Kisah sebelumnya:
Sedikit gugup, Nayu mengajak Airlangga untuk duduk di sebuah gazebo yang sengaja dibuat sebagai tempatnya beristirahat. Dari sana, mereka dapat melihat perempuan-perempuan desa yang sedang bekerja mencabuti kuntum-kuntum sedap malam dari tangkainya. Berlatar matahari yang perlahan meninggi, tangan-tangan mereka seperti menari di antara batang-batang sedap malam yang berbunga indah.
Tidak terlalu dekat di sampingnya, Airlangga terdengar mengembuskan napas pelan. Angin menelusup di antara mereka, mempermainkan jilbab Nayu, juga hatinya yang seakan tak berhenti melonjak.
“Kau pasti mencintai kebunmu ini, Nayu. Rasanya, aku tidak keberatan duduk di sini seharian.”
Nayu tertawa lirih. “Iya, Mas Angga. Tapi, siang tidak akan senyaman pagi hari. Di sini, siang terasa panas membakar. Aku pikir, seseorang dari kota besar sepertimu tidak akan betah tinggal di desa kecil seperti ini.”
Airlangga menatap Nayu serius. “Entah mengapa, aku merasakan sebaliknya, Nayu. Di kebun sedap malammu, aku melupakan hiruk-pikuk kota besar. Di sini, aku merasa nyaman. Di sini, aku seperti menemukan rumah tempatku pulang.”
Mendadak Nayu menggigil. Kata-kata Airlangga serupa dengan apa yang selama ini selalu ia rasakan.
“Mungkin karena aroma ini,” suara Nayu sedikit bergetar. “Aku pernah membaca, di luar negeri, bunga sedap malam dijuluki dangerous pleasure. Kesenangan yang berbahaya.”
“Oh, ya? Kenapa rupanya?”
“Entahlah. Mungkin aromanya serupa racun, yang bisa membuat seseorang hilang akal. Seperti... hm, melupakan kota besar yang sudah menjadi tempat tinggal yang nyaman, kemudian membandingkannya dengan desa kecil yang kering.”
Tawa Airlangga terdengar seperti debur ombak yang pecah karena terempas batu karang. Hingga Nayu tidak kuasa menahan pandangannya untuk mengamati wajah pria itu.
“Kalau memang demikian, aku tidak keberatan teracuni berkali-kali,” ujar pria itu sambil menyeringai lebar.
Dan Nayu merasakan sebuah perasaan hangat yang menyenangkan mengalir di dalam tubuhnya.
“Tapi, jujur Nayu, aku mengagumimu. Sejak pertama kali datang ke sini, kemudian Pak Lurah memperkenalkan kita di Balai Desa. Aku ingin tahu, bagaimana kau bisa berpikir berbeda, di luar gadis desa kebanyakan. Memiliki usaha budi daya sedap malam yang terus berkembang. Kebetulan, aku sedang melakukan penelitian untuk tesisku.”
“Ceritanya panjang, Mas Angga. Itu berarti seluruh kisah hidupku sendiri.”
“Aku punya waktu yang panjang. Kalau kau tidak keberatan.” Airlangga tersenyum lembut pada perempuan itu.
Nayu menunduk, mempermainkan ujung jilbabnya. Perlu waktu beberapa detik hingga Nayu siap untuk bercerita.
“Aku adalah bagian dari tradisi yang dijalani kebanyakan perempuan Desa Sunyi. Ibu menerima Bapak, dengan mahar sejumlah uang yang digunakan untuk modal usaha. Seperti halnya kehidupan pernikahan siri lainnya, Bapak jarang pulang. Ia tinggal bersama istri pertama dan kedua anaknya di Surabaya. Meskipun begitu, aku masih lebih beruntung dari Elis.”
“Elis? Kenapa dengannya?”
“Sejak dalam kandungan, ayahnya sudah meninggalkannya dan tidak pernah kembali. Ibu Elis yang tidak sanggup membiayai hidup mereka, menyerahkan Elis ke panti asuhan. Bisa Mas Angga bayangkan, kehidupan seperti apa yang kami jalani di sini? Rumah seperti apa yang menjadi tempat kami tumbuh?”
Airlangga mengerjapkan matanya, terdiam, namun tidak mengalihkan pandangannya dari wajah perempuan itu.
“Sementara, aku jarang sekali bertemu Bapak. Tapi, ia tahu, aku sangat suka bersekolah. Jadi, walau mungkin hidupku tidak terlalu normal untuk ukuran seorang anak, aku memaafkan Bapak. Karena, selepas SD, Bapak mengeluarkanku dari Desa Sunyi. Mengajakku tinggal bersamanya, lalu menyekolahkanku hingga lulus SMA. Ia tidak membiarkanku menjalani kehidupan yang sama seperti hampir semua perempuan sebayaku.”
“Bapakmu bertanggung jawab dan sayang padamu, Nayu,” kata Airlangga, sambil memandang jauh ke arah kebun sedap malam.
“Aku tahu,” Nayu mengakui dengan berat. “Tapi, tinggal bersama keluarga yang selalu terasa asing, bukanlah kehidupan yang ingin terus kujalani. Aku tahu diri dan tidak ingin merepotkan Bapak lagi. Maka, aku memutuskan membiayai sendiri kuliahku di Malang, dari hasil mengajar privat anak-anak SD dan SMP.”
Kesunyian perlahan menyelinap di antara mereka. Kesibukan para pekerja yang sedang memanen sedap malam masih berlangsung. Di gazebo lain yang lebih luas, tangkai-tangkai sedap malam yang sudah dipanen dikumpulkan dalam ikatan-ikatan besar. Tidak lama lagi, akan ada pembeli yang akan mengambil tumpukan bunga-bunga itu.
Nayu termenung. Mengingat dan menceritakan kembali masa lalu, seperti membuka sebuah pintu yang berkarat. Tidak semudah seperti yang ia pikirkan. Ketertarikan Airlangga terhadap kehidupan perempuan Desa Sunyi, menggelitik hatinya.
“Berapa lama Mas Angga berencana di sini?” Nayu bertanya di luar kehendaknya. Detik berikutnya, perempuan itu menutup mulut dengan telapak tangannya, menyesali kata-kata yang ia lontarkan tanpa berpikir lagi.
Airlangga tertawa. “Hmm, sampai urusan kantor selesai dan aku mendapatkan cukup data yang kuperlukan untuk tesisku. Selain penyuluhan, LSM kami berencana memberikan pelatihan keterampilan untuk perempuan Desa Sunyi. Seperti menjahit dan membordir, pengolahan dan daur ulang sampah, hingga budi daya sedap malam. Rencananya, program itu akan rutin kami jalankan sebulan sekali selama enam bulan. Saat ini, kami masih merintis awalnya. Sepertinya, kau harus terbiasa dan menerima keberadaanku di sini selama satu bulan lagi. Kau keberatan, Nayu?”
Nayu menggelang dengan wajah memerah. Mata Airlangga selalu saja menghangatkan hatinya. Perempuan itu sampai harus mengingatkan dirinya berkali-kali, Airlangga tetaplah seorang asing yang hanya sementara singgah dalam hidupnya. Kebaikan Airlangga yang dirasakan Nayu tentulah tidak istimewa hanya untuk dirinya semata.
“Aku ingin melihat cara memanen sedap malam dari dekat. Tolong temani aku, Nayu. Aku masih ingin mendengar kelanjutan ceritamu.”
Segera mereka tenggelam di antara rumpun sedap malam yang tinggi. Dulu, sewaktu kecil, Nayu sangat suka bersembunyi di rumpun sedap malam milik Pak Rozak, tetangganya. Kini, masih seperti mimpi rasanya, ia bisa memiliki rumpun sedap malamnya sendiri.
“Lalu, apa yang terjadi setelah kau lulus kuliah? Bagaimana kau merintis usaha sedap malammu?” ujar pria itu sambil mencoba mencabut sebuah tangkai sedap malam.
Nayu tertawa melihat wajah Airlangga yang memerah.
“Aku pikir mudah saja mencabut tangkai-tangkai itu!” seru pria itu, penuh keheranan.
“Mas Angga belum terbiasa saja. Selain dicabut dari rumpunnya, sedap malam juga bisa dipanen dengan cara dipotong.”
Setelah Airlangga berhasil mencabut setangkai sedap malam, mereka kembali berjalan pelan.
“Seperti anak-anak pernikahan siri lainnya, di dalam akta kelahiranku hanya tertulis nama Ibu. Aku sudah terbiasa menerima bermacam pertanyaan terkait statusku. Apakah aku anak hasil di luar nikah? Anak haram? Dan segala detail yang membuat orang lain penasaran. Aku tahu, Bapak tidak bisa berbuat banyak untukku dan Ibu. Keluarga istri pertamanya begitu keras menekan Bapak. Tapi, yang sungguh tidak kuduga, Bapak sudah menyiapkan setengah hektare tanah sebagai hadiah kelulusanku. Walau pesan sesungguhnya dari tanah itu kumengerti. Hanya sampai di situ peran dan tanggung jawab yang bisa Bapak lakukan untukku. Aku tidak akan pernah tercatat sebagai garis keturunannya yang sah. Entah kapan kami bisa berkumpul lagi. Karena, sejak aku meninggalkan Desa Sunyi bersamanya, Bapak tidak pernah kembali pulang ke rumah.”
Nayu mendadak menggigil, mengingat ibunya. Perempuan yang setia menunggu dalam senyap.
“Maka, aku pun pulang dengan pikiran yang terang dan jernih tentang masa depanku. Aku akan memanfaatkan tanah itu untuk budi daya sedap malam. Sudah kupilih jalan hidup yang akan kulanjutkan bersama Ibu. Kupikir, memang itulah tujuan Bapak. Walau kami tidak pernah dekat, Bapak mengenalku lebih dari diriku sendiri.”
“Karena kau anaknya, Nayu.” Airlangga tersenyum. “Kalau aku punya anak perempuan, aku juga pasti akan seperti itu.”
Melihat perubahan wajah Nayu, Airlangga buru-buru menambahkan dengan nada bergurau. “Tentu saja, sebelumnya aku harus sudah mencatatkan pernikahanku di KUA, Nayu.”
Nayu tidak sanggup menahan senyumnya. Hatinya berdesir menerima senyum lebar pria itu.
“Terima kasih untuk waktumu, Nayu. Jumat pagi besok, persiapkan dirimu untuk berbagi di Balai Desa. Ok?” Airlangga berlalu setelah sebelumnya meninggalkan tangkai sedap malam yang dipetiknya di tangan Nayu. Ia pergi, tapi menyisakan debar tak bernama di hati perempuan itu.
*
Masa Lalu yang Berulang
Nayu hampir saja melupakan pembicaraannya dengan Ibu beberapa waktu yang lalu, kalau saja malam ini Pakde Lilo tidak datang ke rumah. Bersama seorang lelaki paruh baya yang baru sekali Nayu lihat.
Angin malam yang dingin menyayat seakan mengisyaratkan sesuatu yang muram. Semuram wajah Nayu melihat Ibu yang pucat dan terlihat sakit, namun tetap memaksakan diri menemui Pakde Lilo dan tamunya.
“Buatkan minuman,” perintah Ibu tegas kepada Nayu. Nayu menurut, lalu beranjak pergi ke dapur.
Kemudian, seperti sebuah film lambat, semua yang Nayu lakukan berjalan tanpa rasa. Tangannya bergerak sendiri tanpa perintahnya. Kopi yang ia tuang ke dalam dua cangkir. Menyusul dua sendok gula ke masing-masing cangkir. Hingga kemudian, air panas melarutkan kopi dan gula, menguarkan aroma serupa kesedihan yang menyelusup ke dalam pikirannya.
Merasakan tubuhnya ringan seakan melayang, Nayu membawa nampan berisi dua cangkir minuman itu ke ruang tamu. Pandangan Pakde Lilo dan tamunya tertuju penuh pada Nayu. Kulit perempuan itu meremang, seperti ada tangan-tangan yang tak terlihat meraba seluruh tubuhnya.
“Duduk di sebelah Ibu, Nayu.” Ibu bergeser, memberi tempat untuknya. Nayu duduk, berusaha menegakkan tubuhnya yang kaku.
“Nah, Nayu, Pakde Lilo percaya ibumu sudah berbicara denganmu. Kami memikirkan masa depanmu. Usiamu sudah sangat cukup untuk berkeluarga. Tak baik terus ditunda-tunda.” Sorot mata Pakde Lilo terasa tajam di kulit Nayu.
“Kau anak ibumu satu-satunya. Bisa kau lihat, kondisi ibumu yang sakit-sakitan karena memikirkanmu yang belum juga menikah. Seharusnya, tidak ada lagi yang kau beratkan.”
Sebentuk kemarahan berkumpul di hati Nayu. Licik sekali cara Pakde Lilo menggunakan kondisi Ibu untuk mendapatkan keinginannya. Nayu tahu, Pakde Lilo mendapatkan sejumlah uang jasa, bila berhasil mempertemukan perempuan Desa Sunyi dengan pria yang menginginkan pernikahan siri. Nayu menyipitkan matanya. Entah berapa banyak yang dijanjikan pria di samping Pakde Lilo untuk pamannya itu.
“Pak Browo ini lurah Desa Kali, di kabupaten tetangga kita. Beberapa kali ia pernah datang ke Desa Sunyi. Pakde Lilo pikir, beliau sangat cocok untukmu, Nayu.”
Sementara Pakde Lilo berbicara tak henti, Nayu melirik ibunya yang tampak makin pucat. Kalau tidak memikirkan sopan santun, ingin rasanya Nayu berdiri, menolak lalu mengusir Pakde Lilo dan tamunya sekarang juga. Tapi Nayu tahu, ibunya pasti tidak akan menyetujui perbuatannya itu.
“Maaf,” Nayu memotong ucapan Pakde Lilo dan menatap mata Pak Browo langsung. “Saya punya satu pertanyaan. Apakah Bapak menikah?”
“Sudah, Lilo, tak usah kau teruskan kata-kata pengantarmu yang bertele-tele itu!” Mata pria itu membalas tatapan Nayu dengan sorot dingin penuh kuasa.
“Apa pentingnya status pernikahanku, Manis? Aku sudah mengamatimu sejak lama. Kau tidak bisa bersandiwara di balik topeng wajah sok terpelajarmu. Perempuan di mana pun sama. Dan jangan berpura-pura kau tidak tertarik dengan penawaranku.”
Nayu menelah ludahnya. Rambut tipis di lehernya meremang.
“Bapak perlu tahu, saya tidak akan menikah dengan pria beristri. Saya juga menolak pernikahan siri.” Nayu sekuat tenaga menjaga nada suaranya terdengar tetap tenang.
Pak Browo menatap tajam Nayu. Entah mengapa, sekonyong-konyong, Nayu merasakan tubuhnya kaku seperti diikat kuat. Perempuan itu melafalkan nama Tuhan berkali-kali di dalam hatinya.
“Mengapa, Manis? Kau takut kutelantarkan? Kau takut aku tak sanggup membayar mahar yang kau tetapkan?”
“Tidak sama sekali,” Nayu menegakkan wajahnya. “Bagiku, pernikahan seharusnya terjadi pada dua orang yang saling mencintai. Kalaupun cinta itu belum datang, minimal ia tidak menyakiti hati yang lain.”
Pak Browo tertawa mengejek. Sementara, Pakde Lilo terlihat sudah tidak bisa menahan diri lagi.
“Bocah tak tahu diuntung! Kau harusnya bersyukur masih ada yang mau memberi mahar untukmu. Memangnya siapa dirimu, hah? Keturunan bangsawan? Kau sendiri tidak punya nasab yang jelas, sok menceramahi orang tua. Apa orang-orang kota sialan itu yang memenuhi isi kepalamu dengan pikiran aneh? Siapa dia? Airlangga? Lihat saja, biar kuberi pelajaran nanti!”
Tubuh Nayu gemetar, dan wajahnya memucat. Ia tidak sempat merasa sakit hati dengan kata-kata pamannya itu. Ia hanya membayangkan satu wajah. Perempuan itu ditangkupi kengerian, membayangkan apa yang akan Pakde Lilo lakukan terhadap pria yang akhir-akhir ini kerap memenuhi pikirannya.
“Ini prinsipku sendiri, Pakde. Pilihan hidupku sejak lama. Tidak ada hubungannya dengan orang lain!” Tangan Nayu terkepal, menahan luapan emosi sekaligus rasa tidak berdaya.
“Jangan mencoba membodohiku! Kau pikir aku tidak bisa melihat kedekatan kalian berdua, hah?! Ia yang mempengaruhi perempuan-perempuan desa untuk menolak pernikahan siri. Dan kini, kau pun sudah termakan bualannya. Sungguh kurang ajar pria itu. Ia harus berhadapan denganku segera!”
Pak Browo mengangkat tangannya, memberi isyarat agar setiap orang memilih hening. Matanya yang serupa malam pekat berkilat oleh amarah.
“Tidak usah berdebat lagi! Sebut saja berapa yang kau minta? Dua puluh juta? Lima puluh juta? Atau mahar apa yang kau inginkan? Jangan karena kau merasa sudah sedikit berhasil dengan usaha sedap malam murahan itu, kau berhak menghinaku! Kau tidak tahu, apa yang sanggup kulakukan dengan bisnismu itu, kan?” Ada nada mengancam pada suara Pak Browo. Seperti seekor ular yang bersiap menerkam dan menusukkan bisa pada mangsanya.
Nayu bergidik. Sebelum ia sempat berkata-kata lagi, suara ibunya pecah.
“Kalau Nayu sudah berkata tidak, maka artinya tidak.” Ibu menatap teguh ke arah Pakde Lilo, lalu beralih ke Pak Browo.
“Terima kasih atas niat baik Pak Browo terhadap putri saya. Sepertinya, putri saya tidak cukup baik untuk Bapak. Saya mohon maaf atas kekurangan penerimaan kami.”
Suara ibunya semakin lemah, namun hanya Nayu yang menyadarinya. Kedua pria itu sama sekali tidak menaruh perhatian terhadap hal itu. Pikiran dan hati mereka telah bergolak oleh emosi yang membakar akal sehat mereka.
“Saya belum pernah menerima penolakan dan penghinaan serupa ini. Apalagi dari seorang perempuan yang bukan siapa-siapa!” ujar Pak Browo dengan suara berdesis, sebelum kemudian berdiri untuk meninggalkan rumah Nayu.
“Percayalah, saya tidak akan melupakan peristiwa hari ini!”
Sementara itu, Pakde Lilo tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya meninggalkan satu gebrakan keras tangannya di permukaan meja. Menyebabkan sebuah cangkir tergelincir ke lantai. Pecah, dan menyebarkan cairan hitam pekat serupa air sungai yang membawa lumpur.
Nayu tidak lagi menaruh perhatian terhadap apa pun. Perempuan itu hanya mampu memekik pelan, saat dirasakannya ibunya terkulai di pundaknya. Pingsan.
***
Langit seperti tersepuh tembaga. Merah menyala seiring matahari yang menggantung naik. Nayu selalu menikmati pagi yang merambat terang dari jendela kamarnya. Aroma sedap malam dari vas bunga di meja masih memenuhi udara. Padahal, sudah tiga hari berlalu sejak ia mengganti sedap malamnya dengan yang baru. Itu juga yang menjadi salah satu alasannya begitu mencintai tanaman itu. Sedap malam tidak mudah layu. Dan betapa Nayu berharap dirinya pun bisa seperti itu.
Nayu menatap wajah ibunya yang sedang terlelap. Dokter puskesmas kecamatan sudah datang memeriksa Ibu, kemarin.
“Apa ada yang mengganggu pikirannya belakangan ini?”
Dokter perempuan itu menatap Nayu sekilas. Ia muda dan penuh semangat. Juga tidak pernah keberatan berkeliling desa dengan motornya bila ada yang memanggilnya. Sebagai balasannya, terkadang ia menerima sesisir pisang tanduk yang hampir matang seluruhnya. Di lain waktu, sekantung beras, atau seekor ayam yang sudah dipotong dan dicabuti bulunya. Dan Nayu, sungguh menaruh hormat kepada dokter itu karena pengabdiannya.
“Hm... memang ada sedikit masalah keluarga, Dok.”
“Pastikan ibumu meminum obatnya dengan teratur. Istirahat, dan kau, jangan membuatnya banyak pikiran.” Kata-kata terakhirnya lebih menyerupai candaan untuk Nayu. Dan Nayu hanya bisa tersenyum kecut saat mengantar dokter itu ke luar rumah.
Ibu membuka mata lalu menggerakkan tubuhnya, berusaha untuk duduk. Nayu membantu menegakkan tubuh ibunya, lalu menyelipkan sebuah bantal di punggungnya untuk tempat bersandar.
Ibu memberi isyarat dengan dagunya pada gelas berisi teh hangat di meja. Perlahan, Nayu membantu menuangkan sedikit demi sedikit cairan manis hangat itu ke mulut Ibu. Setelah merasa cukup, Ibu menyandarkan tubuhnya sambil memandang ke luar jendela. Udara segar pagi mempermainkan anak-anak rambut di dekat telinganya. Terkadang Nayu lupa, betapa muda dan cantiknya Ibu. Usia mereka hanya selisih 15 tahun. Mereka lebih seperti kakak dan adik dibandingkan ibu dan anak.
Kening Ibu berkerut dalam. Ia mendesah panjang, seperti menahan ribuan beban yang sulit ia tanggung.
“Ibu... tenanglah. Dokter bilang, Ibu harus istirahat dan tidak usah memikirkan apa pun,” Nayu mulai merasa cemas.
“Bagaimana bisa ibu tidak memikirkan apa pun,” Ibu berkata lirih. “Kaulah yang paling sering Ibu pikirkan selama ini. Hanya kau saja, Nayu!”
“Tidak juga Bapak?”
Nayu menatap wajah Ibu. Selama ini, Ibu tidak pernah membicarakan perasaannya terhadap pria yang telah mengurungnya dalam sunyi itu. Mengapa Ibu tetap setia dalam kesendiriannya, meskipun ia tahu Bapak tidak akan pernah pulang lagi.
“Tidak juga Bapak. Tidak sebanyak Ibu memikirkan dirimu.” Ada jeda sesaat sebelum Ibu melanjutkan kata-katanya. Lemah. “Ada yang harus kamu ketahui, Nayu. Berhati-hatilah terhadap Pakde Lilo. Ia... bisa melakukan apa saja.”
“Apa saja?” Nayu mendadak gusar. “Apa maksud Ibu? Aku tidak takut padanya!”
Ibu memejamkan matanya, seperti hendak mengumpulkan kekuatan.
“Ia berbahaya, Nayu. Sangat berbahaya. Ia sudah pernah mencelakakan bapakmu. Ibu tidak ingin ia menyakitimu juga. Atau... siapa pun orang yang dekat denganmu.”
Kulit Nayu meremang. “Airlangga? Apakah yang Ibu maksud Mas Angga? Katakan padaku, Bu! Apa yang telah Pakde Lilo lakukan kepada Bapak? Apa yang mungkin akan ia lakukan kepada Mas Angga?”
Ibu mengerang pelan, menatap Nayu penuh luka.
“Saat itu, sampai hari kelulusanmu dari sekolah dasar, Bapak masih suka mengunjungi kita di desa Sunyi ini. Walau tidak rutin, namun ia tidak pernah melupakanmu, Nayu. Lalu, suatu hari, Pakde Lilo mengundang Bapak ke rumahnya. Mengajaknya berbicara. Ternyata, Pakde Lilo menawari Bapak untuk menikahi adik perempuan kami, yang baru tiga bulan ditinggal suaminya. Marya, ibunya Elis. Kau tentu tahu, Pakde Lilo dan Ibu sesungguhnya bukan saudara sedarah. Ibu dibawa kakekmu, ketika menikahi nenekmu. Sementara, Pakde Lilo adalah putra dari suami nenekmu yang sebelumnya.”
Sebuah batuk menghentikan cerita Ibu sejenak. Tapi, Nayu tidak sedikit pun berniat untuk menyela. Dengan sabar, ia menunggu ibunya melanjutkan cerita.
“Bapakmu menolaknya. Lima belas menit setelah kepulangannya dari rumah Pakde Lilo, Bapak mulai kesakitan. Ia kesulitan menelan makanan, juga minuman. Seperti ada pecahan kaca yang mengiris-iris tenggorokannya. Bapakmu hanya bisa berguling kesakitan di lantai. Kau tidak bisa membayangkan rasa takut yang Ibu rasakan. Malam itu, kau sedang menginap di panti asuhan Elis. Ibu berlari menuju rumah Kyai Maksum di ujung desa. Menyadari apa yang terjadi, beliau segera datang ke rumah untuk menolong Bapak.”
Ibu menyeka air mata yang mengalir dengan sendirinya. Sementara, Nayu merasakan dadanya sakit oleh penderitaan Ibu.
“Bapak ingat, ia minum segelas kopi di rumah Pakde Lilo. Tentu saja kami tidak mempunyai bukti. Tapi, kejadian itu sudah cukup untuk mengeraskan hati Ibu. Bukan sekali saja Ibu menyaksikan hal seperti itu. Dulu, kakekmu, meninggal dengan gejala yang sama. Setelah sebelumnya meminum kopi yang disuguhkan oleh lelaki yang gemar bermain ilmu hitam itu, ayah dari Pakde Lilo. Keputusan Ibu sudah bulat. Ibu ingin bapakmu pergi dari desa Sunyi, dengan membawamu juga. Selamanya. Ibu tidak sanggup membayangkan jika harus kehilangan orang yang Ibu cintai dengan cara serupa itu lagi. Ibu tidak akan sanggup....”
Nayu menggenggam telapak tangan Ibu erat. Hatinya seperti tercabik-cabik. Sungguh berat beban Ibu harus menyimpan semua cerita ini sendirian. Tak heran, pikiran ini menggerogoti kekuatan tubuh Ibu dari dalam. Sedikit-demi sedikit, menyerap seluruh tenaga dan semangat hidupnya, hingga kering bagai batang pohon yang meranggas.
“Oh, Ibu! Dan selama ini, Ibu menjalaninya seorang diri. Sementara aku hidup bebas di luar sana, tidak mengerti apa yang Ibu alami. Mengapa saat itu Ibu tidak ikut pergi bersama kami?”
“Ibu tahu posisi Ibu, Nayu. Tidak ada tempat untuk Ibu di luar sana. Sementara, desa ini adalah tanah kelahiran Ibu. Saudara-saudara, jauh ataupun dekat, ada di sini. Meskipun sunyi. Meskipun kering. Ibu tidak bisa ke mana-mana.”
“Apakah selama ini Pakde Lilo menyakiti Ibu?”
Ibu menggeleng, sambil tersenyum lemah.
“Tidak, Nayu. Karena Marya selalu membela Ibu, dan Pakde Lilo selalu membutuhkan uang Ibu, tentu saja. Penghasilan dari warung yang Ibu kelola memang tidak seberapa. Tapi, Ibu bersyukur, selama kau tak ada, Ibu bisa menyambung hidup dengan menjahit bordir untuk mukena di rumah Bu Haji Rifda. Terkadang, Ibu membantu mengurus sawah orang lain. Sementara, hidup Pakde Lilo sangat bergantung dari belas kasihan keluarga dan orang di sekitarnya. Ia pria pemalas yang tak suka bekerja keras. Karenanya, pekerjaannya sebagai makelar untuk pria-pria yang ingin menikah siri, ia pertahankan hingga kini.” (Bersambung)
***
Yulina Trihaningsih
Topic
#FiksiFemina