
Penataan produk yang menggoda, sekaligus menyatu dengan keseluruhan interior. Foto: Dok. Sejauh Mata Memandang
Di era ketika sebuah jenama fashion memiliki storytelling masing-masing, pengalaman mengeksplorasinya tak cuma menggelitik visual tapi juga seluruh panca indra.
Dengan konsep seperti pulang ke rumah, Sejauh Mata Memandang membuka toko pertamanya, Toko Sejauh, di Plaza Indonesia, Jakarta, awal Oktober lalu. Ruang itu menghadirkan koleksi sekaligus berbagi cerita dan proses di balik karya-karyanya kepada para Sahabat Sejauh.
Begitu memasuki toko yang interiornya didominasi warna terakota, kita bukan saja disambut penataan produk yang sangat menggoda tapi juga kicau burung bersahut-sahutan. Aroma menyenangkan paduan bunga sedap malam dengan beberapa wewangian lain tercium samar-samar, custom home fragrance racikan Oaken Lab untuk Toko Sejauh.
Toko Sejauh dirancang bersama Felix Tjahjadi sebagai kolaborator pengarah kreatif, dengan inspirasi rumah masa kecil Chitra Subyakto, Pendiri dan Direktur Kreatif Sejauh Mata Memandang.
Toko Sejauh didominasi warna terakota, dari lantai hingga langit-langit. Di sebelah kiri adalah tenun karya mitra Studio Sejauh. Foto: Dok. Sejauh Mata Memandang
Warna terakota juga digunakan pada fasad yang menggunakan tegel dari Tegel Kunci. Material kayu hasil guna ulang digunakan pada sejumlah rak, pilar, dan mebel, sementara tenun tangan berbahan serat alami (eceng gondok) dari ROA Handwoven digunakan sebagai pelapis dinding di sebagian area toko.
Sejumlah foto rumah keluarga Chitra dan beberapa mebel antik dari rumah tersebut turut menjadi bagian dari interior toko, menghadirkan suasana yang personal dari toko dengan dua akses itu.
“Setelah 12 tahun, rasanya sudah waktunya Sejauh memiliki rumah. Bukan hanya tempat untuk menemukan karya-karya kami, tetapi juga ruang untuk mengenal cerita, proses, dan
orang-orang yang ada di baliknya,” kata Chitra Subyakto, di media gathering sebelum acara peresmian.
Dibuka di Plaza Indonesia pun seperti menuntaskan sebuah siklus kehidupan, karena pameran pertama Sejauh ada di mall ini tahun 2015.
Setelah berbagai pameran, kolaborasi, dan inisiatif yang berlangsung selama lebih dari satu dekade, Sejauh kini kembali ke Plaza Indonesia dengan ruang permanen pertamanya.
Foto rumah masa kecil Chitra Subyakto (kiri bawah); detail Tegel Kunci motif Ayam, serta ruang ganti dengan pelapis dinding dari tenun serat alami (kanan). Foto: Dok. Sejauh Mata Memandang
“Kehadiran toko ini menjadi kelanjutan dari hubungan yang telah terjalin sekaligus memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk mengenal Sejauh secara lebih dekat, dan melengkapi area Indonesian Icons kami di level 3 Plaza Indonesia,” ujar Zamri Mamat, Chief Marketing Officer Plaza Indonesia.
Berbarengan pembukaan Toko Sejauh, sejumlah karya baru diperkenalkan, termasuk motif terbaru dari koleksi kolaborasi bersama perupa Indonesia, Eko Nugroho. Ada pula koleksi pakaian berbahan tenun jacquard katun motif Ayam dan tenun chambray katun dalam berbagai pilihan warna, melanjutkan eksplorasi Sejauh menggunakan pewarna nabati.
Toko ini juga jadi ruang bagi Sejauh untuk menghadirkan dan menjual karya dari para kolaborator serta mitra Studio Sejauh. Karya yang dipresentasikan akan berganti secara berkala, sehingga koleksi yang tersedia di sini bisa terus berkembang bersama berbagai kerja sama yang dilakukan Sejauh.
Pada pembukaan Toko Sejauh, karya kemitraan dimulai dengan koleksi tenun dari Rumah Tenun Baku Peduli. Koleksi ini merupakan Tenun Songke dari Cibal, Flores, Nusa Tenggara Timur, yang dibuat oleh para penenun di Cibal menggunakan pewarna alami dari kekayaan alam setempat.
Pernak-pernik menggemaskan dari sisa kain; motif Ayam yang jadi signature jenama ini, menghiasi dinding Tegel Kunci. Foto: Dok. Sejauh Mata Memandang
Koleksi Tenun Songke ini sekaligus jadi bagian dari dukungan Sejauh untuk pemulihan ekonomi para penenun yang terdampak gempa bumi magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026. Seratus persen keuntungan dari penjualan kain-kain tersebut dikembalikan kepada para penenun, untuk membantu pemulihan jangka panjang dan keberlanjutan karya mereka.
“Rasanya di situasi sekarang diam saja bukan pilihan,” ungkap Chitra.
Sejauh ikut bergabung dalam gerakan #PatunganUntukHutan yang diinisiasi oleh Ferry Irwandi bersama berbagai organisasi konservasi lingkungan. Donasi Sejauh disalurkan melalui Kitabisa untuk mendukung tim di lapangan dalam mencegah kebakaran hutan, melakukan respons darurat, serta memulihkan habitat satwa terdampak.
Sejalan dengan perjalanan tersebut, Sejauh mulai memperkenalkan Digital Product Passport (DPP) pada produk-produknya. Terhubung dengan platform Mula, mitra Studio Sejauh, DPP membantu mendokumentasikan informasi mengenai produk dan rantai pasoknya, mulai dari material, asal, proses pembuatan, hingga pihak-pihak yang terlibat.
Pelanggan dapat mengakses informasi tersebut melalui kode QR pada label gantung produk, termasuk informasi mengenai perawatan, perbaikan, serta perjalanan produk setelah berada di tangan pemiliknya.
Bagi Chitra Subyakto, dibukanya toko permanen pertama ini adalah langkah menjadi jenama fashion yang lebih baik lagi. Foto: Dok. Sejauh Mata Memandang
DPP adalah salah satu bentuk penerapan prinsip sandang sirkular dari Sejauh, sehingga bisa memperkuat transparansi informasi produk, sekaligus memahami siklus hidup pakaian secara lebih menyeluruh.
“Kami ingin mengembangkan produk antara inovasi dan buatan tangan manusia,” kata Chitra tentang inisiatif ini.
Berkunjung ke rumah Sejauh Mata Memandang memang menggelitik semua panca indra kita untuk mengeksplorasi produknya, serta mengetuk hati kita untuk terus menjaga bumi yang menciptakan asal semua bahan bakunya. (f)
TOKO SEJAUH
Plaza Indonesia Level 3 (dekat akses menuju Grand Hyatt)
Jln. M.H Thamrin No.28-30, Jakarta Pusat
Baca juga:
Inspirasi Gaya Kebaya di Tahun Baru
Kain Marmer dari Adrie Basuki, Eksplorasi Fashion Sirkular Indonesia
Renjana Perca Rayakan 17 Tahun Perjalanan Karya PURANA
Zornia Harisantoso


