2020, kota dengan pembacaan PM2,5 rata-rata terendah adalah Bogor dan Jakarta Pusat. Sebaliknya, dua daerah yang paling memprihatinkan adalah Tangerang Selatan dan Bekasi yang memiliki kualitas udara 5 hari tidak layak untuk berjalan di luar selama lebih dari 30 menit. Sampel tersebut diambil dari 46 sensor kualitas udara di wilayah Jabodetabek pada eksposur selama olahraga pagi, yakni pukul 05.00 - 09.00 WIB.

Data temuan lain menyebutkan rata-rata kualitas udara pada Jumat pagi di sebagian besar lokasi di Jabodetabek lebih baik dari hari-hari lainnya. Untuk wilayah Jakarta Pusat dan Tangerang, Kamis pagi lah yang memiliki kualitas udara terbaik selama seminggu. Adapun beberapa hari dengan kualitas udara terburuk adalah Minggu, Selasa, dan Rabu bergantung pada lokasinya. Di wilayah Tangerang, Tangerang Selatan, Jakarta Selatan dan Bogor, Minggu menjadi hari dengan polusi tertinggi.

Tingginya tingkat polusi ini pun berpengaruh pada efektivitas lamanya berolahraga yang disarankan. Semakin tinggi tingkat PM2.5 (melebihi 100), maka semakin singkat waktu olahraga yang disarankan. Studi dari University of Cambridge yang berjudul Dapatkah Polusi Udara Menghapus Manfaat Kesehatan dari Bersepeda dan Berjalan Kaki? menjelaskan jika level PM2.5 mencapai 100 ug/m3, maka berolahraga di atas 90 menit tidak akan bermanfaat bagi tubuh dan justru membahayakan tubuh. Selanjutnya, jika tingkat PM2.5 di atas 165 ug/m3, maka waktu olahraga yang optimal adalah maksimal 30 menit. 

PM2.5 merupakan polutan paling berbahaya jika terhirup di tubuh manusia, Dr. Erlang Samoedro, Dokter Spesialis Paru (Pulmonologist) menjelaskan bahayanya jika PM2.5 terhirup. “Sekali kita berolahraga, tingkat pernapasan akan meningkat signifikan hingga 40-60 napas per menit, berbeda dengan aktivitas normal yang hanya mengambil napas 15 kali per menit. Ditambah lagi, intensitas olahraga yang berbeda menyebabkan perbedaan volume udara yang dihirup. Tentu adanya peningkatan pernapasan saat berolahraga di kualitas udara yang buruk semakin memberi risiko jumlah aerosol yang terhirup, termasuk PM2.5,” jelas Dr. Elang. Beberapa risiko penyakit yang mungkin muncul karena terhirupnya PM2.5 antara lain asma, stroke, dan kanker paru-paru.
Advertisement

Uniknya, survei yang dilakukan Nafas juga melihat variasi pada tingkat kualitas udara di Jabodetabek selama jam olahraga. Suatu hari kualitas udara bisa bagus, di hari lain bisa buruk. Sebagai contoh, dari pantauan nafas selama sebulan penuh, Bogor, Jakarta Pusat, Depok, Jakarta Timur dan Jakarta Selatan memiliki kualitas udara yang dapat diterima untuk berolahraga pada 1 Agustus. Namun pada 7 Agustus, olahraga sebaiknya dibatasi hanya sampai 90 menit di semua wilayah Jakarta, kecuali Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Ini semakin menegaskan betapa pentingnya mengukur kualitas udara kita tepat sebelum kita melakukan olahraga.

Dari pengamatan yang sama, Nafas juga melihat waktu terbaik untuk melakukan olahraga berdasarkan data per jamnya untuk setiap wilayah kota. Rata-rata, kualitas udara terburuk adalah antara pukul 02.00 hingga 09.00, yang mana mulai membaik dan terus membaik sepanjang hari hingga sekitar pukul 17.00. Dengan temuan ini, diharapkan masyarakat dapat merencanakan waktu dan durasi terbaik dalam berolahraga outdoor secara aman.

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengecek kualitas udara sebelum berolahraga menggunakan aplikasi nafas. Pertama, buka aplikasi dan tes kadar PM 2.5, apakah mencapai 100 atau tidak. Jika tidak, maka olahraga bisa aman dilakukan. Namun jika memang sudah mencapai 100, maka perhatikan warna yang ada. Jika menunjukkan warna orange, maka olahraga yang disarankan adalah olahraga dibawah 90 menit. Tidak jauh berbeda dengan warna merah yang harus berolahraga maksimal 90 menit. Tanda ungu menunjukkan kadar PM 2.5 yang tinggi dan waktu olahraga harus dilakukan maksimal 30 menit. 

Sebagai aplikasi kualitas udara, nafas telah memasang 46 sensor kualitas udara di berbagai titik di Jabodetabek. Setiap sensor itu nantinya dapat memberikan data kualitas udara real-time bagi pengguna melalui aplikasi. Aplikasi pemantauan kualitas udara ini memberikan data kualitas udara di DKI Jakarta, Bogor, Tangerang, Tangerang Selatan, Bekasi dan Depok. Dengan jaringan sensor yang sudah terpasang, diharapkan kualitas udara ini bisa dipakai publik dengan baik dengan aplikasi yang mudah dipakai dan dibaca. (f)


Baca Juga: 
Jaga Jarak Kurangi Risiko Penularan COVID-19 Hingga 85%, Yuk Hindari Berkerumun!
Kolaborasi, Langkah Cepat Pemulihan Ekonomi Indonesia
Uji Efektivitas Masker Kain: Mana yang Terbaik?

 

 



Faunda Liswijayanti


Topic

#polusiudara, #lari, #sepeda, #olahraga

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?