13 Jun 2012

26 Tahun Wajah Femina
Berawal dari cita-cita sederhana, mencari model untuk menghias sampul depan majalah femina, maka Pemilihan Wajah Femina pun diadakan untuk pertama kalinya pada tahun 1986. Sebanyak 613 wanita muda dari berbagai kota di Indonesia mendaftar saat itu, mencoba peruntungan mereka di industri mode. Tahun 2012 ini, Pemilihan Wajah Femina genap berusia 26 tahun dan akan mengadakan pemilihannya yang ke-27. Dalam satu dekade terakhir, banyak perkembangan terjadi di Pemilihan Wajah Femina ini. Perkembangan yang tak hanya jadi bagian dari sejarah Wajah Femina, tapi juga sejarah bagi dunia mode, entertainment, dan media, karena banyak nama besar yang berkecimpung di bidang tersebut lahir dari   Wajah Femina.

Femina Mencari Bakat
Terbit empat kali dalam sebulan membuat kebutuhan majalah femina akan model sangat tinggi. Bayangkan, setiap tahun, majalah femina harus mencari sekitar 50 model untuk sampulnya! Belum lagi halaman mode dan kecantikan yang membutuhkan lebih dari satu model untuk setiap edisinya. “Frekuensi terbit itulah yang kemudian menuntut kami untuk mencari bibit-bibit baru. Selain itu, dulu, modeling bukanlah profesi yang populer. Pilihan model sangat terbatas. Jadi, selama majalah femina masih terbit, kami akan terus memerlukan model-model berwajah segar,” jelas Mirta Kartohadiprodjo, Dewan Pembina majalah femina.
    Selain itu, pesatnya perkembangan industri majalah di Indonesia yang memunculkan banyak majalah wanita baru makin memperkuat tujuan itu. Persaingan yang ketat menuntut femina untuk tampil beda, salah satunya dengan menampilkan model yang berbeda, yang menonjolkan ciri khas femina, dari majalah-majalah pesaing. “Sebagai majalah gaya hidup yang bertujuan memperkaya wawasan wanita Indonesia, majalah femina selalu mencari wanita yang memiliki kecantikan wajah khas wanita Indonesia dan cerdas,” lanjut Mirta.
    Cerdas menjadi syarat penting di Pemilihan Wajah Femina. Karena, selain akan menjadi model sampul majalah femina, para Wajah Femina akan menjadi representasi majalah femina. Memang, bukan kecerdasan akademis yang dicari, tapi kecerdasan inteligensi, emosi, dan karakter yang mampu mendorongnya untuk menjadi wanita dengan kepribadian menarik, perilaku yang menyenangkan, memiliki visi akan masa depannya, dan mampu  mengembangkan diri. Pada akhirnya, kecerdasan itu akan terpancar lewat mata mereka yang membuat foto-foto mereka mampu berbicara lebih banyak dibandingkan sekadar pose-pose cantik.
    Tak heran jika pada akhirnya, banyak alumni Wajah Femina  (WF) yang kemudian mampu melebarkan sayap dan berkiprah di banyak bidang selain modeling. Sebut saja  Ni Luh Sekar Herdayani (finalis WF 1998), Melinda Babyanna (finalis WF 1998), dan Ami Dianti Wirabudi yang sukses berkarier sebagai pemimpin redaksi majalah gaya hidup.
Di layar televisi, ada Andini Effendi dan Isyana Bagoes Oka (keduanya finalis WF tahun 2000) yang menjadi presenter berita. Belum lagi nama-nama baru yang merintis karier di dunia broadcast, seperti Hilyani Hidranto (Pemenang I WF 2007) yang menjadi reporter untuk ASEAN Basketball League yang ditayangkan di ESPN Sport, dan Shahnaz Soehartono (Pemenang I  WF 2009), yang menjadi reporter di Metro TV.
Ladya Cheryl (Pemenang II WF 2000), Kinaryosih (finalis WF  1997), dan Ririn Ekawati (finalis WF 2001) adalah beberapa nama yang mengisi peta perfilman tanah air sebagai aktris. Tak ketinggalan Lola Amaria (Pemenang Busana Nasional Terbaik WF 1997), yang menjadi sutradara film, dan Ayu Utami (finalis WF 1990), yang novelnya selalu menjadi bestseller.  
    Melihat kiprah para alumni di bidang entertainment dan televisi itulah yang akhirnya mendorong majalah femina untuk mengembangkan konsep Pemilihan Wajah Femina. “Pada awal tahun 2000-an, ketika industri modeling, entertainment, dan televisi berkembang  makin pesat, muncul kebutuhan lain yang bisa ditangkap oleh pemilihan semacam Wajah Femina.
Dilihat dari sejarah para alumni Wajah Femina yang banyak berkecimpung di industri entertainment dan televisi, Pemilihan Wajah Femina sudah tidak bisa lagi disebut sebagai pemilihan model saja, tapi bisa menjadi talent scout untuk berbagai bakat,” ujar Petty S. Fatimah, Pemimpin Redaksi femina.
    Jika sebelumnya di Pemilihan Wajah Femina hanya ada Pemenang I, II, III, Pemenang Busana Nasional, dan Pemenang Favorit, pada tahun 2007 ditambahkanlah satu kategori khusus, yakni The Best Catwalk. Saat itu, majalah femina melihat tingginya kebutuhan dari industri mode Indonesia terhadap bakat-bakat model catwalk baru. Karena kriteria model catwalk itu sedikit berbeda dari kriteria umum model yang digunakan majalah untuk sampul atau pemotretan mode, maka dibuatlah kategori khusus.
    “Selain postur tubuh yang tinggi dan proporsional, The Best Catwalk menilai kepercayaan diri seorang model saat berjalan di catwalk dan keluwesannya membawakan berbagai jenis busana,” jelas Petty.
Sejak tiga tahun lalu, Pemilihan Wajah Femina pun menambahkan lagi beberapa kategori khusus, yakni The Best Presenting dan The Best Acting. Penghargaan kategori khusus ini tidak hanya untuk mengisi kebutuhan industri, tapi juga memberikan kesempatan lebih besar bagi para finalis untuk menang. Karena, femina percaya bahwa ketika seseorang diberi penghargaan dalam sebuah lomba, maka kesempatan mendapatkan jalan untuk mengembangkan diri pun  makin besar.

Mengasah 'Berlian'
Penambahan kategori-kategori khusus tersebut mengubah isi karantina. Materi pembekalan yang didapat saat karantina  makin padat, tidak hanya materi modeling, public speaking, dan grooming, tapi juga ada kelas akting dan presenting dengan pengajar yang mumpuni. Sebut saja Didi Petet (aktor dan pengajar seni peran di Institut Kesenian Jakarta), yang mengajar kelas akting, dan Ratna (produser eksekutif RCTI dan pengajar dari John Robert Powers), yang mengajar kelas presenting pada karantina finalis Wajah Femina  2011 lalu.
    Majalah femina memang selalu selektif dalam memilih pengajar. Karena, ajang ini bertujuan untuk mencari bakat, dan mungkin masih banyak finalis yang belum menemukan bakat mereka. “Kelas presenting dan akting bukan bertujuan untuk menguji kemampuan presenting dan akting para finalis, tapi untuk menyingkap bakat tersembunyi para finalis. Diharapkan, materi yang diajarkan  dapat menjadi kunci dari pintu yang selama ini menyembunyikan bakat mereka,” tutur Dewi Assaad, Ketua Umum Pemilihan Wajah Femina 2012, yang telah aktif menjadi panitia pemilihan ini sejak tahun 2007.
    Aktor kawakan Didi Petet juga melihat hal tersebut saat ia mengajar kelas akting tahun lalu. Para finalis yang pada awalnya malu-malu mengeksplorasi kemampuan akting mereka, setelah diuji kembali di akhir kelas, menjadi lebih percaya diri untuk mengolah emosi sesuai tuntutan skenario. “Memang, tidak semua bisa langsung memiliki kemampuan akting yang excellent, karena ini adalah seni dan keterampilan yang perlu dipelajari dan diasah terus-menerus. Tapi, kelas ini memang bertujuan untuk membuka wawasan   tentang seni peran, dan mendorong mereka untuk menemukan bakat mereka di bidang ini,” jelas Didi.
    Pengalaman  Jeny Natalia Setiawan, Pemenang The Best Acting WF 2011,  membuktikan hal tersebut. “Sebelum ikut Wajah Femina, saya tidak menyadari bahwa saya bisa berakting, apalagi untuk adegan sedih atau menangis,” ungkap Jeny,  yang kemudian bertekad untuk mengembangkan bakat aktingnya itu.
    Tak hanya Jeny, Cynthia Amanda Silaban, Pemenang The Best Presenting WF 2011, juga merasakan hal serupa. Sebelum mengikuti Wajah Femina, wanita asal Medan ini juga sudah berprofesi sebagai penyiar radio. "Tapi, saat itu saya baru berkecimpung di dunia penyiaran radio selama 6 bulan. Siapa sangka saya bisa memenangkan Kategori Khusus Presenting ini. Apalagi, materi yang diajarkan presenting untuk televisi yang jauh berbeda dari siaran radio. Berkat Wajah Femina, saya makin yakin dengan jalan yang saya pilih," ujar Cynthia, yang bercita-cita menjadi penyiar berita, seperti idolanya, Andini Effendi.
    Untuk menemukan bakat-bakat terpendam tersebut, bersama psikolog Ratih Ibrahim, majalah femina juga melakukan tes psikologi untuk mengetahui minat, bakat, dan potensi para finalis. Meski semua finalis sebenarnya sudah menjadi pemenang, tidak semua finalis cocok dengan bidang-bidang yang dikompetisikan. Tes ini adalah salah satu cara majalah femina untuk mendeteksi hal tersebut. Sisi outer-nya dinilai melalui kelas-kelas yang diberikan saat karantina, sementara sisi inner-nya dinilai dari tes psikologi ini.
    "Selain itu, jika seseorang ingin bekerja di industri entertainment dan televisi, minat, bakat, dan potensi menjadi sangat penting, karena ia akan bersaing dengan banyak orang yang juga ingin terjun ke bidang itu. Kami perlu memastikan, dengan metode yang terukur, bahwa pemenang Wajah Femina yang kami pilih adalah yang terbaik dari yang terbaik," komentar Petty. (Eka Januwati)