Career
Pentingnya Kuasai Bahasa Mandarin

8 Feb 2016


Jika kita perhatikan, di beberapa sekolah, bahkan di tingkat taman kanak-kanak,  bahasa Mandarin sudah menjadi bagian dari pelajaran. Walaupun di banyak lembaga pendidikan masih berada di level ekstrakurikuler,  bahasa Mandarin menjadi salah satu bahasa asing yang banyak dipilih untuk dikuasai.

Kalau dahulu ada anggapan menguasai bahasa Inggris bisa ‘menguasai’ dunia, maka kini banyak yang menganggap bahasa Mandarin adalah bahasa yang perlu dikuasai. Tidak dipungkiri, anggapan ini dipengaruhi oleh pesatnya pertumbuhan ekonomi Cina yang membuatnya kian diperhitungkan di tingkat global. Benarkah menguasai bahasa Mandarin dianggap sebagai salah satu kunci untuk menangkap peluang bisnis yang ada?
 
“Pengakuan IMF (International Monetary Fund) pada yuan sebagai special drawing rights (mata uang internasional), mengangkat Cina ke tataran yang tertinggi,” kata Dr. Lana Soelistianingsih, S.E., M.A, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan ekonom dari Samuel Aset Manajemen, menggambarkan tentang besarnya pengaruh ekonomi Cina kini di tingkat global.

Ajang Olimpiade 2008 yang diselenggarakan di Beijing, dinilai Lana menjadi titik awal kebangkitan ekonomi Cina. Pembangunan infrastruktur yang dilakukan secara besar-besaran, baik untuk kebutuhan olimpiade hingga infrastruktur jalan, membuat pertumbuhan ekonomi Cina meningkat hingga 11%. Walaupun sebelumnya, bergabungnya Cina  dengan World Trade Organization (WTO) pada tahun 2001, telah membuat perdagangan Cina surplus.  Aliran modal luar negeri yang besar terus meningkatkan cadangan devisa negeri Tirai Bambu ini, hingga akhirnya menggerakkan industri.

Ketika ekonominya berada pada taraf tertinggi, Cina mengimpor banyak sekali komoditas. Salah satu yang terbesar adalah batu bara yang digunakan sebagai pembangkit listrik sekaligus menggerakkan ribuan pabrik di penjuru Cina. Tak hanya batu bara, Cina juga merupakan salah satu tujuan utama ekspor komoditas seperti minyak bumi dan crude palm oil (CPO).

Karena tingginya permintaan Cina pada komoditas inilah yang, menurut Lana, menggerakkan perekonomian dunia sekaligus membuat keterikatan antara negara-negara pengekspor komoditas tersebut dengan Cina. Maka, ketika permintaan komoditas dari Cina menurun akibat melambatnya ekonomi Cina, banyak negara merasakan dampaknya, begitu pula dengan Indonesia.
Advertisement

Tahun lalu, ekonomi Cina memang sedang tak baik. Pertumbuhan ekonominya melambat hanya di angka 6,9% (tahun 2014 pertumbuhannya sebesar 7,5%). “Makanya, tahun lalu rupiah ikut melemah. Perhitungan Bank Indonesia, bila ekonomi Cina turun 1%, maka ekonomi Indonesia juga ikut turun sebesar 0,3%,” ungkap Lana.

Keterikatan ekonomi kita dengan Cina tak hanya berhenti di sektor komoditas. Besarnya cadangan devisa negara dan banyaknya orang kaya telah menjadikan Cina sebagai salah satu negara investor. Salah satu proyek besar yang kini didanai oleh Cina adalah kereta api cepat Jakarta-Bandung. Proyek yang membutuhkan dana sebesar Rp76 triliun itu, 75% pendanaannya disediakan oleh China Development Bank.

Pada Agustus tahun lalu, pemerintah Cina melalui Menteri Pembangunan Nasional dan Komisi Reformasi Republik Rakyat China, Xu Shaoshi, telah menjanjikan akan menanamkan sahamnya untuk Indonesia sebesar 100 miliar dolar AS (sekitar Rp1.360 triliun).

“Selain itu, relokasi pabrik dari Cina ke Indonesia juga sangat terbuka. Upah buruh di Cina yang mengalami kenaikan, serta isu kerusakan lingkungan menjadi kendala bagi para pengusaha untuk melakukan produksi besar-besaran di dalam negeri mereka sendiri,” jelas Lana, tentang peluang besar yang terbuka dalam hal kerja sama bisnis.

Di sisi lain, dengan jumlah penduduk 1,3 miliar jiwa dan rata-rata pendapatan per kapita sekitar 3.600 dolar AS, Cina menjadi salah satu tujuan pasar konsumen yang menarik. “Produk fashion dan aksesori berkelas akan menjadi produk yang sangat diminati di Cina. Saya rasa, banyak desainer Indonesia yang potensial untuk menghasilkan produk kualitas tinggi yang dapat diterima pasar Cina,” kata Lana, optimistis. 

Belakangan ini, ketika ekonomi mulai melambat dan manufaktur tak lagi bisa diandalkan, Cina juga mengalihkan bisnisnya ke bidang jasa. Pariwisata, perhotelan, restoran, e-commerce, serta jasa keuangan menjadi bidang-bidang yang seksi dan menarik bagi pemodal asal Cina. Tapi, tak hanya menanamkan modal, di bidang pariwisata misalnya, banyak orang Cina yang memiliki pendapatan tinggi mulai melakukan traveling ke berbagai negara. Indonesia pun menjadi salah satu tujuan wisata incaran mereka. (f)
 


 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?