Ia berhasil mencuri ‘spotlight’ dari aktor Russel Crowe di Robin Hood (2010) dan merebut pamor aktor tampan Ryan Gosling di Drive (2011). Namun, pergelaran karpet merah mulai terbuka bagi Oscar lewat totalitasnya dalam memerankan penyanyi folks tahun ‘60-an Llewyn Davis di drama seri Inside Llewyn Davis (2013).
Tidak hanya berhasil mencuri hati pencinta film drama seri TV dan kritikus film, lewat peran Llweyn Davis inilah, untuk pertama kalinya, nama Oscar masuk dalam catatan sejarah The Golden Globe sebagai kandidat Aktor Terbaik untuk kategori Film Musik atau Komedi.
Lepas dari ingar-bingar musik folk, ia menjadi seorang pengusaha yang berjuang untuk tetap ‘bersih’ di tengah deraan krisis terburuk yang melanda Kota New York di tahun 1981 dalam A Most Violent Year (2014). Aktingnya di film itu menghadiahinya gelar Aktor Terbaik dari National Board of Review Award. Lalu menjadi programmer genius yang ingin menyamai Tuhan di Ex Machina (2015). Dan baru saja meluncur ke antariksa dalam pesawat tempur X-wing, sebagai Poe Dameron di Star Wars: The Force Awakens (2015).
Namun, di antara semua itu, peran meyakinkannya sebagai Nick Wasicsko di Show Me a Hero, menjadi “gong” sukses awal tahunnya di 2016. Lewat film mini seri ini, Oscar menyabet gelar Aktor Terbaik di Golden Globe Award ke-73. Penghargaan ini membuat awak media memasukkan namanya ke dalam jajaran generasi aktor drama Amerika terbaik yang langka, seperti Dustin Hoffman, Jon Voight, De Niro, dan Al Pacino. Beberapa bahkan menyebutnya ‘Young Pacino’.
David Simon, salah satu penulis naskah Show Me a Hero, mengungkapkan kekagumannya terhadap talenta Oscar. “Semua mata memandang, dan dengan yakin mereka berkata, ‘Pria ini bisa melakukannya!’” ungkap David kepada majalah Details. Ucapan ini mengakhiri keputusasaan mereka saat mencari aktor yang paling tepat memerankan Nick, politikus, dan wali kota termuda di sepanjang sejarah New York City.
Bahkan, jauh sebelum ia memenangkan Golden Globe, ada kompetisi serius di antara para produser film dan sutradara untuk ‘memperebutkan’ dirinya. Seperti yang diakui oleh sutradara dan penulis naskah Alex Garland. “Saya harus berhadapan dengan sekelompok orang yang sama-sama mengelilinginya dan menginginkannya,” ungkap Alex, yang berhasil ‘memenangkan’ kompetisi itu lewat peran Oscar di film Ex-Machina. “Kami benar-benar beruntung!” kata Garland, sang sutradara, kepada majalah Details.
Melihat kapasitasnya dalam memerankan tokoh-tokoh unik, rasanya sudah tidak sabar untuk menyaksikan aksinya yang lain. Setidaknya, di tahun 2016 ada tiga film yang mempertontonkan kelihaian aktingnya. Di X-Men: Apocalypse (2016), sebagai musuh bebuyutan Wolverine. Sebagai Michael di film drama sejarah The Promise, dan sebagai Poe Dameron, di Star Wars Episode VIII, yang akan rilis tahun 2017 nanti.
Melihat jejaknya, Oscar memang sering kebagian peran di film laga. Tentang hal ini, dengan tetap rendah hati, ia berseloroh. “Untuk menjadi aktor utama, seseorang harus bermain di film laga terlebih dulu selama beberapa masa.” Ia memahami bahwa ketenaran bukan jalan instan. Seperti pidato penerimaan penghargaannya di Golden Globe yang cukup sederhana dan singkat.
“Yes! Yess!! Thank you Hollywood, it means a lot to me.” Hanya itu bagian ucapan yang mewakili emosinya sebagai pemenang. Selanjutnya adalah daftar pendek ucapan terima kasih pada kru film. Sama sekali tidak berlebihan. Bahkan, ia mempersembahkan kemenangan ini untuk almarhum Nay Wasicsko, istri mendiang Nick Wasicsko, dan kenangan terhadap suaminya itu. (f)