Maret datang lagi setelah sebelas bulan pergi. Salju perlahan cair pertanda musim dingin telah berakhir. Warga Moskow menyambut Maret seperti pahlawan: bulan yang membebaskan tubuh-tubuh dari jajahan winter coat, parka tebal, sepatu boot, sarung tangan, kaus kaki setinggi lutut, topi musim dingin, dan syal rajut.
Pagi ini, aku bangun lebih awal setelah menerima pesan dari Elizaveta, atasanku di kantor. Katanya, siang ini Komunitas Pelangi kembali akan menggelar unjuk rasa di depan State Duma, Gedung Majelis Rendah Rusia. Ini adalah unjuk rasa untuk kesekian kalinya tahun ini. Tapi, kata Elizaveta, kali ini adalah yang paling terencana, dan sepertinya akan diikuti lebih banyak massa.
Sebelum mandi, aku berjalan malas ke dekat jendela, menyingkap tirai, dan menikmati semburat matahari pagi yang nyaris pudar selama musim dingin.
Perempuan itu! Hmm… sejak musim dingin datang empat bulan lalu, rumah di seberang rumahku memang ditempati penghuni baru: perempuan itu. Kutaksir ia lebih muda atau mungkin seusia denganku, dan sepertinya ia tinggal sendiri di rumah itu. Sayang, kami belum sempat berkenalan.
Hampir tiap pagi perempuan itu menunggu taksi di depan rumahnya. Seperti pagi ini, ia juga tengah berada di sana. Bedanya, jika selama musim dingin ia selalu dikepung winter coat atau parka tebal, maka hari ini, di awal musim semi, ia terlihat santai dengan baju rajut dan celana jins biru muda. Jika ada yang tak berubah, tentu saja syal merah tua yang masih melingkar di lehernya.
Seperti biasa, aku membiarkan --atau mungkin menikmati-- waktu-waktuku tersita demi memperhatikan gerak-gerik dan rangkum fisik perempuan itu. Paling tidak hingga taksi membawanya pergi.
10:00
"Danil, kau sudah baca pesanku, bukan?" terdengar suara Elizaveta. “Kau harus sampai di State Duma sebelum pukul satu,” katanya, saat berhenti sejenak di mejaku. Aku menaikkan alis. “Ingat, Danil. Sebelum pukul satu!” ia nyinyir lagi.
Komunitas Pelangi memang getol menyuarakan penolakan mereka terhadap rencana penetapan undang-undang pelarangan kebebasan mencintai, yang saat ini tengah dirumuskan oleh Majelis Rendah Rusia. Seperti kubilang tadi, ini sudah unjuk rasa kesekian kalinya tahun ini.
Sembari menunggu pukul dua belas sebelum meluncur ke State Duma, kugali-gali informasi di internet tentang perkembangan Komunitas Pelangi di negara lain, terutama di negara-negara yang telah mengakui keberadaan mereka.
Satu jam dan segelas kopi pun berlalu. Saat aku menutup laman pencarian di komputer, Krhisto, salah seorang staf di redaksi, datang mengusikku.
“Malam yang buruk bagi Zenit segera tiba. Oh, Danill! Lelaki Zenit yang menggantungkan hidup pada Moskow. Kadang terpaksa memasang tampang manis saat mewawancarai pemain Spartac, padahal hatinya sakit tiap kali Zenit terjungkal di Luzhniki… ha… ha…ha….”
Aku menahan diri mendengar bualan Krhisto; si berengsek yang merasa di atas angin karena Spartac Moskow akan menjamu Zenit Saint Petersburg malam ini, di hadapan ribuan pendukungnya di Stadion Luzhniki. Kabarnya, sudah 75 ribu tiket terjual.
Laga yang mempertemukan Spartac Moskow dan Zenit Saint Petersburg bukan sekadar adu taktik antarpelatih, adu serang antarpemain, atau adu pukul antarpendukung. Lebih dari itu, harga diri orang Moskow seperti Krhisto, dan harga diri orang Zenit seperti diriku, dipertaruhkan pada laga itu.
Selain Elizaveta, memang hanya aku orang Zenit di kantor ini. Dan sesuai tradisi, aku tumbuh sebagai pendukung setia Zenit Saint Petersburg. Tidak seperti Elizaveta, seorang Zenit yang menyeberang ke kubu Spartac. Lucunya, konon, Elizaveta berkhianat pada Zenit setelah memergoki pacarnya selingkuh, dan pacarnya itu staff media officer di Zenit Saint Petersburg.
12:48
Aku bersama Josh duduk di salah satu bangku taman di depan State Duma. Josh adalah kontributor berita untuk salah satu stasiun televisi di Jerman.
Musim semi membuat banyak bangku taman yang terisi. Di pojok sana, sebuah bangku panjang dihuni oleh tiga orang, satu di antara mereka asik membaca buku, dan sama sekali tak peduli pada sepasang kekasih yang berciuman di sampingnya. Di lain pojok, seorang nenek bergantian menjilati es krim dengan anjing yang duduk di pangkuannya.
“Musim semi, dan Moskow lebih bergairah,” kata Josh setengah berteriak.
"Bagaimana menurutmu,” ujarku menanyai pendapat Josh tentang upaya unjuk rasa Komunitas Pelangi. “Mereka akan berhasil?"
"Buang-buang waktu."
"Majelis Rendah Rusia. Siapa lagi menurutmu?” kata Josh balik bertanya. “Suatu waktu, entah kapan, komunitas ini akan diakui. Suatu waktu. Mereka kuat. Setidaknya mereka disokong dana yang kuat. Kita hanya…" Kalimat Josh terpotong saat kami melihat tiga unit bus berhenti di depan State Duma, lalu puluhan orang, lelaki dan perempuan, turun bergantian dari bus itu, beberapa di antara mereka langsung mengibarkan bendera penuh warna. Komunitas Pelangi telah tiba.
Aku dan Josh bergerak menuju kerumunan pengunjuk rasa. Beberapa rekan kami sesama wartawan juga telah tiba di lokasi itu, dan mulai mengambil gambar. Setelah merasa cukup, kami sepakat mewawancarai seseorang.
Lelaki itu mengenakan kemeja putih dan dasi biru. Pergelangan tangan kanannya dilingkari jam tangan mahal, sementara pergelangan tangannya yang lain dibalut gelang bermotif pelangi.
"Sudah saatnya Rusia setara dengan negara maju lainnya. Termasuk untuk urusan seperti ini. Kami hanya perlu dihargai karena ini adalah pilihan dari hati kami," kata lelaki itu berapi-api.
"Lalu apa yang kalian inginkan melalui aksi ini?" tanya Josh padanya.
"Buang rumusan undang-undang sampah itu ke toilet. Majelis Rendah seperti sekumpulan manusia tolol karena mengerjakan hal yang tak perlu."
Beberapa di antara kami terus melancarkan pertanyaan pada lelaki bergelang pelangi itu. Tapi tiba-tiba, seorang lelaki berjaket hitam datang dari belakang punggungnya, menenteng sebotol mineral yang kemudian secepat kilat mengguyurkan isinya ke kepala lelaki bergelang pelangi. Tak cukup sampai di situ, sebutir telur busuk kemudian pecah di kepalanya. Bau busuk menguar. Aku, Josh dan wartawan lain menghindar sambil terus mengambil gambar.
“Sadarlah kalian. Sadarlah. Rusia mengutuk kalian. Rusia mengutuk!” teriak lelaki berjaket hitam itu.
Lelaki bergelang pelangi itu tampak sangat marah, ia bergegas mengepalkan tangan dan sejurus melayangkan tinju ke wajah lelaki berjaket hitam. Pukulan itu mendarat mulus.
Tiba-tiba puluhan lelaki berjaket hitam lainnya datang dan mengepung lelaki bergelang pelangi. Tanpa basa-basi, mereka hujani lelaki bergelang pelangi itu dengan pukulan. Bertubi-tubi. Pengeroyokan itu baru berhenti saat empat orang polisi datang menghalangi. Lelaki bergelang pelangi itu diarak menuju bus anti huru-hara yang diparkir di salah satu sudut gedung State Duma.
Ternyata agenda Komunitas Pelangi telah terendus oleh kelompok-kelompok yang menolak keberadaan mereka. Bukan saja puluhan lelaki berjaket hitam itu, melainkan ratusan orang lain juga telah bersiaga di sekitar State Duma untuk menghalau pengunjuk rasa.
Aku, Josh, dan wartawan lain sepakat mencari narasumber lain untuk diwawancarai, dan kami menjatuhkan pilihan pada seorang perempuan yang tubuhnya sengaja diselimuti bendera pelangi.
Mulanya aku berdiri di barisan paling belakang, terhalang punggung wartawan lain, dan tidak mendengar dengan jelas apa yang dikatakan narasumber itu. Jadi, tak ada pilihan lain bagiku selain merangsek ke depan.
Dan aku terkejut.
Ternyata perempuan yang kami wawancarai adalah perempuan yang tinggal di seberang rumahku, yang gerak-geriknya saat menunggu taksi kerap menyita waktuku. Ah, untuk apa dia berada di tengah kerumunan ini? Ah, kenapa bendera pelangi itu menyelimuti baju rajut biru muda yang dikenakannya tadi pagi?
"Hak kami sebagai warga negara Rusia telah dirampas. Kami cuma ingin bebas!" Sambil terus terpana, tetap kurekam kata-katanya.
Beberapa saat kemudian, seorang perempuan gemuk mendekat dari arah punggung perempuan di seberang rumah. Perempuan gemuk itu menenteng air dalam ember kecil.
Jangan! Aku membatin --hanya itu yang bisa kulakukan-- sesaat sebelum perempuan gemuk itu mengguyurkan air ke kepala perempuan di seberang rumah.
Bukan itu saja, perempuan gemuk itu lalu menyentak bendera pelangi yang menyelimuti tubuh perempuan di seberang rumah itu. Tarik-menarik pun terjadi. Aku, Josh dan wartawan lain terus mengambil gambar. Dan, Srkkk…, bendera itu robek jadi dua bagian. Beberapa saat kemudian dua polisi datang, dan membopong perempuan di seberang rumah itu untuk diamankan.
***
*CERITA ini terinspirasi dari video yang diunggah Akun Ruptly TV di kanal Youtube dengan judul Russia: Gay activists overwhelmed by the force of hatred.
Juli Ishaq Putra
Finalis Sayembara Cerpen Femina 2016
Cek koleksi fiksi femina lainnya di:
http://www.femina.co.id/fiction/
Topic
#FiksiFemina