Tahun lalu, Facebook membuka kantor pusat terbarunya, Building 20. Kantor seluas 4 hektare yang terletak di Menlo Park, California, ini disebut-sebut sebagai kantor dengan konsep open office terbesar di dunia. Belakangan, kantor open office menjadi pembicaraan karena dianggap sebagai kantor masa depan yang mengedepankan keterbukaan, profesionalisme, dan bersifat informal. Meski begitu, tak sedikit pula orang yang meragukan kinerja karyawan dengan konsep tersebut.
Di kantor terbaru Facebook, Mark Zuckerber, pendiri sekaligus CEO, bekerja di ruang terbuka dengan meja yang tampak sederhana. Ia tak memiliki ruangan khusus. Meja kerja pemilik perusahaan besar di Silicon Valley itu tak jauh berbeda dengan 12.000 karyawan Facebook lainnya.
Manurut Mark, konsep kantor Facebook yang serba terbuka ini bukan tanpa alasan. Dengan konsep ini diharapkan karyawan Facebook bisa lebih dekat satu sama lain dalam hal pekerjaan, memperlancar komunikasi dan berbagi informasi tentang pekerjaan satu sama lain, sehingga menghasilkan kolaborasi yang lebih baik lagi untuk meningkatkan pelayanan kepada komunitas Facebook.
Sebenarnya kantor berkonsep open office bukanlah hal baru, tapi memang belum umum diterapkan. Menurut Joshua Siregar, Marketing Director sekaligus trainer dari Dale Carnegie, bekerja di kantor berkonsep open office tentu ada dinamikanya. Dibutuhkan fasilitas pendukung yang memadai serta kedewasaan tiap individu agar bekerja terasa lebih efektif dan menyenangkan.
Dijelaskan oleh Joshua, salah satu ciri yang tampak mata dari sebuah kantor berkonsep open office adalah penataan interior kantor yang tidak ada sekat antara satu orang dengan orang lainnya. “Walaupun ada pemisah untuk ruang manajer, umumnya menggunakan pembatas berupa dinding kaca sehingga masih tetap terlihat,” katanya.
“Misalnya, karena tidak ada batasan antara manajer dan bawahannya, ruang meeting bisa digunakan oleh manajer untuk melakukan pembicaraan tentang pekerjaan yang membutuhkan privasi,” jelas Joshua, yang pernah memiliki pengalaman bekerja di kantor berkonsep open office.
Menurut Joshua, open office tak hanya berhubungan dengan konsep ruangan. Hal ini juga erat kaitannya dengan budaya perusahaan, termasuk pola manajemen yang akan atau sedang dikembangkan perusahaan. Salah satu kunci dari kantor berkonsep open office adalah soal keterbukaan.
“Ada prinsip equality, nilai-nilai yang mengutamakan kebersamaan. One for all, all for one. Nilai-nilai inilah yang akan terbangun dengan penerapan open office ini,” katanya.
Masuknya generasi millennial ke lingkungan profesional sedikit banyak memengaruhi perubahan konsep tentang sebuah tempat bekerja. Salah satu tuntutan dari generasi millennial adalah struktur yang lebih informal dan tidak kaku. “Tak hanya itu, ada juga wacana tentang jam kerja yang fleksibel, hingga pakaian yang lebih santai,” kata Joshua.
Semua itu secara tidak langsung membuat kantor berkonsep open office menarik karena dengan bentuk kantor seperti ini seakan menghilangkan kekakuan. Harus diakui, kantor tradisional dengan sistem cubicle memang tidak hanya bicara soal fungsional, tapi juga tentang status dan birokrasi yang mengikutinya. Open office dianggap meminimalkan birokrasi. (f)