22 Sep 2016

Memoles Calon Bintang Para Alumni Wajah Femina

Sejumlah prestasi membanggakan di tingkat nasional maupun internasional telah ditorehkan para alumni Wajah Femina (WF). Salah satunya Patricia Gunawan (26), Pemenang II WF 2010, yang belum lama dinobatkan sebagai Runner-Up Asia’s Next Top Model sesi 4. Di balik kesuksesannya, ternyata ada Yoyok Budiman dan Ira Duaty (Pemenang I WF 1987) yang punya andil besar. Lewat polesan tangan merekalah para bintang muda ini makin bersinar.
 
Pembekalan Lanjutan
Sejak diselenggarakan pertama kali pada tahun 1986 hingga tahun 1999, para alumni WF belum terfasilitasi dengan baik dan teratur. Mereka belum memiliki manajemen dan pembekalan yang baik. Padahal, peluang pekerjaan di dunia modeling kala itu sangat besar. Untungnya, kebangkitan pertelevisian nasional membuka peluang besar di berbagai bidang selain modeling, yaitu presenting, bintang iklan, dan acting.
 
“Setelah tampil di femina, banyak tawaran pekerjaan datang kepada saya. Namun, karena tidak paham tentang honor dan juga kontrak kerja, akhirnya pekerjaan itu
dialihkan kepada orang lain. Baru pada tahun 1996, saya menjadi presenter di salah satu stasiun televisi,” kata Ira, mengenang.
 
Melihat kondisi dan pengalaman itulah Yoyok dan Ira termotivasi untuk mendirikan F&G Model Agency. Wadah ini tak hanya menjadi manajemen bagi para alumni selama 1 tahun, tetapi juga menjadi tempat belajar banyak hal seperti modeling, public speaking, dan lain-lain yang bisa didapat melalui program grooming.
 
“Waktu itu, setelah Wajah Femina usai, para alumni ‘dilepas’ begitu saja,” kata Yoyok, yang kala itu bekerja sebagai pengarah gaya untuk iklan produk, dan juga kadang membantu redaktur mode femina khusus pengarahan gaya.
 
Bagi Yoyok, pembekalan yang diberikan selama karantina WF memang cukup lengkap, tapi belum cukup bila alumni ingin bekerja. Apalagi banyak sekali finalis WF yang benar-benar pemula di bidang modeling. Walau beberapa di antara mereka pernah sekolah model dan punya pengalaman di dunia modeling, sebenarnya mereka masih sangat ‘mentah’.
 
Sejak tahun kedua penyelenggaraan WF, Yoyok memang kerap dilibatkan sebagai juri. Dari sanalah ia melihat potensi yang terpendam dalam diri tiap finalis WF, yang bila dipoles lagi dengan baik lewat bantuan tenaga profesional akan menjadi sangat istimewa.
 
Sejumlah materi pun disiapkan sesuai dengan pengalaman dan perkembangan zaman, seperti menghadirkan kelas make up dan program fashion journey. “Program ini memperkenalkan para tokoh fashion dunia yang berjaya pada tahun 1920-an dengan pose-pose mereka dari tahun ke tahun,” tambah Yoyok.
 
Dengan memiliki wawasan yang luas, diharapkan para alumni bisa berimajinasi. Mampu mengeksplorasi sendiri gerakan atau pose mereka. “Kami melatih intuisi mereka di depan kamera lewat sesi pemotretan foto composite,” kata Ira.
 
Menyarankan untuk membentuk badan agar menjadi bagus, menjaga pola makan, memenuhi nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh, dan menjaga kesehatan kulit juga merupakan bagian penting yang diberikan Yoyok dan Ira. Selain itu, diajarkan pula tentang attitude. Karena sikap yang baik terlihat dari cara berinteraksi, tepat waktu, dan tetap semangat, walau mendapat antrean waktu audisi yang paling akhir.
 
“Setidaknya ada 3 pembekalan yang kami berikan saat mereka melakukan audisi modeling, iklan, dan TV presenter. Isi pengajarannya detail sesuai perkembangan zaman dan dibutuhkan pasar,” kata Ira. Dengan adanya kelas grooming, maka semua alumni WF siap bila ada panggilan pekerjaan. Setidaknya, mereka mampu mempertanggungjawabkan gelar yang melekat, sebagai alumni Wajah Femina.

 
Membangun Kepercayaan Diri
Program grooming dihadirkan untuk mempersiapkan mental, fisik, dan pengetahuan para finalis untuk memasuki dunia modeling, hiburan, dan pertelevisian. Dengan tinggi badan yang bervariasi, para alumni tidak lagi hanya diarahkan menjadi model, tetapi juga ke bidang lain sesuai bakat yang dimiliki.
 
Seperti Harly Valentina Bastiaans (WF 2012), yang kini menjadi host di Trans TV. Tak sekadar memiliki keahlian dan bakat di bidang modeling, ia juga terampil di bidang presenting. “Itulah pentingnya kelas grooming. Selain menemukan bakat, juga mengasah calon bintang menjadi lebih siap,” kata Yoyok.
 
Demikian pula Duma Riris Silalahi. Kejelian Yoyok melihat tulang wajahnya yang bagus ternyata mengantarkan wanita asal Sumatra Utara ini menjadi Pemenang I WF 2006. “Melihat tulang muka saja, saya bisa tahu kalau seorang finalis WF layak atau tidak menjadi seorang bintang. Selebihnya tinggal dipoles. Ternyata, Duma berhasil melenggang lebih jauh. Buktinya, ia mengantongi gelar Runner-up 1 Puteri Indonesia 2007,” katanya, puas.
 
Ira mengatakan, walau sudah mendapat pembekalan seperti modeling, public speaking, presenting, dan acting selama karantina, di dalam grooming yang berlangsung selama 3-4 bulan dengan 12 kali pertemuan, alumni WF dilatih mulai dari awal lagi. Alasannya, agar mereka sama-sama mendapat pengetahuan yang sama dengan yang sudah berpengalaman.
 
“Kami membantu mereka untuk mengenali wajah. Di saat karantina, materi ini memang diajarkan, kemudian di kelas ditambahkan lebih mendalam untuk mencari angle foto yang cocok untuk mereka,” katanya.
 
Angle foto untuk tiap orang memang tidak sama. Ada yang bagus difoto frontal, menghadap 3/4, tampak kiri atau tampak kanan, sebab umumnya wajah orang tidak simetris. Agar jeli menemukan angle terbaik, para alumni dibekali lewat pelatihan fleksibilitas. Dengan demikian, tiap bagian tubuh dari ujung jari kaki dan jari tangan pun bisa tampil luwes.
 
“Kadang-kadang kami menyelipkan sesi meditasi untuk melatih imajinasi, sehingga mereka memahami benar sifat, kemampuan, dan fisik masing-masing. Sesi ini tidak dimiliki model agency lain,” tutur Ira.
 
Menurut Yoyok, selama menjadi pengajar grooming, membangun kepercayaan diri para alumni adalah yang tersulit. Maka, tiap kali pertemuan pun ia dan Ira kerap memberikan pujian agar mereka termotivasi.
 
Banyak alumni WF kurang menerima kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Namun, kepercayaan diri mereka terus dibangun dengan mengatakan bahwa kelebihan atau kekurangan yang menurut mereka aneh adalah sebuah keunikan. “Rambut keriting atau mata sipit merupakan modal awal mereka yang belum tentu dimiliki orang lain,” ujar Yoyok.
 
Menurut Ira, materi public speaking bisa sulit diajarkan dan sulit dipahami. Kendalanya, para alumni malu mendengar suara mereka sendiri. Apalagi bila aksen bahasa daerah mereka masih kental melekat.
 
Dalam pengajaran, Yoyok dan Ira memang memiliki 2 sifat berbeda. Bila Ira lebih lembut dalam mengarahkan, Yoyok justru lebih keras. Sebab dia tahu, pekerjaan di dunia hiburan seperti modeling, acting, atau presenting memang keras dan penuh tekanan. “Perlu juga adanya tekanan kepada mereka untuk menguatkan mental, sehingga mereka tidak takut saat mengikuti audisi atau casting,” ungkapnya.
 
Perpaduan antara kepercayaan diri dan mental yang kuat membuat alumni WF akan selalu siap. Siap dinilai, siap diterima, dan juga siap ditolak untuk sebuah pekerjaan. (f)
 
Foto: dok. femina group .
 


Topic

#WF2016