Career
Kiat Sukses Berlibur Sambil Bekerja dari 3 Wanita Karier

24 Nov 2016


Foto: Fotosearch

Teorinya saat mengambil cuti alias liburan kita bisa sepenuhnya terbebas dari urusan kantor. Tapi pada kenyataan, ada situasi di mana tanggung jawab kantor tetap ‘mengikuti’ kita ke mana pun. Tiga wanita karier ini tahu bagaimana cara menyiasati hal ini. tetap bisa memantau pekerjaan dari jauh tanpa kehilangan waktu istirahat.
 
Lia Indriasari, 34, Direktur, Menikah, Jakarta
Pekerjaan Saya
Saya kini aktif memimpin 2 anak perusahaan yang bergerak di industri pameran. Salah satu event besar yang kami kerjakan adalah pameran otomotif GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS). Untuk menyelenggarakan pameran sebesar itu, saya dan tim harus kompak membuat perencanaan mulai dari persiapan konsep hingga pengaturan operasional, baik sebelum hingga pameran usai. Sebagai pimpinan, saya bertanggung jawab penuh mengatur manajemen perusahaan, menjalin kerjasama dengan semua pihak yang terlibat..
 
Mengapa bekerja saat liburan?
Tanggung jawab dalam pekerjaan saya bersifat teknis dan kompleks. Sehingga saya memilih terus memantau pekerjaan dari jauh, apalagi jika sedang menyelenggarakan event internasional yang melibatkan klien dari berbagai Negara. Misalnya ketika saya mengerjakan sebuah pameran internasional houseware yang jadwalnya berdekatan dengan momen liburan keluarga ke Singapura selama seminggu. Saya memilih tetap berangkat ke Singapura bersama ibu dan anak sulung saya Amelie (7 tahun) karena sudah diatur jauh-jauh hari, namun saya tetap ‘ngantor’ dari jauh.
 
Begitu pula saat saya berlibur sendirian ke rumah kakak di Amerika Serikat, awal 2016. Saat itu kantor kami sedang membuat presentasi untuk klien yang sangat penting. Goal perusahaan untuk mendapatkan proyek pameran besar itu sangat tergantung pada materi presentasi. Tidak ada cara lain saya memberi ijin kantor untuk tetap bisa menghubungi saya salama saya di Amerika.
 
Cara Mencuri Waktu
Jika bepergian dengan keluarga, saya mencuri waktu menyelesaikan pekerjaan atau berkomunikasi dengan kantor pada malam hari saat mereka sudah beristirahat. Siang hari saya maksimalkan untuk jalan-jalan dan bermain bersama mereka.
 
Untuk memudahkan koordinasi dengan tim di kantor, saya membuat grup WhatsApp agar bisa leluasa berdiskusi secara terbuka dengan semua anggota tim. Saya menekankan pada tim agar tidak sungkan untuk mengkomunikasikan kesulitan pekerjaan yang mereka alami saat saya tidak berada di tempat sehingga solusi bisa dicari bersama.
 
Keinginan saya memantau pekerjaan dari jauh bukan karena tidak percaya kepada anak buah. Tapi sebagai bentuk tanggung jawab sebagai atasan. Saya sadar bahwa pekerjaan tidak akan ada habisnya selama kita masih hidup. Karena itu saya tidak pernah menjadikannya sebagai beban berat.
 
Stephanie Sicillia, Senior Consultant, Lajang, Jakarta
Pekerjaan Saya
Sebagai konsultan senior yang bekerja di agensi PR, saya saat ini mengurusi 4 klien sekaligus, yang datang dari latar belakang industri berbeda, dari dalam maupun luar negeri. Tugas saya adalah membuat konsep promosi untuk klien. Artinya, saya dan tim harus mampu bekerja sama dengan solid agar bisa membuat strategi komunikasi jitu untuk klien, saat mereka harus meluncurkan produk atau program  baru.
Advertisement
 
Mengapa bekerja saat liburan?
Saat terlibat dalam peluncuran beberapa produk brand NBA, Xiaomi, dan Opera beberapa waktu lalu, saya sudah terlanjur bikin rencana liburan ke kota New York. Padahal, di proyek tersebut posisi saya adalah koordinator. Saya tidak bisa membatalkan rencana ini sehingga saya memilih berkompromi. Mencuri-curi waktu untuk menyelesaikan proposal dan tetap intens berkomunikasi dengan tim yang jumlahnya  sembilan orang.
 
Di bidang pekerjaan saya, tidak ada proyek besar atau kecil. Namun, ukuran besar-kecilnya pekerjaan dapat dilihat dari durasi kontrak. Ada kategori retainer, dengan durasi kontrak berkisar 3-12 bulan dan kategori project based yang pendek. Sepanjang waktu kontrak itulah saya harus selalu ada selama 24 jam penuh untuk klien.
 
Cara Mencuri Waktu
Saat liburan, saya tetap membawa laptop, tablet dan tentu saja ponsel. Di ponsel saya saya memiliki aplikasi e-mail, chat, messenger, Microsoft office dan 10 aplikasi portal berita dalam dan luar negeri. Saya biasanya membaca berita pada pagi hari sebelum beraktivitas dan malam hari sebelum tidur. Kebiasaan yang tetap saya lakukan saya liburan. Yang saya lakukan selama tidak berada di kantor adalah mengecek e-mail secara rutin, meresponsnya dengan segera jika memang diperlukan dan memonitor pekerjaan yang sedang dilakukan anggota tim.
 
Shita Laksmi, 39, Manager Development Program, Menikah, Jakarta
Pekerjaan Saya
Hivos, tempat saya berkerja adalah lembaga pendanaan nonpemerintah yang berpusat di Belanda. Semua program yang dilakukan berkaitan dengan hal-hal yang dapat mendukung perbaikan kondisi kehidupan kaum miskin dan marjinal. Bekerja sama dengan pemerintah dan juga lembaga swadaya masyarakat (LSM), kami berupaya untuk mendorong terciptanya lingkungan yang nondiskriminatif, adil, dan berkelanjutan. Tugas saya fokus pada pengembangan program di bidang teknologi berupa keterbukaan informasi publik, kebijakan internet, dan kebebasan bereskpresi.
 
Mengapa bekerja saat liburan?
Saat mengerjakan sebuah proyek reguler, saya tak keberatan untuk selalu stand by memonitor pekerjaan yang sudah didelegasikan kepada tim, termasuk saat sedang berlibur. Menurut saya ini menjadi bagian tanggung jawab saya sebagai pimpinan proyek. Pekerjaan yang saya selesaikan di sela-sela liburan bersama anak-anak, Taqiya (10) dan Nayyara (6) biasanya menyelesaikan proposal. Saya mengalokasikan sekitar 30 persen waktu untuk menyelesaikan tugas ini.
           
Namun, baru-baru ini, saya mendapatkan proyek besar senilai USD 2 juta (sekitar Rp26,6 miliar). Selama proyek tersebut belum selesai, saya sengaja tidak mengambil cuti liburan. Tanggung jawab menyelesaikan proyek ini sangat besar dan agak sulit jika disambi kegiatan bersantai. Apalagi saat ini saya dituntut terus berkoordinasi dengan intens, tak hanya di kantor pusat di Belanja tapi juga dengan para donator penyedia dana.
 
Cara Mencuri Waktu
Bila terpaksa harus bekerja, saya kerjakan saat anak-anak dan suami, Oni Budipramono (44), sudah beristirahat di sore atau malam hari. Namun, bila dalam keadaan darurat dan mendesak. Saya biasanya meminta waktu kepada mereka selama 2 jam untuk tidak diganggu. Saya senang, anak-anak dan suami kooperatif dan mengerti kondisi saya.
 
Sejujurnya, bila harus memilih, saya tidak ingin memikirkan bahkan melakukan kegiatan yang berkaitan dengan pekerjaan. Bagi saya, liburan yang ideal itu adalah saat terbebas dari semua pikiran yang berkaitan dengan pekerjaan. Namun, suka tidak suka, saya harus berdamai dengan keadaan ini. Dan itu tidak masalah. (f)
 


Topic

#manajemenkerja

 


MORE ARTICLE

polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?