Tepat pada ulang tahunnya yang ke-18, Karmila membenturkan dirinya ke kereta, tepat pula ketika itu Susan Norita, biduan organ tunggal yang sedang ditanggap tetangga sebelah Karmila, meneriakkan, “Asyik-asyik jos!” Sontak tubuh gadis berhidung mancung dan berambut hitam panjang sepinggang itu terpental 10 meter ke depan kemudian tercerai-berai setelah digilas-gilas roda ular besi yang melaju 110 km/jam.
Tanyakan saja pada penduduk sekitar yang menyaksikan sendiri betapa kepala Karmila terbang lalu jatuh menggelinding ke salah satu teras rumah warga dan membuat gadis kecil yang sedang bermain boneka Barbie di teras itu menjerit-jerit kemudian pingsan. Sementara darah, jeroan, kaki, tangan, dan anggota tubuh Karmila yang lain telah tercecer-cecer di kedua sisi rel.
Di bawah matahari jam 2 siang, kaus merah hati dan jeans biru yang tadinya utuh membalut tubuh Karmila, kini telah robek-robek dan berubah warna: ada kesan cokelat tua, ungu muda, dan sedikit warna hitam.
Macam-macam tingkah penduduk beberapa menit setelah kejadian itu. Seorang perempuan menangis sambil mengoleskan minyak angin ke hidung anaknya yang belum sadar dari pingsan setelah melihat kepala Karmila menggelinding di dekat boneka Barbie-nya, lima pria mengangkat dan membawa kepala Karmila menuju rel, seorang nenek memanjangkan leher sambil menutup mulutnya ketika melihat kepala Karmila dibawa kelima pria itu, dua lelaki paruh baya mengebut sepeda motornya ke arah kantor polisi yang tak jauh dari stasiun 3, dan sisanya --termasuk lima pria pembawa kepala Karmila tadi-- merubung sambil menutup hidung setelah selesai menyatukan potongan kepala itu dengan bagian tubuh lain dan menutupinya dengan plastik terpal warna merah bata.
SATU JAM sebelum membenturkan dirinya ke kereta, tanpa diketahui satu pun tetangganya --mungkin terhalang sound system dan suara biduan organ tunggal yang membahana-- Karmila telah menghabisi nyawa seorang lelaki. Lelaki yang mayatnya ia biarkan terbujur di dapur, tepat di depan mulut kamar mandi: matanya melotot, mulutnya ternganga, kakinya terbuka, dan darahnya menggenang di kaus juga sarungnya.
Sementara itu, tepat tiga bulan sebelum ulang tahunnya yang ke-18, di dapur, tak jauh dari kamar mandi, ketika Karmila mengiris cabai dan bawang di atas talenan berbahan plastik, ketika itu pula, dengan tubuh berbalut handuk, seorang lelaki tiba-tiba muncul dari kamar mandi dan langsung mendekap tubuh belakang Karmila. “Diam...,” bisiknya. Karmila ingin teriak sekencang mungkin, tapi percuma, sebab tangan kiri lelaki itu sudah lebih dulu membekap mulutnya dan tangan kanannya mencengkeram kuat pinggul Karmila.
Beberapa kali lelaki itu menjilat dan menggigit telinga kiri Karmila. Beberapa kali pula sebenarnya Karmila berusaha meraih tusuk konde di rambutnya, tapi tak bisa, karena kedua pergelangan tangannya sudah dipegang kuat si lelaki. Karmila menangis sambil memejamkan mata ketika lelaki itu merobek selaput daranya di kamar mandi pada pukul 6 pagi.
KARMILA, lima bulan sebelum membenturkan dirinya ke kereta, pernah mendengar ribut-ribut di luar kamarnya. Setelah membuka pintu kamarnya, dengan gerak pelan seolah lantai yang diinjaknya penuh dengan ranjau, ia berjalan berjinjit sambil menahan napas menuju sumber suara. Ia lalu mengintip dari balik tembok yang memisahkan ruang tamu dan ruang TV. Kemudian melihat sendiri betapa pipi Marlia dihujani tamparan dan tinjuan Nasoka.
“Bangsat!” kata Nasoka. Tato naga bertinta biru di punggung kiri Nasoka seolah hidup ketika ia menjambak rambut Marlia, melucuti baju tidurnya, dan memaksa berhubungan badan di atas sofa ruang tamu. Melihat kelakuan Nasoka, Karmila menggigit tiga ujung jari kirinya. Kakinya gemetar saat berjalan kembali ke kamar. Dari balik pintu kamarnya, Karmila mendengar bentakan Nasoka, mendengar asbak beling dibanting, mendengar suara orang meludah, dan terakhir, mendengar isak tangis Marlia. Karmila jongkok sambil memeluk lututnya yang gemetar.
Mula kenapa Nasoka bisa menikah dengan Marlia tak lebih karena suami Marlia yang mati karena kecelakaan mobil --saat itu usia Karmila 17-- menyerahkan Marlia pada Nasoka sebagai istrinya dan Karmila sebagai anaknya. Nasoka adalah sepupu almarhum ayah Karmila.
Suatu pagi --empat bulan sebelum Karmila membenturkan dirinya ke kereta—ketika keluar dari pintu kamar mandi dan hanya mengenakan handuk yang cukup menutupi dada dan lututnya, gadis yang sebentar lagi genap berumur 18 itu berpapasan dengan Nasoka. Sengaja lelaki berperut buncit dan berkepala botak itu menghentikan langkah agar posisinya tepat berhadapan dengan Karmila. Nasoka terus memelototi belahan dada kuning langsat gadis itu, seolah-olah bola mata Nasoka hendak keluar dari kelopaknya.
Karmila bisa pergi setelah Nasoka buru-buru masuk kamar mandi, mungkin tak tahan ingin buang air besar. Dua kali lelaki itu menggoda dengan cara mencubit dagu dan meremas payudara Karmila sampai ikatan handuknya nyaris lepas.
“AKU MAU JADI DOSEN, MAR,” ungkap Karmila, masih di dalam kelas, 30 menit setelah mata kuliah selesai. Marisa menganggukkan kepala sambil berkata, “Keren,” kemudian mengacungkan sepasang jempol tangannya untuk Karmila.
“Kalau tidak,” imbuh Karmila setelah menyentuh-nyentuhkan ujung telunjuk kiri ke bibir bawahnya, “seperti yang diceritakan dosen kita tadi.” Karmila berhenti bicara. Beberapa detik ia menatap langit-langit ruang kelas, mengangguk kecil, kemudian melanjutkan, “mengajar di pedalaman seperti Butet Manurung,” katanya mengakhiri percakapan.
Marisa tahu kalau Karmila gemar membaca buku sastra, meminjam dari perpustakaan atau membelinya di toko buku yang tak jauh dari pusat kota. Kepada Marisa, Karmila kerap menceritakan isi novel kesukaannya, Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan.
Karmila tak pernah menceritakan mengapa Margio membunuh Anwar Sadat. Ia justru tertarik menceritakan kelakuan keji Komar bin Syueb, ayah kandung si Margio. Kalau sudah membicarakan Komar, tokoh yang sangat ia benci di novel itu, umpatan Karmila agak sulit berhenti kecuali mulutnya memang sudah capek sendiri.
“Aku senang mayat Komar ditolak bumi,” katanya sambil menatap wajah Marisa. Sedetik kemudian, Karmila menatap lantai dan --dengan bibir bergeming-- ia berkata lirih, “Kuharap Nasoka bernasib sama.”
“Apa, Kar?”
“Ah, tidak.” Karmila sempat memalingkan muka, tapi kemudian ia tatap lagi wajah Marisa dan kemudian berkata, “Maksudku, kalau aku jadi Nuraeni, pasti sudah kubunuh Komar bin Syueb dengan tanganku sendiri!” maki Karmila, empat bulan sebelum usianya genap delapan belas.
Sementara itu, lima bulan sejak prahara di sofa ruang tamu, meski tak pernah lupa memberi kado ulang tahun tiap 2 Mei untuk Karmila, bahkan sering tidur di kamarnya, Marlia tak sungguh-sungguh memperhatikan anak gadisnya. Marlia hanya bicara ketika Karmila minta uang bayar kuliah, minta uang beli buku, dan minta uang saku. Marlia banyak menghabiskan waktu di luar: bolak-balik mengurusi pembagian tanah warisan di kampung halamannya dan menjual perlengkapan bayi di ruko yang ia sewa di pusat kota.
“Kenapa jadi sering murung? Katanya mau mengajar di pedalaman seperti Butet Manurung? Mana buktinya?” cecar Marisa, gadis berkulit sawo matang, sepulang kuliah, satu hari sebelum Karmila membenturkan dirinya ke kereta.
“Enggak jadi. Aku mau jadi dukun santet!” jawab Karmila.
“Kamu enggak sakit kan, Kar?” tanya Marisa.
Karmila tak menggubris pertanyaan Marisa. Ia justru berjalan cepat meninggalkan karibnya itu di tikungan jalan, 100 meter sebelum stasiun 3.
“Kamu kenapa, Sayang?” tanya Haidar Suhada pada pukul 9 pagi ketika melihat Karmila duduk di kursi kayu panjang, di dalam kantin fakultas yang sedang sepi pembeli. Saat itu Karmila tengah mengetuk-ngetukkan ujung tusuk konde kayunya di atas meja makan. Haidar ikut duduk di samping Karmila dan memperhatikan nasi rawon yang masih utuh tak tersentuh.
“Ayo, dimakan. Sebentar lagi kelompok kita presentasi,” sambung Haidar.
”Malas. Aku mau pulang saja,” ujar Karmila, lima jam sebelum ia membenturkan dirinya ke kereta.
“Aku antar.”
“Tidak usah.”
“Pokoknya kuantar.”
“Kubilang tidak, ya tidak!” balas Karmila. Gadis itu berdiri dan menghampiri pemilik kantin, menyodorkan uang dua puluh ribuan, mengambil kembalian, lalu segera pergi.
Haidar Suhada, beberapa menit setelah kekasihnya pergi, masih duduk mematung di bangku kayu panjang. Tubuhnya lemas dan kedua tangannya gemetar memegangi kado ulang tahun yang belum sempat ia berikan.
Nasoka tak lebih dari anjing kurap berbau bacin, begitulah kata ibunya dan akhirnya dibuktikan sendiri oleh Karmila. Gadis itu tak akan lupa bagaimana --setelah selesai memerkosa untuk kedua kalinya, sambil meletakkan ujung pisau ke leher Karmila-- Nasoka mengancam akan membunuh ibunya jika sampai Karmila berani melapor pada polisi. Dan peristiwa itu terjadi dua bulan sebelum mahasiswi jurusan bahasa dan sastra itu membenturkan dirinya ke kereta.
Sampai pada suatu siang, tepat satu jam sebelum Karmila membenturkan dirinya ke kereta, dalam usahanya yang ketiga, Nasoka gagal dan menemui ajal --perut buncitnya dilubangi 5 kali dengan tusuk konde kesayangan Karmila.
Dan dua puluh menit setelah membunuh Nasoka, Karmila sudah mencuci bersih darah di tangannya dan mengganti pakaiannya. Ia berjalan menuju rel kereta, memakai jeans biru dan kaus oblong merah hati. Bahkan sempat melempar senyum ke ibu-ibu tukang masak saat melewati halaman belakang rumah tetangga yang sedang menggelar pesta perkawinan.
Pada saat yang sama, di halaman depan, Karmila mendengar Susan Norita, biduan organ tunggal yang sedang ditanggap tetangganya itu menyanyikan lagu dangdut: /Jug gejak gejuk gejak gejuk/Kereta berangkat/Jug gejak gejuk gejak gejuk/Hatiku gembira. Itulah lagu pengiring sebelum Karmila membenturkan dirinya ke moncong kereta.(f)
*********
Yulizar Fadli