Family
3 Pakar Bicara Tantangan Keluarga Modern

7 Oct 2021

Tiap generasi memiliki ciri khas, keunikan, dan nilai-nilai sendiri, yang biasanya ada pergeseran dari generasi sebelumnya. Tiap generasi juga merasa modern di masanya. Tumbuh sesuai zamannya, dan memperbaiki diri dari generasi sebelumnya. Banyak hal yang memengaruhi hal tersebut, baik dari sisi sosial, ekonomi, pendidikan, hingga digital.

Bicara topik Keluarga Modern di sesi conference ajang Indonesian Women’s Forum (IWF) 2021, hari ketiga, yang berlangsung pada Rabu (29/9/2021)  3 pakar mengungkap fakta dan sudut pandang mereka, dikaitkan dengan kondisi kekinian di masa pandemi. Sepasang suami istri milenial juga hadir untuk berbagi pengalaman mereka. Diskusi panel ini dipandu Tenik Hartono, PJ Editor in Chief Ayahbunda dan Parenting Indonesia.

Keluarga Modern Berperspektif Keadilan Gender 

Apakah makna keluarga modern? Apakah kebalikan keluarga modern adalah keluarga tradisional? Dua pertanyaan ini mencuat di awal, menggiring paparan dan diskusi lebih dalam. Secara gamblang, Dr. Atnike Nova Sigiro, M.Sc, peneliti di Jurnal Perempuan, menampik bahwa keluarga modern adalah kebalikan dari keluarga tradisional. 

“Karena tidak semua tradisi itu bersifat negatif. Saya mau melihat keluarga modern sebagai suatu kebaruan, perkembangan positif dalam kehidupan keluarga,” kata Atnike. 

Dalam pandangan umum, menurut Atnike, terdapat beberapa stereotip konsep keluarga yang berlaku selama ini. Pertama, yang paling umum, keluarga adalah unit reproduksi biologis: menikah, mempunyai anak. Kedua, keluarga adalah unit ekonomi, artinya keluarga adalah satu unit yang harus produktif secara ekonomi. Ada orang yang bertugas mencari uang dan menafkahi keluarga. “Cara pandang ini menempatkan laki-laki bertugas mencari uang atau penghasilan, istilahnya male as breadwinner,” kata Atnike. 

Cara pandang ketiga, keluarga juga dianggap sebagai unit budaya. Keluarga melakukan pendidikan dan mewariskan nilai-nilai tradisi sosial dan budaya, termasuk ritual agama. 

Atnike mengungkap bahwa cara pandang umum terhadap keluarga ini memiliki masalah, terutama dari sisi keadilan gender. Karena, hal tersebut cenderung menempatkan perempuan dalam posisi lebih rendah atau subordinat, tidak dianggap mempunyai peran setara atau peran utama yang sama pentingnya dengan laki-laki. 

Jadi, keluarga modern itu seperti apa? 

  1. Konsep keluarga modern bukan semata-mata pergantian atau pertukaran peran dalam pengasuhan anak dan ekonomi. Bukan sesederhana membalikkan peran laki-laki di rumah, perempuan yang mencari uang. Tapi keluarga dengan konsep peran gender yang setara, laki-laki dan perempuan tidak dilekatkan peran tertentu. Dengan tingginya tuntutan ekonomi, saat ini sebagian besar pasangan suami-istri harus sama-sama bekerja. Karena 1 pencari nafkah tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
  2. Hilangnya stereotip keluarga nuklir atau inti: ayah, ibu, anak. Stereotip keluarga inti kian berubah dengan makin banyaknya orang menjadi orang tua tunggal.
  3. Dalam konsep keluarga modern terdapat perubahan peran gender yang bias. Siapa pun dalam keluarga bisa berbagi peran dalam pengasuhan anak, orang tua, lansia, dan semua yang hidup dalam keluarga. Tidak ada pemisahan tugas rumah tangga dan ekonomi. Semua menjadi cair, pembagian kerja bisa dilakukan secara seimbang, adil, setara, sehingga semua orang dapat mencapai kemampuan optimalnya. 

Lalu, apa pentingnya konsep keluarga modern ini terutama di masa pandemi? Atnike mengatakan bahwa pandemi menyebabkan kegiatan ekonomi dan pengasuhan terpusat di rumah. Anak sekolah dari rumah, orang tua pun bekerja dan melakukan aktivitas lainnya dari rumah. Karena semua kegiatan terpusat di rumah, maka potensi terjadinya  stres dan kekerasan di rumah tangga makin tinggi. Walaupun jika bicara keluarga modern berarti perempuan bisa bekerja dan berkarier, kenyataannya, di rumah tangga, peran gender yang masih bias itu masih dipraktikkan. Ketika sampai rumah, urusan anak, orang sakit, bayar listrik, menjadi beban perempuan. 

Berdasarkan riset yang dilakukan Jurnal Perempuan di masa penerapan PSBB dan PPKM, beban perempuan dalam peran rumah tangga memang masih lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Bukan hanya beban ibu, tetapi tiap perempuan dalam keluarga, termasuk pekerja rumah tangga yang mayoritas perempuan. “Di sinilah konsep keluarga modern yang berkeadilan gender penting untuk menghadapi pandemi,” kata Atnike. 

Bebas Mengekspresikan Diri dan Emosi

Konsep keluarga modern yang menerapkan kesetaraan dan keadilan gender menjadi pilihan pasangan Kania Anggiani dan Ruben Hattari. Walaupun, awalnya, menyatukan pandangan dan nilai-nilai yang dibawa masing-masing dari pola asuh orang tua mereka bukan perkara gampang. 

“Makin ke sini makin terbuka satu sama lain, masalah apa pun lebih mudah kami lewati bersama, sebagai orang tua juga. Bicara modern family, prinsip kami adalah bicara dengan kedua anak kami seperti orang dewasa. Tidak berlebihan memperlakukan mereka sebagai anak kecil,” ungkap Ruben. 

Kania dibesarkan di dalam keluarga dengan perempuan-perempuan berkarakter kuat. “Nenek dan ibu saya antipatriarki, sehingga ini memengaruhi pola pikir saya, sebagai ibu dan istri,” kata Kania. Sementara, Ruben adalah anak bungsu, yang harus berkompetisi dengan 7 saudaranya.

Dari pengalamannya, Kania menemukan, bahwa keluarga generasi milenial masih banyak yang menerapkan konsep patriarki, yang membedakan cara membesarkan anak laki-laki dan perempuan. Sementara, ia dan Ruben tidak memperlakukan putri dan putra mereka secara berbeda. Mereka mengedepankan gender equality atau kesetaraan gender dalam keluarga mereka. Artinya, anak perempuan bisa membantu ayahnya yang memang jago memasak, dan anak laki-laki bisa membereskan kamar atau membantu ibu. 

“Anak perempuan saya boleh eksplor sebanyak-banyaknya. Dia  sangat tomboy, adventurous, belajar drum, skateboard dan suka semua olahraga ekstrem. Ketika anak tidak dikasih batasan-batasan, mereka bisa berkembang luar biasa. Sebaliknya, kalau dibatasi, mereka juga membatasi diri sendiri,” papar Kania. 

Selain memiliki kebebasan memilih peran dan minat serta mengembangkan potensi, mereka menekankan pentingnya memahami masalah kesehatan mental. Kania membandingkan dirinya dengan generasi sebelumnya, yang tidak bisa leluasa mengekspresikan perasaan. 

“Anak tidak berani bilang dia capek atau sedih. Mereka harus selalu baik-baik saja, harus sukses, pintar, berhasil, tapi tidak pernah diangkat apakah ada tekanan-tekanan dalam dirinya. Padahal kita makhluk multidimensi yang punya banyak emosi,” kata Kania. 

Advertisement
Karena itu, keduanya selalu memvalidasi perasaan anak-anak mereka; sedih, putus asa, marah adalah hal lumrah. Mereka percaya, ketika lebih banyak didengar dan direngkuh, maka anak tidak akan tumbuh menjadi orang dewasa yang tertekan dan tidak tahu cara menunjukkan perasaannya. “Ini akan jadi vicious circle, nanti mereka menjadi orang tua yang begitu juga ke anaknya. Saya ingin memutus itu semua,” kata Kania.  

Pengasuhan Kolaboratif

Kerja sama yang dilakukan Ruben dan Kania dalam mengelola keluarga adalah sejatinya konsep keluarga modern. Ada relasi setara, saling memahami dan menerima. Anak-anak bebas mengeskpresikan emosinya. Hal ini ditanggapi positif pula oleh Ratih Ibrahim, S.Psi, MM, Psikolog, seorang psikolog klinis dari Personal Growth. 

Menurutnya, ini adalah karakteristik pengasuhan kolaboratif (collaborative parenting): modern, ayah dan ibu adalah mitra yang sungguh-sungguh sejajar. Kegiatan dan tanggung jawab rumah tangga dilakukan sama-sama. 

Ayah dan ibu harus memberi contoh. Ada ruang yang setara bagi ibu dan ayah berpendapat. “Jadi bukan siapa yang paling benar, tapi paling kontekstual. Kalau disepakati ide mama, maka harus diapresiasi, jangan disabotase. Begitu juga ide papa dihargai dan didukung bersama-bersama. Pembagian tugas juga dilakukan sama-sama berdasarkan kompetensi dan kemampuan masing-masing. Ini namanya management of family relation. Bersama saling mendengarkan, sehingga bisa bebas menjadi diri sendiri, respek, diterima. Hubungan akan indah sekali. Bisa tumbuh bareng,” papar Ratih. 

Dalam pengasuhan keluarga modern, anak-anak juga bebas mengekspresikan emosinya. Anak laki-laki boleh sedih, rapuh, atau menangis. Mereka juga boleh menunjukkan sisi penyayang dan empati. “Saya sendiri menyiapkan anak-anak saya, kelak, jika memutuskan menikah, untuk menjadi suami dan ayah dari perempuan-perempuan yang sangat kuat. Mungkin lebih feminis dari saya, ibunya. Perempuan-perempuan masa kini yang sepantaran anak-anak saya pintar-pintar, sangat asertif, berani berpendapat. Tapi, kadang-kadang, mereka juga terpapar toxic masculinity, yang menuntut laki-laki sangat macho dan jantan,” ungkap Ratih.

Mengapa hal tersebut dianggap toxic? Karena hal itu membuat kualitas hidup kita menjadi buruk, kita tidak bahagia, tidak berkembang, dan mendorong kita secara kejiwaan tidak sehat. Akibatnya bisa ditebak, akan menimbulkan gangguan kejiwaan, seperti depresi. Istilah itu muncul karena ada konstruksi sosial yang patriarkis, perempuan pun bisa patriarkis dengan menuntut laki-laki sesuai stereotip yang berlaku, seperti harus jantan, agresif, dominan. Tentu ini menjadi beban berat bagi laki-laki. Mereka perlu mengekspresikan emosinya apa adanya.

“Anak adalah anak. Perlakukan sama,” kata Ratih. Ia menyarankan orang tua merujuk ke Undang-Undang Perlindungan Anak yang dikeluarkan pemerintah Indonesia ataupun Konvensi Hak Anak dari PBB. “Kalau itu dijalankan dengan benar, pengasuhan kolaboratif bisa dilakukan sungguh dalam keluarga,” pungkas ratih. 

Literasi Digital Lindungi Keluarga

Keluarga modern di masa sekarang tidak lepas dari dunia digita dan media sosial. Mereka tidak malu-malu menampakkan kehidupan mereka, bahkan memiliki akun-akun media sosial keluarga. Data dan informasi mereka pun bertebaran di dunia digital, bisa diakses oleh siapa pun. Lalu, bagaimana sebaiknya perlindungan keluarga di dunia digital? 

Usman Kansong, Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik – Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, menjelaskan bahwa keluarga modern dari sisi komunikasi adalah sebuah wahana untuk melaksanakan komunikasi yang demokratif dan setara. Keluarga modern adalah keluarga yang cakap digital atau bisa disebut digital skill. “Tapi lebih dari itu, ada ethical skill, yakni etika dalam komunikasi di dunia digital, juga cultural skill atau budaya berkomunikasi secara digital,” kata Usman.

Dalam hal perlindungan data pribadi, kata Usman, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika sedang menggalakkan literasi digital bagi semua kalangan, keluarga, dan kelompok masyarakat. “Kami mengedukasi masyarakat untuk cakap dalam melindungi data pribadinya. Jangan gampang memberikan data-data pribadi kepada orang lain, termasuk dalam konteks pengguanaan sarana digital. Jejak digital tidak bisa dihapus, selalu ada, kapan akan ditarik lagi bisa dengan mudah dilakukan,” kata Usman.

Edukasi literasi digital juga diharapkan dapat mengerem pesatnya hoaks. Jangan mudah percaya, dan untuk melindungi data diri menjadi penyebar hoaks, kita perlu memegang prinsip #saringsebelumsharing.

Hal kedua yang sudah dilakukan pemerintah, jelas Usman, adalah mengusulkan RUU Perlindungan Data Pribadi kepada DPR, dan ini sedang dalam proses pembahasan. UU sangat penting supaya kita memiliki payung hukum, memiliki kesadaran sebagai anggota masyarakat dan keluarga untuk melindungi data pribadi. 

#Indonesiaterkoneksi, keluarga moderen harus #makincakapdigital, biasakan budaya #saringsebelumsharing dalah keluarga kita. (f) 


Penulis: Gracia Danarti 




Topic

#IWF2021, #konferensi, #keluargamoderen

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?