Bagian 2
Duma seorang wanita muda yang sedang patah hati setelah ayahnya meninggal dan pada saat yang bersamaan dikhianati kekasihnya. Duma yang dibesarkan oleh sang ayah, lalu tinggal bersama ibunya yang terasa asing. Untuk meredakan kegalauan hatinya, ia pergi ke Yogyakarta dan di kawasan Kota Tua ia mendapatkan cincin merah delima.
Sambil terus meronta, Duma menatap ke sekelilingnya. Mendadak ia seperti disengat ratusan lebah ketika melihat perubahan yang terjadi di sekelilingnya. Tembok bagian bawah yang berlumut kini telah bersih dan tertutup cat berwarna putih. Demikian pula dengan tembok pagar rumah yang tadinya rusak pada bagian atas, kini telah utuh kembali dengan cat yang terlihat masih baru. Rumah yang tadinya dingin dan sepi, mendadak terasa hangat dan berpenghuni.
Sambil terus membekap mulutnya, pemuda itu menarik tubuh Duma agar melekat erat pada tembok loji. Mata Duma terbelalak lebar ketika melihat dua orang berpakaian serdadu Belanda zaman dahulu sedang berjaga-jaga di depan pintu gerbang.
“Kau harus ikut denganku, melompati tembok benteng belakang loji. Ikuti aku dan tetap tutup mulutmu!”
Keduanya berjalan mengendap-endap sambil terus menempelkan tubuh di tembok rumah. Seorang wanita cantik berpakaian kebaya dengan rambut digelung ukel melongok dari balik jendela. Ia memberi tanda dengan jemari tangannya, seolah ingin mengatakan kepada pemuda itu bahwa keadaan cukup aman. Ada sebatang pohon mangga harum manis yang menjadi penolong Duma dan pemuda itu untuk meloloskan diri dari loji. Bergantian mereka menaiki cabang pohon, untuk kemudian terjun dari atas benteng ke arah luar area loji gedhe.
Pemuda itu mengawal Duma yang melangkah dengan terseok-seok dan napas terengah-engah. Sepertinya pergelangan kaki kirinya terkilir saat terjun dari tembok yang cukup tinggi itu. Cara berjalan pemuda itu sungguh membuatnya merasa tersiksa.
“Hei... bisa berhenti sejenak tidak? Ok aku tawananmu, tapi tidakkah kau melihat kakiku yang sakit ini?”
Pemuda itu terpaksa menghentikan langkahnya.
“Gadis manja! Kalau tadi aku tidak cepat-cepat membekap mulutmu, pasti kau sudah berteriak kepada penghuni loji, bahwa ada inlander masuk ke loji!”
“Apa urusanku dengan penghuni rumah itu? Kenal saja tidak.”
“Jadi siapa kau sebenarnya? Gadis Jawa tidak ada yang berpakaian sepertimu,” tanya pemuda itu dengan tatapan keheranan.
Duma meneliti penampilannya. Hem putih, celana jins biru yang sudah mulai pudar warnanya, tas ransel cokelat tanah. Rasanya tidak ada yang aneh.
“Aku Seorang pelukis, namaku Duma Renata. Tadi aku sedang mengagumi bangunan bekas Dienstwoningen dan berniat untuk menjadikannya sebagai objek lukisanku, ketika....” Duma yang menjawab sambil mengambil ponsel dari saku bajunya, tiba-tiba berteriak kaget, ”Hei... kenapa lagi handphone-ku ini?”
Ponselnya memang bisa dibuka. Namun, saat layar terbuka, yang ada hanya warna biru terang tanpa ada logo atau tulisan apa pun. Dipukul-pukulkannya ponsel itu di telapak tangan kirinya, namun layarnya tetap tidak berubah. Dengan putus asa, disimpannya telepon genggam itu di dalam tas ranselnya.
Duma telah patah arang. Ia jatuh terduduk sambil meluruskan kakinya. Mulutnya meringis begitu menyadari ada yang tidak beres di pergelangan kaki kirinya.
“Jangan mencoba mengecohku dengan pura-pura mengeluarkan benda aneh itu! Berterus teranglah, ada hubungan apa antara kau dengan keluarga Tuan Pieter Van Carl?”
“Pieter Van Carl? Siapa dia?”
“Kepala Administrateur Suiker Fabriek Sewoe Galoer. Dia yang menggantikan Tuan Lebovich sejak tahun 1908. Dan Tuan Carl lebih kejam daripada pendahulunya.”
“Apa? Tahun 1908?”
“Ya, sejak 5 tahun lalu.”
Duma seperti tersengat ribuan kalajengking ketika mendengar jawaban-jawaban dari pemuda itu. Tiba-tiba bulu kuduknya merinding saat ia mulai menyadari bahwa ia mungkin telah tersesat pada sebuah lorong waktu. Semua mungkin karena benda yang kini melingkar di jari manis tangan kanannya. Saat perhatiannya terfokus pada dirinya sendiri yang tengah memakai cincin merah delima, waktu di dalam dirinya seolah berhenti berputar. Tetapi waktu di sekeliling dirinya justru tengah berjalan mundur. Dengan begitu cepat….
Dengan panik dan gemetar Duma mengamat-amati cincin yang dipakainya. Keringatnya bagai manik-manik batu permata bening, menghiasi wajahnya yang dilanda kecemasan. Ia baru saja berniat untuk melepaskan cincin merah delima itu dari jari manis tangan kanannya, ketika tiba-tiba pemuda itu kembali menyergap dan memegangi kedua tangan Duma, mencegah gadis itu berbuat sesuatu.
“Hei... kau mau membuat tipuan apa lagi dengan tingkahmu ini?”
“Siapa pun kau, kau harus percaya bahwa aku seharusnya hidup di tahun 2015 dan... dan... cincin yang kupakai sepertinya yang telah membawaku jauh ke masa lalu... ugh.... ” Duma meronta-ronta ingin melepaskan diri dari cekalan pemuda itu.
“Kau pikir aku akan percaya dengan kebohonganmu? Ethok-etok ngedan, wes biasa kuwi (pura-pura gila, sudah biasa itu),” cibir pemuda itu.
“Lepaskan dulu tanganku, kau pasti juga akan shock, jika kutunjukkan sebuah bukti bahwa aku memang datang dari tahun 2015!” teriak Duma sambil meronta.
Dengan sedikit ragu, pemuda itu melepaskan cekalan tangannya. Duma lalu membuka tasnya, mengeluarkan sebuah surat kabar yang baru saja dibelinya pagi-pagi sebelum berangkat ke Kota Tua. Dan pemuda itu terpana. Dipandangnya Duma dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. Lalu ia kembali meneliti surat kabar di tangannya. Hari dan tanggalnya begitu jelas. Jumat Kliwon, 20 Pebruari 2015.
“Jadi... kau...?” tanya pemuda itu sambil menunjuk ke arah Duma seperti melihat hantu di siang bolong.
“Sekarang baru percaya, ‘kan? Sekarang gantian kau yang cerita. Kau sendiri siapa? Dan kenapa begitu khawatir saat berada di gedung bekas Dienstwoningen itu?”
“Namaku Danurwendo. Aku pribumi yang memimpin gerakan bawah tanah di wilayah Ngayogyokarto bagian barat,” jawab Danur, setelah bisa sedikit menghilangkan rasa keterkejutannya.
Danurwendo? Sepertinya Duma pernah mendengar nama itu disebutkan oleh bapak tua penjual cincin. Tapi, mungkinkah? Duma tercengang dalam keheranan yang mengungkungnya.
“Gerakan bawah tanah? Maksudmu?”
“Sudah, sebaiknya kita tidak membicarakan hal itu di sini! Terlalu berbahaya, Diajeng. Kita harus secepatnya kembali ke rumah Pak Lik Hendras!”
“Tapi, aku tidak kuat lagi berjalan. Kakiku terkilir!”
Dengan tak sabar, Danur meraih tubuh Duma dan membawa ke dalam gendongannya.
“Eh.. eh... ini apa-apaan Danur aw... aw... aduuuh,” teriak Duma panik, sambil memukul-mukul punggung Danur.
“Sssttt.... Diamlah, tidak usah ngeyel!” ucap Danur agak kesal.
Mula-mula memang Duma ingin memberontak. Tapi, karena sakit yang dirasakan di pergelangan kakinya makin menjadi, maka ia pun menyerah. Menempel pasrah di punggung tegap milik Danur.
Sejak menjalani LDR selama kurang lebih tiga tahun dengan Glen, Duma tak pernah berada sedekat ini dengan seorang lelaki. Dan aroma tubuh Danurwendo sungguh berbeda dengan Glen yang menyukai parfum yang didominasi aroma bunga lili. Aroma keringat Danur mengingatkan Duma pada aroma tanah lembap, uap air yang mengembun, juga udara yang menguarkan aroma bunga ilalang. Cuping hidungnya bergerak perlahan saat Duma menghela napas panjang dengan nyaman. Mendadak kedua pipinya jadi memerah dadu karena malu. Beruntung, Danur tidak melihat perubahan rona wajahnya itu.
Danur berjalan dengan cepat, menyusuri semak belukar dan ladang-ladang tebu. Sementara itu di kejauhan, asap dari pabrik tebu menggeliat naik, seolah ingin merusak birunya langit dengan warna jelaganya.
***
Duma meringis-ringis kesakitan, merasakan pijatan di kaki kirinya. Namun, bau rempah-rempah yang membaluri sekujur kakinya terasa menenangkan. Ia jadi merasa seperti seorang putri keraton yang tengah menjalani perawatan khusus.
“Masih sakit Mas Ayu?”
“Sedikit, Mbok Cilik, duuh....”
Danurwendo menunggui dengan sabar, Duma yang sedang dipijat oleh Mbok Cilik Hendras. Sebetulnya Danur sudah tak sabar ingin menanyakan lebih lanjut tentang cincin merah delima yang menghiasi jari manis Duma. Juga kedatangannya yang tiba-tiba di loji gedhe milik Tuan Carl. Maka, ketika Mbok Cilik Hendras berlalu untuk membersihkan diri, Danur segera menyerang Duma dengan berbagai pertanyaan.
“Ceritamu tadi belum lengkap. Jadi sebetulnya Diajeng itu siapa?” tanya Danur dengan bahasa yang lebih halus.
“Sebentar... sebentar. Kau harus memberi tahu aku dulu. Ini hari apa, tanggal berapa, juga bulan dan tahunnya! Aku masih belum yakin dengan apa yang kualami,” tukas Duma balik bertanya.
“Oh My God... jadi semua yang kualami ini nyata? It’s impossible!”
Duma beberapa kali mencubit lengannya sendiri untuk meyakinkan bahwa yang dialaminya bukanlah mimpi.
“Dari ceritamu tadi sempat aku tangkap bahwa cincin di jari manismu penyebab semua keanehan yang kau alami. Ceritakanlah!”
Mata Duma menerawang jauh, ketika ia memulai ceritanya. Tentang kesedihannya karena dikhianati oleh sang kekasih, tentang kekesalannya kepada sang mama, sehingga membawa langkahnya dari Jakarta ke Kota Tua. Lalu ia bertemu dengan laki-laki tua yang menawarkan cincin. Ketika cincin itu dipakainya, tiba-tiba keadaan di sekitarnya menjadi berubah. Entah kenapa, ia begitu saja memercayakan kisah hidupnya kepada lelaki yang baru saja dijumpainya.
“Terkadang ada hal-hal yang sulit diterima nalar, dan kita hanya dituntut untuk percaya saja, Diajeng.”
Duma mengangguk.
“Kalau kau memang berasal dari masa depan, bisakah Diajeng ceritakan tentang masa depan bangsa ini? Apakah penjajah Belanda akan pergi dari bumi pertiwi? Bagaimanakah dengan nasib perjuanganku sendiri?”
Duma terdiam. Ingatan kepada cerita pak tua penjual cincin itu seolah telah mengunci bibirnya rapat-rapat. Jika Danur yang sekarang ada di depannya adalah Danur yang diceritakan oleh pak tua itu, maka itu berarti....
“Diajeng... kenapa terdiam?”
“Entahlah kamu bisa memercayaiku atau tidak. Yang jelas Belanda akan pergi setelah kekalahannya dalam Perang Dunia II pada tahun 1942. Lalu datanglah bangsa Jepang. Mereka juga menjajah bangsa kita, tapi tak lama....”
“Aku pernah mendengar ramalan Jayabaya yang persis seperti ceritamu, Diajeng. Bulan kemarin, aku membaca majalah Het Tijdschrift. Majalah itu memuat tulisan Raden Nitiprojo yang mengulas tentang ramalan Jayabaya. Bahwa akan datang orang kate berkulit kuning yang akan menggantikan Belanda untuk menjajah kita. Namun tidak lama, hanya seumur jagung....”
“Jadi ramalan itu memang benar-benar ada?” Mata Duma terbelalak.
“Lupakan sejenak tentang ramalan itu. Yang jelas, kalau kau memang bisa datang ke tempat ini karena cincin yang kau pakai itu, maka aku....”
“Kenapa?” tanya Duma seperti tak sabar menunggu kata-kata yang akan keluar dari bibir lelaki itu.
“Aku ingin agar kau tidak pernah melepas cincin itu, Diajeng.”
Mata Duma terbelalak menatap lelaki di depannya. Tiba-tiba ada desir halus yang menelusup dan menghangatkan perasaannya.
@@@
Lelaki yang telah membawanya keluar dari loji milik Tuan Carl itu ternyata seorang bangsawan Jawa. Ia adalah Raden Danurwendo, putra seorang wedana dari Kawedanan Girimulyo. Selama ini, ia menyamar menjadi pemimpin perkumpulan tayub Roro Mentul. Ia berkelana dari desa ke desa, njajah deso milang kori untuk menyebarkan semangat antipenjajah. Ia tinggal di rumah Pak Lik Hendrasworo, pamannya yang menjadi wedana di Kawedanan Banaran. Tujuan utamanya ingin membobol gudang senjata milik Belanda yang konon disimpan di suatu tempat di dalam pabrik tebu.
Memang tahun 1908 telah didirikan organisasi Boedi Oetomo, disusul oleh organisasi Sjarikat Islam, 3 tahun setelahnya. Kedua organisasi itu memperjuangkan kemerdekaan lewat jalur moderat yang lebih kooperatif. Namun, perjuangan arus bawah dari rakyat jelata atau ‘wong cilik’ juga terus berjalan. Salah satu spesifikasi dari tugas kelompok tayub Roro Mentul adalah mencuri senjata dari gudang persenjataan Belanda, untuk diserahkan kepada para pejuang.
Danur dan Duma sedang berada di pendopo Kawedanan Banaran. Bangunan berbentuk joglo dengan 4 tiang penyangga itu biasanya digunakan untuk menemui tetamu, bermusyawarah, atau mendengarkan keluh kesah rakyat jelata yang datang ke kawedanan. Namun, pada hari-hari tertentu pendopo itu digunakan juga untuk latihan menabuh gamelan dan menari oleh kelompok tayub Roro Mentul.
Perkumpulan tayub Roro Mentul baru saja kehilangan penarinya, Sri Moelatsih, yang telah menemukan jodohnya dan menikah. Mengingat bahwa syarat seorang penari tayub haruslah seorang perawan, maka Danur membujuk Duma agar mau menggantikan Sri, menjadi penari tayub. Duma tampak kedodoran mengenakan kebaya milik Mbok Cilik Hendras. Langkahnya tampak kaku saat harus menyesuaikan diri dengan jarit yang melilit tubuhnya.
“Umur 16 tahun sudah harus menikah, dan Sri mau dipaksa menikah?” tanya Duma, sambil meleletkan lidahnya tak habis mengerti.
“Gadis seusiamu, kalau hanya berasal dari rakyat jelata seharusnya juga sudah menggendong tenggok atau keranjang bambu, Diajeng. Berjualan di pasar mencari laba beberapa sen untuk menghidupi anak-anaknya.”
“Perempuan juga harus bekerja?”
“Keadaan sekarang makin sulit, Diajeng. Kita tak bisa mengandalkan hasil pertanian. Kau tahu sendiri kan, sawah-sawah di sini sudah digunakan oleh Belanda untuk menanam tebu? Para suami hanya punya 2 pilihan, menjadi buruh pabrik yang diperas tenaganya atau mengikuti gerakan bawah tanah, berjuang menyebarkan semangat antipenjajah. Tentu saja seorang istri harus bekerja untuk menghidupi anak-anaknya, saat suaminya tengah berjuang membela negara,” ucap Danur dengan raut sedih.
“Jadi usia 23 tahun seharusnya sudah menimang anak dan bekerja, ya?” tanya Duma seolah kepada dirinya sendiri.
Danur tersenyum saat berkata, ”Tentu tidak, kalau kau berasal dari golongan bangsawan. Biasanya, sejak memasuki akil balik, kau akan dipingit untuk menantikan jodoh yang akan dipilihkan oleh ayahmu.”
Duma manggut-manggut, berusaha mengerti. Mungkin kalau ia dipingit, ia tidak akan mengenal Glen dan merasakan sakitnya dikhianati oleh Glen. Pikiran Duma tiba-tiba melantur.
“Ayo, kita berlatih menari lagi, Diajeng. Mendhak-mu tadi kurang sempurna. Gerakan jemarimu saat ngithing, nyempurit dan ngeruji juga masih kaku. Gerakan seblak sampur seharusnya bersamaan dengan saat gong ditabuh!” ucap Danur, menyadarkan Duma dari lamunan.
“Gerakannya susah, Danur. Aku bukan seorang penari!” teriak Duma putus asa.
“Ternyata, selain tidak tahu tata krama, kau juga seorang gadis yang keras kepala dan cepat putus asa, Diajeng!” ucap Danur, agak kesal.
“Apa maksudmu mengatakan bahwa aku tidak tahu tata krama?” tanya Duma, sengit.
“Menurut adat Jawa, seseorang yang lebih muda seharusnya memanggil kangmas kepada lelaki yang lebih tua. Aku menghormatimu dengan memanggil diajeng. Kau selalu saja njangkar dengan langsung menyebut namaku. Itu ora ilok... tidak baik, Diajeng!”
“Iya… iya… Kangmas Danur, bisakah Kangmas mengajarkan gerakan menari ini dengan lebih sederhana?” tanya Duma, sambil melirik kesal.
Danur tersenyum sesaat. Matanya yang bersinar-sinar mendadak menjadi teduh saat melayari wajah gadis itu. Lalu ia segera berdiri di depan Duma untuk memberikan contoh-contoh gerakan tari Jawa yang lemah gemulai.
Kesibukan Duma mempelajari gerakan-gerakan dalam tarian tayub perlahan-lahan bisa membuat gadis itu melupakan kepedihannya atas pengkhianatan Glen. Terasa klise kalimat yang mengatakan bahwa ‘waktu bisa menyembuhkan luka’. Namun, terasa betul kebenaran dari kutipan seorang motivator yang sering muncul di salah satu stasiun televisi swasta. Meskipun tidak mudah, obat terbaik bagi luka patah hati adalah jatuh cinta lagi2).
***
- MARIA CORIE ABABELL
Hari ini ia akan meminta jongos Pawiro untuk mengantarkannya ke Kawedanan Banaran. Ia ingin belajar menari Jawa kepada Raden Danurwendo. Ah, ingatan kepada lelaki muda itu selalu saja bisa membuat kedua pipinya berubah menjadi merah. Danur berbeda dari lelaki Jawa kebanyakan. Ia begitu memesona dengan kulitnya yang kecokelatan dan matanya yang bersinar-sinar. Danur tidak pernah menundukkan muka ketika sedang berbicara dengan papinya. Jadi, Corie selalu menyebut Danur sebagai seorang inlander yang berani.
Kereta berkuda itu sudah bersiap di halaman depan, menunggu untuk dinaiki oleh yang empunya kereta. Corie adalah putri tunggal Tuan Pieter Van Carl, Kepala Administrateur Suiker Fabriek Sewoe Galoer. Tuan Carl sudah melarang putrinya agar jangan sering-sering bergaul dengan inlander. Tetapi, Corie selalu memberontak. Ia jatuh cinta pada kebudayaan Jawa, terutama tariannya. Sangat eksotis dan cenderung berbau magis. Sangat berbeda dengan gerakan dansa yang selama ini dipelajarinya. Perkenalannya dengan Danur saat pesta merayakan panen tebu pada musim panen tahun lalu, telah menumbuhkan benih-benih yang terus tumbuh di hati gadis bermata biru itu.
“Bibi Giyah!”
“Saya, Nona Corie....” Mbok Cilik Giyah menunduk dengan takzim di depan majikannya.
Sebetulnya, Corie bisa saja memanggil pembantunya itu dengan sebutan Baboe Giyah, karena memang Soegiyah awalnya adalah pembantu di loji itu. Namun, Corie tahu sendiri bahwa Soegiyah sering digelandang oleh papinya masuk ke dalam kamar. Corie tidak bisa memprotes tindakan papinya itu. Bagaimanapun juga, perempuan Belanda adalah warga kelas dua. Ia tak punya hak untuk mengomentari apa pun tindakan papinya yang merupakan warga kelas satu. Sejak itu, Soegiyah naik derajat menjadi seorang nyai. Untuk menghormati kedudukannya, Corie memanggil Soegiyah dengan sebutan bibi.
“Tolong kamu orang ambilkan Ik payung! Tampaknya hari sedikit panas.”
Perempuan berkebaya brokat itu segera pergi mengambilkan payung. Sebuah payung berhiaskan renda diterimanya. Payung harus selalu disiapkannya untuk berjaga-jaga. Akhir-akhir ini cuaca seolah kurang bersahabat untuk seorang kulit putih seperti dirinya. Kalau tidak panas terik, hujan bisa datang menderas kapan saja.
Corie tersenyum lega. Hari ini ia bisa pergi ke Kawedanan Banaran tanpa sepengetahuan papinya. Tuan Carl sedang pergi ke Semarang untuk suatu urusan. (Bersambung)
Utami Panca Dewi
Pemenang 2 Sayembara Cerber Femina 2016
Topic
#FiksiFemina