Pendeta mulai mengajak semua bernyanyi. Aku tak turut bernyanyi. Aku kepanasan, aku sesak napas. Aku butuh udara segar.
Kalau aku tak keluar, aku takut akan pingsan dan merusak acara ini.
Aku keluar.
Setengah berlari aku menuju toilet. Sebab sekarang aku merasa ingin muntah. Tapi, tak ada yang dimuntahkan, sebab aku tak sedang sakit. Aku hanya sedang panik.
Di samping kantor gereja aku berhenti sebentar untuk menenangkan diri. Ada bangku di situ, jadi aku duduk saja.
“Apa kabar, Rian?”
Aku terlonjak dari kursiku karena terlalu terkejut. Suara itu datang dari arah pilar di sebelah kananku. Begitu melihat sumber suara itu, aku bersandar lemas ke dinding. Akhirnya aku harus menghadapinya juga.
Aku diam saja. Tak bertenaga untuk menjawab sapaannya.
“Sepertinya pelarianmu tak banyak gunanya,” dia berbicara lagi.
Aku tetap tak bersuara.
“Sampai kapan kau akan lari?” sambungnya.
Kukumpulkan kekuatan untuk menjawabnya.
“Siapa bilang aku lari? Atau, kau berpikir begitu karena kau mengejarku?”
“Ya, kau benar. Aku pergi untuk menghukum diriku sendiri. Apa kau puas mendengar itu?” Kuucapkan kalimat itu sedatar mungkin. Aku capek terus-menerus menangis di depannya. Lagi pula, setahun lebih sudah berlalu.
“Bisakah kau merasa puas, ketika orang yang kau cintai malah pergi meninggalkanmu?” Suaranya melembut.
“Kau carilah sendiri jawabannya. Aku tak punya urusan dengan itu. Satu lagi, jangan terus mengungkit masa lalu. Aku ke sini hanya untuk menghadiri pernikahan adikku,” sahutku gusar.
Dia memandangku tajam.
“Kalau kau merasa tak ada yang salah di masa lalu, mengapa kau takut bertemu denganku? Mengapa kau harus melarang adikmu memberi tahu alamat dan teleponmu?” Suaranya ringan sekali, seolah kekasaranku tak memengaruhinya sedikit pun.
“Apa kau pikir hanya kesalahan yang bisa membuat orang tak suka mengingat masa lalunya?” sambutku marah.
“Apa kau pikir, dalam kasusmu ini, kau punya sebab lain yang lebih masuk akal? Sebab, jika kau memang tidak menganggap dirimu bersalah, mengapa kau harus menghukum dirimu sendiri?” Dia terus menantangku. Wajahku merah padam, dia memakai kata-kataku untuk menjadi senjata melawanku.
“Menurutmu, apa kesalahanku yang harus kuakui padamu, supaya kau bisa membiarkan aku tenang?” Suaraku melemah. Dari dulu aku tak suka bersoal jawab seperti ini. Jika dengan melunak, aku bisa membuatnya berhenti mencecarku, akan kulakukan.
“Kau tahu, kau masih berutang padaku.” Matanya bersinar-sinar sambil mengucapkan itu. Mungkin dia senang melihatku menyerah.
“Aku berutang apa padamu?! Oh, apa kau lupa bahwa aku sudah minta maaf padamu soal Parulian? Apa kau ingin aku mengulanginya lagi? Baik, aku akan mengulanginya,” kataku getir. Aku teringat malam berhujan deras itu, ketika dia pergi begitu saja dan berhenti menghubungiku.
“Aku memang sangat marah waktu itu. Tapi, apa tidak pantas kalau aku marah? Dua kali aku ingin bicara serius tentang pernikahan denganmu, tapi semuanya rusak karena Parulian. Laki-laki mana yang bisa tenang saja melihat perempuan yang ingin dinikahinya malah terus-menerus sibuk menangisi bekas pacarnya?”
Ucapannya barusan akhirnya membuatku bergetar. Aku ingat, dulu aku adalah perempuan yang ingin dinikahinya….
“Karena itu kau tak pernah menghubungiku lagi, juga tidak mengangkat teleponku,” aku mengenang dengan air mata yang mulai menetes.
Topic
#fiksifemina