11 Jul 2015

Bisnis Bareng Ririn dan Riri
Ririn Ekawati, alumni Wajah Femina 2000, berbagi kisah mengenai kedekatannya dengan sang adik, Rini Yulianti, yang sedang seru-serunya  mengurus clothing line Rin Collection yang baru berjalan dua bulan, meskipun rencana bisnis ini sudah disusun sejak lama.

Mereka menjual produk lewat Instagram, sehingga memungkinkan calon konsumen belanja dari mana saja. Tak ada pembagian tugas yang jelas di antara keduanya. Siapa yang sedang tidak sibuk dengan syuting atau pemotretan, dialah yang akan mengerjakan.

Namun, berbisnis dengan orang terdekat, sedekat apa pun, selalu ada risikonya. “Memang terkadang ada beda pendapat. Tapi, segala sesuatu kami bicarakan secara terbuka, termasuk soal uang. Tidak ada rasa tidak enak hati,” kata mereka, kompak.

Rencana mereka berikutnya: membuka warung untuk ibunya. Warung Nena, namanya. Semua menu makanan sudah tersusun rapi, di antaranya soto Banjar, coto Makassar, dan ikan bakar. Saat ini mereka sedang dalam tahap penjajakan lokasi. “Inginnya di daerah perkantoran yang tidak jauh dari rumah, sehingga aksesnya mudah untuk Mama.”

Di antara berbagai kesibukan, mereka terus menjaga kedekatan, antara lain dengan traveling. Sehingga, tak mengherankan jika salah satu butir yang termasuk dalam perjanjian antara Ririn dan Michael adalah tak boleh ada larangan bagi Rini untuk traveling berdua bersama Ririn.

Michael tak keberatan. “Dia memang bukan orang yang senang melarang-larang. Saya tidak harus memberi kabar padanya  tiap saat. Dia percaya penuh pada saya. Ke mana pun saya mau pergi, boleh saja,” kata Rini, tentang suaminya yang asal Korea Selatan.
Tradisi traveling bareng paling tidak setahun sekali ini mereka mulai sejak sekitar tujuh tahun lalu, tepatnya sejak mereka masing-masing sudah bisa mencari uang sendiri. Tidak harus selalu ke destinasi yang mahal. Semua kembali lagi pada bujet. Ke mana liburan yang paling seru? ”Tokyo!” sahut mereka serempak dengan semringah.

Mereka menggemari makanan Jepang, dari   kaki lima sampai restoran. Sebelum pergi, mereka terbiasa mencari tahu resto yang menyajikan makanan paling enak dan di mana lokasi chef nomor satu. “Setelah itu kami menghitung kira-kira membutuhkan uang berapa untuk makan. Karena, untuk urusan makan, kami gila banget. Bisa dibilang, rakuslah, ha… ha… ha…. Kami juga suka dancing, jadi senang datang ke klub. Tokyo itu sangat seru, walaupun agak mahal. Tapi, itu membuat kami jadi rajin nabung,” kisah Ririn. (f)