Foto: Fotosearch
Selalu untung!
Menurut Rachmat Basuki, konsultan karier, semua posisi di dunia kerja membutuhkan jejaring—mulai dari front liner hingga back office. Jejaring sendiri bisa dikategorikan sebagai koneksi yang sering kita pakai untuk mendapatkan informasi tertentu.
“Jejaring, tuh, penting banget. Ibaratnya dari mulai jaman kuda gigit besi, kalau seseorang mencari pekerjaan pasti bertanya kepada orang-orang yang mereka kenal. Berdasarkan pengalaman pribadi, saya pun dapat pekerjaan dari teman-teman sendiri, kok.”
Siapa pun sebenarnya bisa masuk dalam jejaring kita. Contohnya teman TK atau kuliah yang sudah punya posisi bagus di suatu perusahaan, klien yang selama ini sering kita ajak bekerja sama, maupun mantan bos yang menyebalkan. Meskipun jarang bertemu bukan berarti mereka boleh dilupakan karena suatu saat pasti bakal berguna bagi kita.
“Keuntungan lain jejaring yaitu mempermudah pekerjaan kita. Misalnya seorang jurnalis membutuhkan narasumber, dia pasti akan mencari dari networking-nya dulu yaitu teman-teman yang ahli di bidang tersebut.”
Membina hubungan
Untuk membina hubungan yang baik dengan jejaring memang gampang-gampang susah. Soalnya kalau terlalu intens 'memupuk' hubungan, kita bisa dianggap pengganggu. Sebaliknya kalau kita yang lama menghilang tiba-tiba melakukan kontak pasti dicap 'kalau ada perlunya baru menghubungi'. Serba salah, kan?
Rachmat pun menyarankan agar kita melakukan 'PDKT' kepada seseorang yang tidak pernah kita kontak selama 4 tahun terakhir, misalnya. “Kita bisa kontak lagi dan menanyakan kabar mereka. Kalau caranya sopan dan halus pasti diterima.” Biar jejaring nggak merasa 'dimanfaatkan', kita memang perlu memberikan sentuhan khusus. Seperti sesekali mengajak mereka makan siang di luar kantor atau hang out bareng.
“Kalau kenal dengan seseorang kita harus men-treat dia secara baik karena nantinya akan 'ngebalik' ke kita juga. Misalnya kita harus mau mengeluarkan duit untuk ngopi-ngopi kalau ingin tahu apakah di perusahaannya sedang membuka lowongan kerja. Lihat dampak ke depan dari jejaring, lama-lama, kan, kita bisa melebarkan jaringannya,” tambah Rachmat.
Menguatkan image pribadi
Saat bertemu langsung dengan jejaring, jangan lupa untuk 'menjual diri' kita pada mereka. Soalnya jejaring memang seharusnya membawa kita sebagai top of mind bagi orang lain.
“Bukan sia-sia, kok, kalau kita meluangkan waktu makan siang dengan klien. Soalnya kita bakal jadi seseorang yang mereka ingat kalau lagi butuh sesuatu, istilahnya top of mind mereka,” kata Rachmat.
Langkah awalnya adalah memastikan bahwa jejaring mengetahui apa yang kita lakukan. Nggak salah, tuh, bila kita sedikit pamer soal pekerjaan yang sukses kita kerjakan beberapa waktu lalu—asal bukan omongan doang, ya.
“Kita harus menguatkan personal branding dulu. Ada beberapa orang yang tidak berani 'menjual diri' ketika bertemu dengan orang lain. Padahal rezeki itu bisa berasal dari teman-teman juga. Kalau nggak bisa 'menjual diri' Anda hanya akan jadi ordinary people—bukan outstanding person!”
Terakhir, hindari membuat kesalahan—sekecil apa pun!—dalam pekerjaan. Sekali saja hasil pekerjaan kita nggak memuaskan dan tersebar ke luar kantor, jejaring yang sudah kita bina bakal rusak, tuh. Soalnya mereka nggak bakalan mau mereferensikan kita untuk menangani proyek besar—takut mencoreng namanya juga, sih, kalau nggak beres. Jadi, lebih hati-hati lagi dengan kekuatan jejaring, ya.... (f)
Topic
#jejaring