Foto: Pixabay
Berdasarkan data Gugus Tugas Penanganan COVID-19 hingga Jumat, 22 Mei 2020 menunjukkan, angka positif sebanyak 20.796, sembuh 5.057, dan meninggal 1.326. Data ini membuktikan bahwa, kasus COVID-19 di Indonesia masih cukup tinggi.
Dengan demikian, pemerintah mengambil tindakan dengan melarang mudik di musim Lebaran tahun 2020 ini, tujuannya agar tidak munculnya cluster baru di berbagai daerah. Sebab bila semakin meluas, maka penangannnya pun akan semakin sulit. Mengingat fasilitas dan tenaga medis belum merata.
Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19, dr. Achmad Yurianto mengatakan bahwa COVID-19 ini bukan takdir, tapi masalah perilaku. Dimana setiap orang sangat mungkin sakit karena perilakunya. Tidak hanya terkait dengan mobilitas untuk keluar rumah, tapi juga terkait dengan perilaku hidup bersih dan sehat.
“Bila masyarakat patuh untuk tidak pergi kemana-mana, maka wabah ini akan berakhir dalam waktu 2 bulan. Jika Anda tidak ingin sakit dan juga membuat orang lain sakit, jangan pergi kemana-mana,” tutur pria yang juga menjabat sebagai Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, tegas.
Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito, dalam acara sosialisasi melalui siaran streaming akun YouTube resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan bahwa seseorang tidak perlu memiliki semua gejala COVID-19 untuk dapat dinyatakan telah terinfeksi, maka jika memiliki satu gejala perlu waspada.
"Dalam keadaan pandemi, kita harus lebih waspada. Karena beberapa gejala yang kita miliki bisa mengarah ke situ. Tidak harus seluruhnya. Sangat memungkinkan terdapat kasus di mana seseorang telah terinfeksi virus corona, namun ia tidak memperlihatkan gejala-gejala di atas,” ungkap Wiku.
Yuri mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil beberapa riset, setiap satu orang yang sudah terjangkit COVID-19, berpotensi akan menularkan kepada 4 orang lainnya. Meski begitu, hingga saat ini memang belum ada jurnal ilmiah yang menjelaskan tentang carrier dan super-spreader yang disebut menyebarkan COVID-19.
“Kedua istilah ini merupakan istilah yang beredar luas di masyarakat, tapi belum ada terminologi ilmiahnya,” kata Yuri.
Sementara itu, super-spreader seperti halnya carrier mampu menularkan COVID-19 kepada orang lain, namun dalam jumlah yang banyak. “Penyebar super ini sebenarnya carrier yang menyebarkan virus kepada banyak orang. Jumlah yang tertular dari penyebar super tergantung mobilitas dan dimana dia berada. Penyebar super ini biasanya mereka yang banyak berinteraksi atau bertemu dengan banyak orang,” kata Yuri.
Itu sebabnya, untuk memutus rantai penyebaran virus ini, butuh partisipasi banyak orang untuk saling mengingatkan. Mulailah dari diri sendiri untuk disiplin #dirumahaja dan #janganmudik, lalu ajak anggota keluarga lain dan orang-orang yang ada di sekitar.
Bila Anda memiliki ART (asisten rumah tangga), bujuklah mereka agar tidak mudik dulu. Jelaskan dengan baik tentang COVID-19, serta apa risikonya jika kebanyakan orang di kota mudik ke daerah. Termasuk risiko tertular selama di perjalanan saat mudik.
Tidak mudik bukan berarti tidak bisa menjalin silaturahmi dengan keluarga di kampung. “Kecanggihan teknologi sangat membantu untuk tetap menjaga komunikasi dan kehangatan. Banyak cara yang bisa Anda lakukan untuk berkomunikasi dengan keluarga, salah satunya dengan videocall yang sangat mudah dilakukan,” ujar Yuri.
Jika Anda mencintai orang tua, saudara, dan sanak keluarga di kampung halaman, jaga kesehatan mereka dengan tidak mudik tahun ini. Di masa pandemi COVID-19 ini kesehatan masyarakat menjadi tanggung jawab setiap individu. (f)
Baca Juga:
Tantangan Pernikahan Era Kini : Kurangnya Waktu untuk Diri Sendiri Mengganggu Hubungan Seksual dengan Pasangan
5 Kondisi Kesehatan Paling Sering Dikeluhkan Saat Puasa
Tips Membuat Opor Ayam Enak dari Chef Heri Purnama, Executive Sous Chef JW Marriott Hotel Jakarta
Topic
#corona, #mudik, #covid19