Career
Bahagia Ada di Tangan Anda!

31 Oct 2016

Foto: Fotosearch

Ironisnya, meski manajemen terus berupaya memperbaiki tingkat kepuasan karyawan dan berupaya membangun sistem yang lebih baik untuk meningkatkan employee engagement di perusahaan atau organisasi mereka, kebahagiaan personal terletak di tangan kita sendiri.
           
Jika Anda merasa tidak bahagia di pekerjaan sekarang, mencari pekerjaan baru belum tentu menjadi jalan keluar yang dapat mengantarkan Anda pada kebahagiaan. Ada filsafat Buddha yang mengatakan, kebahagiaan personal dan konflik antarindividu terletak pada tiga akar, yaitu pengharapan, kemarahan, dan angan-angan. Dan, semua itu berasal dari dalam diri kita sendiri.
             
Tuti Indra Fauziansyah, psikolog karier dari Iradat Consultant, berujar, kebahagiaan hanya bisa diciptakan oleh diri sendiri. Kita tidak bisa berharap lingkungan kerja kita berubah. “Mengubah diri sendiri kontrolnya jauh lebih mudah dibandingkan mengubah orang lain,” jelasnya.
           
Misalnya, ketika kita merasa tidak suka dengan cara kepemimpinan atasan kita, kita tidak mungkin menuntutnya untuk berubah demi kita. Yang bisa kita lakukan adalah mengelola emosi dan cara berpikir kita dalam menghadapinya. “Dengan belajar mengelola diri lebih baik, kita justru dapat belajar hal-hal baru. Secara tidak langsung, emotional competency dan emotional intellegence kita pun berkembang,” lanjutnya.
           
Di sinilah pentingnya mengubah mindset dalam menyikapi masalah atau tantangan. Menurutnya, menyikapi segala bentuk masalah sebagai proses belajar akan jauh lebih mudah membuat kita bahagia dibandingkan langsung merasa frustrasi. “Jika kita frustrasi terus-menerus, bagaimana kita bisa bahagia? Karena kebahagiaan itu kuncinya ada di cara kita berpikir,” saran Tuti.
           
Advertisement
Sebagai manusia yang terus berkembang, kita akan terus menghadapi masalah. Bahkan,  makin tinggi kompetensi dan kepandaian kita dalam suatu pekerjaan, masalah yang akan kita hadapi biasanya akan  makin besar. Hal yang alamiah dan naluriah jika manusia terus menginginkan lebih. Ketika bayi, setelah bisa merangkak, kita ingin belajar berjalan. Ketika sudah mahir berjalan, kita ingin berlari.
           
Namun, ketika perasaan tidak bahagia itu sudah begitu memuncak dan meresahkan, Anda harus berani mengambil keputusan. Walaupun Anda merasa tidak bahagia dengan pekerjaan atau lingkungan pekerjaan Anda, orang lain berhak merasa bahagia. Jangan sampai ketidakbahagiaan Anda membawa pengaruh negatif terhadap tim yang dapat berdampak terhadap menurunnya produktivitas tim Anda.
           
Sebaliknya, Anda pun berhak untuk bahagia. “Jika mengubah mindset pun tidak berhasil mengubah keadaan, tidak ada salahnya Anda mencari pekerjaan lain yang mungkin bisa membuat Anda lebih bahagia. Bagaimanapun juga, kendali kebahagiaan kan ada di tangan Anda,” komentar Tuti.
           
Namun, agar perasaan tidak bahagia itu tidak muncul lagi di tempat baru, kita perlu menelaah hal-hal apa yang membuat kita tidak bahagia. Jika perbedaan value  antara diri kita dan perusahaan adalah penyebab utamanya, maka kita perlu mencari tahu apa value  kita sebenarnya. (Baca: Bahagia = Produktif?)
           
Memahami value diri sendiri sebenarnya tidak sulit, hanya  mungkin kita sebelumnya tidak menyadarinya. Hal paling mudah yang disarankan Tuti adalah dengan menelusuri kembali hidup kita sejak kecil hingga pekerjaan terakhir. Tulislah hal-hal apa saja yang kita anggap penting. “Value juga dipengaruhi oleh pola asuh dan didikan orang tua, serta dibentuk oleh pengalaman-pengalaman hidup Anda,” jelasnya.

Jadikan pengalaman  tiap hari sebagai modal atau aset untuk kita. “Pengalaman adalah hal yang hanya diri kita sendiri yang mengalaminya. Baik atau buruknya, itu adalah aset yang membuat diri kita  makin berkembang dan pintar. Jadi, jangan biarkan diri kita menjadi tidak bahagia karena permasalahan-permasalahan dalam pekerjaan. Jika Anda tidak bahagia, kuncinya adalah mengubah mindset dan berani mengambil keputusan,” ujar Tuti.(f)
 


Topic

#TipKarier

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?