Foto: dok. Studio Batu
Hebatnya, film ini dibuat oleh filmmaker muda, Wregas Bhanuteja (24), asal Yogyakarta. Judul Prenjak sendiri berasal dari nama burung. Berkisah tentang kehidupan karyawati bernama Diah. Pada jam istirahat, Diah mengajak Jarwo, temannya, berbicara di gudang belakang. Diah yang sedang membutuhkan uang dalam waktu cepat, menawarkan Jarwo untuk membeli sebatang korek api seharga Rp10 ribu. Dengan korek api itu, Diah mempersilakan Jarwo untuk melihat bagian tubuh Diah. Film ini diperankan oleh Rosa Winenggar dan Yohanes Budyambara.
Film berdurasi 12 menit 40 detik ini terinspirasi dari kisah nyata yang terjadi di era 80-an, di Yogyakarta, tentang para wanita yang menjual korek api di pinggir jalan, yang dibarter dengan akses untuk melihat bagian privasi tubuhnya.
Kompetisi yang diadakan oleh Syndicat Francais de La Critique de Cinema, selama penyelenggaraan Festival Film Cannes ini, bertujuan mencari sosok-sosok sutradara baru dari seluruh dunia. Beberapa ‘jebolan’ kompetisi ini yang sekarang berhasil menjadi sutradara besar, antara lain, Bernardo Bertolucci, Ken Loach, Alejandro Gonzáles Iñárritu, Guillermo del Toro, Wong Kar Wai, dan Gaspar Noé.
Dengan demikian, film ini menjadi film ketiga dari Indonesia yang pernah masuk kompetisi ini, setelah Tjoet Nja' Dhien (1989) karya Eros Djarot dan The Fox Exploits the Tiger's Might (2015) karya Lucky Kuswandi.
Dalam akun Twitternya, @Wregas, hari ini (20/5) menulis, "Teruntuk semua saudara, sahabat, dan keluarga kami di Indonesia, Kami menang! Prenjak mendapat penghargaan terbaik di Semainde de La Critique Festival de Cannes 2016, dengan nama Leica Cine Discovery Prize, pilihan juri utama," tulis Wregas, dengan demikian ia berhak membawa hadiah senilai 4000 Euro atas kemenangannya tersebut. (f)