Perjalanan ini dulu yang membuat dia pergi. Sekarang berbalik, dia yang mendatangi masa lalunya. Lihatlah, kota ini tidak pernah terjaga dari lelapnya. Geliatnya terlalu lamban seperti raksasa pemalas dalam buku dongeng. Putik, anak perempuannya, tengah lelap di jok belakang. Gadis kecil berusia sebelas tahun itu terlihat kelelahan dan mungkin bosan.
Serta-merta ingatannya kembali berkelebat, tiap subuh derak roda pedati yang melintasi jalan di depan rumah membangunkannya. Bunyi genta di leher kerbau atau sapi membuat ia jengkel. Sebab, bunyinya sebagai pertanda hari-harinya akan sangat melelahkan.
Kala laut pasang, ombak terdengar hingga ke kamarnya yang beberapa kilo meter jaraknya. Bergelora membangkitkan imajinasi kanak-kanaknya dulu. Bapak berasal dari kampung dekat ombak bergulung. Sedangkan ia tinggal di tanah adat keluarga Ibu. Hanya sesekali dia diajak Ibu ke kampung ombak, negeri Bapak. Bila ada upacara-upacara yang terasa penting bagi orang tuanya.
Bahwa sekarang dia menuju kampung penuh ombak ini adalah karena sebuah panggilan yang hinggap ke ambang pintu apartemennya. Berupa sebuah surat yang telah melalui perjalanan jauh. Mungkin telah menyerap aroma asin udara bergaram hingga kertasnya terasa lunak ketika dibuka. Umaya tidak kenal pengirim surat itu. Tapi, alamat yang tertera mampu membawanya terbang hingga puluhan kilo meter jauhnya melampaui pulau dan lautan.
“Aku harap kau dapat pulang. Ada hal yang ingin kuselesaikan. Hingga tuntas utangku sebelum meninggal.”
Pengirimnya Mande (Bibi) Rubiah. Seseorang yang tidak dia kenal. Namun, dari alamat yang diterangkan, jelas bahwa perempuan itu keluarga dari pihak Bapak. Perlu waktu satu hari untuk memikirkan permintaan itu. Jelas sangat mengganggu perasaannya. Sebab, ia ingin abai. Namun, ini menyangkut permohonan orang hendak meninggal.
“Kita akan pergi. Ke rumah Kakek,” kata Umaya, saat gadis kecilnya protes dengan mimik wajah yang khas. “Di tempat Kakek ada laut. Kamu bisa bermain pasir dan berenang,” bujuk Umaya dengan gerakan tangan sekadarnya, ia tengah terburu-buru.
“Papa ikut juga, Ma?” tanya Putik, gerakan jari-jarinya menegaskan maksud.
“Tidak. Hanya kita berdua,” jawab Umaya dengan gerakan enggan.
Surat itu berhasil membuat pikiran Umaya gelisah. Karena ia menimbang, setelah segalanya kelar, tidak ada lagi yang mengganggu dengan masa lalunya. Hingga ia dapat meneruskan perjalan waktu tanpa terbebani. Ia bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya sebagai konsultan mode dan brand ambassador beberapa produk. Meski terpaksa membuat Jun, manajernya, marah-marah karena harus membatalkan beberapa jadwal pemotretan dan syuting iklan. Setelah semua urusannya selesai, mungkin dia akan mengurus perceraiannya juga dengan Danang.
SEBENTAR LAGI, mereka akan sampai ke sebuah kampung kecil yang disebutkan Umaya, berada di sebuah desa yang bernama Sunur. Kembali mereka melalui jalan tanah. Rumput-rumput tumbuh di bagian tengah jalan yang tak tergilas roda. Sesekali terlihat penduduk yang menaiki sepeda membawa jala dan keranjang ikan. Sebuah pedati berjalan lamban membawa pelepah kelapa kering dan kayu bakar. Gentanya bergema membelah siang yang hening.
Umaya membuka jendela lebar-lebar. Membiarkan Putik terpana melihat kerbau yang berpapasan dengan mobil mereka. Dengan mengandalkan ingatan dan bertanya kepada seorang yang menyabit rumput, akhirnya Umaya menemukan rumah kayu itu. Dan pohon manggis itu jelas menambah keyakinannya bahwa mereka tidak salah alamat.
“Oh, sudah datang kau rupanya,” ucap seorang perempuan, keluar dari rumah dengan raut gembira. Rupanya, mereka memang ditunggu. Perempuan itu buru-buru menyalami Umaya dan mengelus rambut Putik penuh sayang. Perempuan itu menatap Umaya dengan kagum.
“Saya Ema, anak Mande Rubiah. Saya yang disuruh Mak menulis surat itu. Meminta kau datang. Kami tak punya ongkos untuk pergi ke Jakarta,” tutur Ema, sembari mengajak mereka naik ke rumah panggung itu.
“Bagaimana kamu tahu alamatku di Jakarta?” tanya Umaya.
Tak lama seorang anak perempuan berumur sekitar dua belas tahun menghidangkan teh manis untuk tamunya.
“Bang Muharman yang memberikan kepada kami,” sahut Ema dengan wajah meminta maaf.
Umaya terdiam. Tak perlu mengulang nama itu.
“Dia tahu aku datang?”
“Saya memberitahunya ketika kau mengatakan akan datang saat ditelepon. Bang Muharman sesekali datang ke sini menemui kami. Dari dia, kami tahu keadaanmu sekarang. Kau orang yang sangat terkenal katanya,” tutur Ema.
Umaya tersenyum saja. Sementara itu sebuah sepeda motor masuk ke halaman dan menghentikan lajunya di bawah pohon manggis. Sosok itu membuka helm dan merapikan seragamnya.
“Oh, itu Bang Muharman tiba,” ucap Ema.
Lelaki itu naik ke rumah panggung dengan rasa yakin.
“Umaya, apa kabar?” sapanya. Rambutnya telah ditumbuhi uban di bagian telinga.
Kembali deburan ombak pantai mengempas di dada Umaya.
“Kau memata-matai aku?” sahut Umaya, setelah menenangkan diri.
“Bang, sampaikan kepada Umaya untuk menginap di sini saja. Hotel telah penuh oleh orang-orang yang ingin menyaksikan upacara tabuik nanti,” kata Ema.
Lengkap sudah kenangan itu menimbun Umaya. Saat itu Muharman menjadi tim panitia penyelenggara Festival Tabuik, sedangkan Umaya menjadi salah satu penari bersama tim penari daerah yang akan tampil di salah satu panggung. Perayaan itu berlangsung tiap 1 Muharam hingga waktu puncaknya 10 Muharam.
Tabuik yang berupa bangunan kayu dan bambu bertingkat-tingkat, ada bagian berbentuk buraq, seperti tubuh kuda dengan kepala perempuan cantik. Reliefnya penuh dengan filosofi dan perlu upacara sakral saat merakitnya, setelahnya akan diarak menuju laut untuk dilarung.
Berkenalan dengan Muharman kelak membuat Umaya sadar bahwa ada hal yang mesti dikorbankan.
“Kau tahu, keluarga kita seperti apa? Kita tidak punya uang japuik (jemput/ semacam uang mahar). Dia dari keluarga terpandang. Sedangkan kita tidak ada sanak saudara yang membantu. Tidak ada peninggalan bapakmu yang dapat dijual,” keluh Ibu, saat tahu Umaya mulai dekat dengan Muharman.
“Kau tidak akan kuasa melawan aturan adat, sebab kita tinggal di kampung. Dia juga tidak akan mungkin membela dirimu dibanding nama besar keluarganya. Tak mungkin dia akan mencoreng nama keluarga besarnya demi kau,” ujar Ibu, sembari menata penganan di atas wadah bambu.
Kemudian pada tahun-tahun berikutnya, upacara tabuik sudah tak menarik lagi bagi mereka. Umaya mengatakan semuanya kepada Muharman ketika mereka lebih memilih menghindari hiruk pikuk perayaan Festival Tabuik di Pantai Gondoriah. Mereka menyepi di Pantai Sunur.
“Aku tahu, kau tidak akan membelaku,” ucap Umaya, saat terakhir memutuskan untuk pergi. Ditambah lagi Ibu belum lama ini meninggal. Perempuan itu meninggal tak memberikan pertanda. Ia sadar, kematian seperti kembang jambu. Kau akan luruh kapan saja, meski belum sempat menjadi putik atau buah.
Muharman tidak membela diri. Karena yang disampaikan Umaya memang benar. Dia telah dicarikan jodoh oleh keluarga besarnya.
“Aku minta maaf, tidak memperjuangkan kamu. Tapi aku tetap menjaga cintamu,” kata Muharman.
Ombak pecah di pantai, yang menjawab.
***
Umaya menatap perempuan renta di atas dipan. Aroma rajangan pandan dan minyak kelapa menguar bercampur keringat yang mengendap. Sepertinya ia berusaha keras menghela napas untuk berbicara.
“Aku minta maaf, telah merepotkan kau. Seharusnya aku menyampaikan ini di hari keempat puluh bapakmu dimakamkan. Gubuk kecil dan sebidang kebun kelapa ini milik bapakmu. Diwariskan kepadamu sebagai anak satu-satunya. Aku tidak menyampaikan kepada ibumu. Bahkan ketika aku mendengar kau butuh uang untuk pernikahanmu,” ujarnya, tersengal-sengal.
“Aku telah menempati rumah dan tanah ini cukup lama. Aku ingin mengembalikan milikmu. Ema telah aku beri pengertian untuk menumpang di tanah orang yang mau menerimanya, sampai suaminya kembali dari lautan. Padahal, aku tak yakin orang yang lenyap ditelan badai laut akan kembali.”
Sekarang segalanya telah jelas. Semua perjalanan yang dilakukannya tunai sudah.
“Aku harus segera pergi dari kampung ini, Muharman,” ucap Umaya, setelah berpamitan kepada Mande Rubiah dan Ema.
“Kau tidak menyaksikan Festival Tabuik? Aku akan carikan penginapan yang bagus,” ucap Muharman. Sebagai seorang petinggi di pemerintahan setempat, tentu mudah saja baginya.
“Aku minta tolong urusi semua dokumen tentang rumah dan tanah itu. Jadikan semua milik Mande Rubiah.”
“Kau tidak ingin bercakap-cakap dulu denganku? Sebentar lagi hari malam,” bujuk Muharman.
Umaya menarik lengan Putik. Gadis itu terlihat bingung. Ia menolak dengan memberikan gerakan isyarat dan bunyi-bunyi redam. Umaya menjelaskan dengan gerakan isyarat juga. Umaya tak ingin Muharman terlalu lama memandang anaknya yang bisu itu.
“Kau tahu aku selalu menunggumu, hingga kini,” kata Muharman, penuh bujukan.
“Aku harus menyelesaikan urusanku di Jakarta, dengan suamiku. Lagi pula, aku tak mau kau menyakiti istrimu,” sahut Umaya.
Setelah itu, mobil sewaan Umaya beranjak dari halaman rumah panggung itu. Pucuk pohon manggis bergoyang ditiup angin dari laut. Umaya menyusut air matanya yang jatuh tanpa ia sadari. Putik menatap Muharman dari balik kaca mobil. Bentuk bibir, mata, dan alis Putik seperti dikenali oleh lelaki itu, membuat darahnya tersirap. (f)
Topic
#FiksiFemina