Menurut Dr. Lana Soelistianingsih, SE, MA, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, yang harus dicermati adalah penanaman investasi yang dilakukan oleh pemerintah Cina tak hanya berupa modal, tetapi juga tentang masuknya tenaga kerja asal Cina ke Indonesia. “Di perusahaan-perusahaan yang mendapatkan modal dari Cina, mulai dari pengerjaan konstruksi, hingga pegawai akan didominasi oleh tenaga kerja asal Cina,” ujar Lana, mengingatkan para profesional di Indonesia untuk lebih siap bersaing.
Untuk dapat berkolaborasi dengan beberapa perusahaan yang modalnya berasal dari Cina sekaligus bersaing dengan tenaga kerja Cina, tentunya profesional Indonesia harus memiliki skill yang cukup. Selain itu, kemahiran berbahasa Mandarin juga dianggap sebagai poin yang bisa meningkatkan daya saing, seperti halnya kemampuan berbahasa Inggris.
Soal menguasai bahasa Mandarin, mantan Bupati Lamongan, H. Masfuk, sejak tahun 2007 telah mengangkat isu ini dengan mewajibkan beberapa sekolah dari tingkat SD hingga SMA di Lamongan, mengajarkan bahasa Mandarin dalam kegiatan ekstrakurikuler mereka. Kebijakan tersebut dilakukan setelah ia melakukan studi banding ke Cina. Perkembangan ekonomi Cina yang pesat membuatnya yakin bahwa akan banyak investor asing menanamkan modalnya ke Indonesia sehingga kemampuan menguasai bahasa Mandarin akan sangat penting ke depannya.
Sementara itu, Dewi Karnawan, Director of Public Relations & Marketing Communications, InterContinental Resort Bali, mengatakan bahwa saat ini jumlah wisatawan asal Cina menduduki posisi 5 besar wisatawan yang berkunjung ke Bali. “Dari 417 kamar yang kami miliki, 8% di antaranya dipesan oleh wisatawan asal Cina. Gaya berwisata mereka pun sudah mulai bergeser, dari yang awalnya berkelompok, kini mereka lebih berani secara individu,” ungkap Dewi.
InterContinental Resort Bali pun membuat program The China Ready untuk menyiapkan para karyawan agar lebih siap menghadapi dan melayani wisatawan asal Cina. Program yang dimulai sejak pertengahan 2014 lalu itu telah memberikan pelatihan kepada sekitar 60 karyawan. Mulai dari belajar percakapan dasar bahasa Mandarin hingga cara menghadapi wisatawan Cina. “Pihak manajemen juga mendatangkan mentor dari Cina untuk mempelajari tentang karakteristik dan budaya serta etiket dalam melayani wisatawan Cina,” kata Dewi.(f)