Foto: Stocksnap.io
Namun, peningkatan tersebut nyatanya tak sebanding lurus dengan tingkat konsumsi buah masyarakat Indonesia. Karena menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013, sebanyak 93 persen penduduk Indonesia berusia di atas 10 tahun masuk dalam kategori kurang makan buah dan sayur. Ironisnya, konsumsi buah dan sayur masyarakat Indonesia bahkan kalah dengan Singapura, yang notabene mengimpor buah-buahan. Indonesia hanya mampu mengonsumsinya 34,55 kg per kapita per tahunnya, seperti yang dilaporkan litbang Departemen Pertanian di tahun 2013.
Menurut Dr. dr. Fiastuti Witjaksono, MSc. MS. Sp.GK fenomena tersebut disebabkan oleh banyak hal. “Salah satunya adalah kesadaran masyarakat yang rendah akan pentingnya mengonsumsi buah dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Masih dipaparkan oleh dokter yang juga merupakan Kepala Departemen Gizi RSCM ini bahwa masyarakat Indonesia masih beranggapan makan atau tidak makan buah sudah cukup, asalkan mereka merasa kenyang. Sementara untuk masyarakat di perkotaan, kesibukan menjadi salah satu isu utama yang membuat mereka kurang mengonsumsi buah. “Karena sibuk, kita lebih banyak makan di kantor yang belum tentu tersedia buah, karena memang buah tidak mudah didapatkan,” tambahnya lagi.
Padahal, kurang mengonsumsi buah bisa berakibat meningkatnya risiko terkena penyakit tidak menular seperti diabetes tipe 2 dan kanker usus besar. Hal tersebut juga didukung oleh data Riskesdas 2013 yang menemukan bahwa tren penyakit tidak menular sebagai penyebab kematian mengalami peningkatan. Dari 49,9 persen di tahun 2001 menjadi 59,5 persen di tahun 2007.
Sehingga diperlukan kesadaran masyarakat untuk memasukkan buah dan sayur dalam pilihan wajib konsumsi mereka sehari-hari. Seperti halnya yang disampaikan oleh Dr. Fiastuti, anjurannya adalah konsumsi 3 – 5 porsi sayur-sayuran dan 2-3 porsi buah-buahan. (f)