Foto: Fotosearch
Menurut salah satu yang merasakan meraskan manfaat meditasi, Ari Bekti, semua hal yang dilakukan dengan fokus tanpa tergesa-gesa merupakan kegiatan meditasi. Di saat konsentrasi bertemu dengan perasaan, di situlah terjadi kegiatan meditatif. “Saat minum teh misalnya. Gerakan mengangkat cangkir, menyentuhkan cangkir ke bibir, meneguk teh tanpa tergesa, lalu merasakan aliran teh yang melaju perlahan di tenggorokan, itu termasuk moving meditation,” jelas Ari Bekti yang sudah menjalani meditasi sejak tahun 2005. Aktivitas minum teh yang dilakukan tanpa terburu-buru tergolong meditasi karena mengombinasikan gerakan dan napas.
Ari percaya, saat bermeditasi bukan hanya pikiran yang bekerja, melainkan juga jiwa dan roh. Meditasi bekerja menyelaraskan dan meresonansikan vibrasi energi seseorang dengan vibrasi energi alam semesta. Proses tersebut melibatkan evolusi secara holistis, yang meliputi body, mind, and soul.
Bagi Silvia Hendarta yang juga rajin melakukan latihan meditasi, meditasi telah membuat dirinya menjadi pribadi yang lebih baik, dari segi emosi, kestabilan jiwa, dan keseimbangan tubuh. Silvia mengisahkah, saat masih belum aktif melakukan meditasi dulu, ia sangat mudah tersulut kemarahan. Saat melihat ada orang yang menyela antrean taksi misalnya. Kondisi tersebut bisa langsung membuat Silvia bereaksi dengan emosional.
Namun, saat sudah aktif bermeditasi, ia mengaku jadi lebih tenang dan tak mudah marah. “Saya pun sadar, marah-marah sama sekali tak ada manfaatnya,” jelas wanita yang pernah mengambil sertifikasi yoga dari Satyananda Yoga Academy, New South Wales, Australia, ini. Menurut Silvia, prinsip body, mind, and soul dalam meditasi bersifat kompleks dalam menyeimbangkan jiwa dengan berbagai lapis: tubuh, pikiran, dan Tuhan.
Diamini pula oleh Ari, meditasi telah membuat kesehatan jiwa, tubuh, dan spiritual dalam dirinya berpadu harmonis. Cara bermeditasi yang ia lakukan pun beragam, mulai dari berdiam diri hingga menari. Selain karena hobi, Arie memang menjadikan tari sebagai meditasi gerak karena melibatkan semua unsur anggota tubuh.
Gerakan meditatif tercapai saat dirinya dapat berkonsentrasi penuh merasakan tiap gerakan dalam tarian. Cara tersebut membuatnya jadi lebih luwes saat menari. Bahkan, latihan menari Jawa secara rutin mampu menyembuhkan rasa sakit di lutut. “Saat menari, saya menggerakkan lutut sembari menerima rasa sakit yang saya alami. Lama-kelamaan, rasa sakitnya berangsur-angsur hilang,” ujarnya.
Bagi Ari maupun Silvia, meditasi bukanlah hal sulit. Tiap orang bisa melakukannya asal disertai niat kuat. Saran Silvia, sisihkan sebagian waktu untuk bermeditasi di sela-sela kesibukan pekerjaan. Silvia percaya, hidup tanpa disertai refleksi diri akan terasa hampa, kosong, dan kering. “Masalah utama seseorang mengalami kegelisahan jiwa, pikiran, maupun gangguan kesehatan adalah minimnya waktu untuk berdiam diri,” ujar Silvia.
Dua puluh menit adalah kisaran waktu yang dianjurkan Ari untuk melakukan meditasi, tiap pagi setelah bangun tidur dan malam sebelum beristirahat, “Mengatur napas dengan tenang adalah cara paling sederhana untuk bermeditasi. Lakukanlah meditasi saat sedang merasa nyaman. Sebab, kondisi capek atau saat sedang banyak pikiran akan membuat meditasi Anda sia-sia,” tegas Ari.(f)
Topic
#manfaatmeditasi