Anak yang tumbuh bahagia juga perlu kedekatan emosional dengan sosok ayahnya. Foto ilustrasi: Pexels/Chevanon Photography
Kapan terakhir kali seorang ayah benar-benar mendengarkan cerita anak tanpa sambil melihat HP, memikirkan pekerjaan, atau buru-buru mengakhiri obrolan?
Pertanyaan sederhana ini mungkin terdengar sepele, tetapi bisa membuka percakapan lebih besar tentang fenomena fatherless, kurangnya kehadiran ayah di mata anak.
Di Indonesia, fenomena ini masih menjadi perhatian. Berdasarkan Pendataan Keluarga 2025 dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) atau BKKBN, angka fatherless tercatat sebesar 25,8%.
Dekat tapi jauh
Apa, sih, konsep modern fatherless itu?
Istilah ini bukan hanya menggambarkan anak yang kehilangan ayah karena perceraian atau kematian. Kondisi ini juga bisa merujuk pada anak yang memiliki ayah secara biologis, tetapi minim mendapatkan perhatian dan keterlibatan emosional darinya.
Ayah yang sibuk bekerja atau tinggal berjauhan karena tuntutan pekerjaan juga tidak otomatis membuat anak fatherless, selama hubungan dan tanggung jawab pengasuhan tetap terjaga.
Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga RI mencatat fenomena ini sebagai kondisi “seperti tidak adanya ayah.” Sederhananya, ayah memang ada, tetapi kehadirannya tidak benar-benar dirasakan anak.
Dampaknya tidak bisa dianggap sepele. Kajian yang diterbitkan di jurnal Annual Review of Sociology tahun 2013 oleh Sara McLanahan dan tim menunjukkan, anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah memiliki risiko lebih tinggi mengalami kesulitan dalam hubungan sosial dan pengelolaan emosi.
Selain itu, ketika dewasa, ia menghadapi tantangan pendidikan, serta lebih rentan mengalami masalah kesehatan mental.
Temuan ini sejalan dengan penelitian dalam jurnal Acta Paediatrica pada 2008 yang menunjukkan keterlibatan ayah berkaitan erat dengan perkembangan anak, mulai dari kemampuan berpikir, perilaku, kondisi psikologis, hingga hubungan sosial.
Dalam keseharian, minimnya kedekatan dengan ayah bisa membuat anak merasa kurang percaya diri, sulit mengungkapkan perasaan, atau terbiasa memendam masalah sendiri. Sebagian anak—terutama anak laki-laki—mungkin merasa tidak punya tempat aman untuk bercerita ketika sedang menghadapi kesulitan.
Meski begitu, bukan berarti semua anak yang tumbuh tanpa ayah pasti mengalami masalah tersebut. Penelitian menunjukkan peningkatan risiko, bukan kepastian.
Dukungan ibu, keluarga besar, teman, dan lingkungan yang positif tetap punya peran besar dalam membantu anak tumbuh sehat secara emosional maupun sosial.
Ayah sibuk kerja bukan ciri fatherless
Lalu, bagaimana jika ayah punya pekerjaan yang menyita banyak waktu? Apakah otomatis termasuk fatherless? Tentu tidak.
Kuncinya bukan sekadar berapa lama ayah berada di rumah, tetapi seberapa berkualitas hubungan yang dibangun bersama anak.
Ayah bisa mulai dari hal sederhana. Luangkan waktu untuk bermain, mengobrol sebelum tidur, mendengarkan cerita anak tanpa menghakimi, atau ikut terlibat dalam urusan sekolah dan kesehariannya.
Jangan ragu menunjukkan kasih sayang lewat pelukan, pujian, dan kalimat sederhana seperti, “Ayah bangga sama kamu.”
Bagi ayah yang bekerja jauh dari keluarga, komunikasi rutin melalui telepon atau video call juga bisa membantu menjaga kedekatan.
Menjadi ayah bukan hanya soal mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan keluarga. Anak juga membutuhkan sosok yang mau mendengarkan, menemani, dan membuatnya merasa aman.
Perasaan dicintai, didengarkan, serta tempat untuk pulang akan menjadi bekal berharga bagi anak hingga dewasa. (f)
Baca juga:
Jangan Langsung Salahkan Gizi Ketika Tinggi Badan Anak Tak Bertambah