Trending Topic
Hati-Hati Kebablasan, Inilah Tip Agar Kantong Tak Sampai Jebol Usai Lebaran

8 Jul 2016


Foto: 123RF

Nilai kebersamaan saat Lebaran makin berharga karena dalam masyarakat modern, dengan teknologi yang memungkinkan orang untuk berkomunikasi secara intensif tanpa bertemu langsung, komunikasi tatap muka menjadi  makin langka. Tak heran jika, meski tak selalu mudik, Eka Kusmayaningrum (28), dokter gigi dan guru privat, selalu menjadwalkan untuk mengunjungi sanak saudara saat Lebaran.
           
Di momen istimewa itu, Eka tak mau datang dengan tangan kosong. Ia tak pernah lupa untuk berbagi bingkisan dengan sanak saudara, baik itu sekadar  antaran buah dan kue, atau hadiah bagi para keponakan. Bagaimanapun caranya, ia selalu mengalokasikan anggaran khusus untuk bingkisan bagi keluarga di hari raya. Termasuk ketika kondisi keuangan keluarganya sedang tidak stabil.
           
Tahun lalu, setelah melahirkan, ia sempat berhenti bekerja untuk mengurus bayi. Otomatis, sumber penghasilan keluarga mereka berkurang. “Apalagi suami saya juga sedang menjalani pendidikan lanjutan sehingga hanya bekerja lepas. Jadi, ia juga tidak mendapat THR,” ujarnya.
           
Tanpa disadari, pengeluaran yang membengkak mulai dari saat Ramadan hingga Lebaran membuat tabungan mereka menipis. “Total pengeluaran saya saat Lebaran tahun lalu lebih dari Rp5 juta. Mungkin jumlah ini tidak terlalu besar. Tapi, kondisi saya sedang tidak berpenghasilan, sementara  penghasilan suami pun tidak tetap,” jelasnya.

Pengeluaran terbesar Eka saat itu adalah pemberian uang tunai dan bingkisan untuk keluarga yang mencapai Rp2 juta. Selain itu, ia juga harus memakai jasa pengasuh bayi inval sebesar Rp2 juta.
           
Menurut perencana keuangan independen dari Zap Finance, Prita H. Ghozie, saat Lebaran memang ada pos-pos pengeluaran yang sifatnya tidak biasa, seperti mudik, memberi angpao dan bingkisan, atau menyiapkan hidangan khusus. “Ini hal yang wajar. Karena itu, perusahaan memberi THR bagi karyawannya untuk mengantisipasi hal ini. Sehingga, gaji yang biasanya digunakan untuk biaya hidup sehari-hari tidak terusik,” jelasnya.
           
Dengan perencanaan yang tepat, pembengkakan pengeluaran saat Lebaran bisa dihindari. Seperti pengalaman Eka, Prita mengatakan bahwa pos  untuk antaran Lebaran memang harus diwaspadai karena umumnya membengkak. “Untuk menghindarinya, jika perlu kita simpan dana Lebaran dalam rekening yang terpisah dari tabungan maupun biaya hidup sehari-hari,” sarannya.
           
Meski harus berhati-hati dalam mengelola dana, tidak berarti kita harus jadi pelit karena takut kebablasan mengeluarkan uang saat Lebaran. “Ini adalah momen untuk berbagi rezeki dengan sesama, mulai dari keluarga, asisten rumah tangga, hingga orang yang tidak mampu. Karena itu pula kita diwajibkan untuk membayar zakat fitrah, ‘kan,” katanya.

Secara psikologis, dalam suasana perayaan seperti Lebaran, seseorang memang berisiko  larut dalam kebahagiaan hingga melupakan banyak batasan. Tak hanya dalam hal makan, tapi juga pola belanja dan aktivitas sosial. Oleh karena itu, detoksifikasi penting untuk dilakukan, tak hanya untuk detoksifikasi tubuh, tapi juga pikiran dan finansial.

Advertisement
“Penting untuk menjaga diri agar tetap realistis. Tak masalah jika ingin bersenang-senang, namanya juga merayakan kesuksesan Anda menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh. Tapi, jangan sampai Anda melupakan esensi Idul Fitri yang sesungguhnya,” papar psikolog Adriana Ginanjar.

Setelah Lebaran, masih ada hidup yang harus Anda jalani. Jangan sampai, gara-gara ‘kebablasan’ saat Lebaran, hidup Anda di bulan-bulan lainnya berantakan.
           
Demikian juga dengan Eka. Setelah Lebaran usai, betapa shock-nya ia ketika melihat saldo tabungan yang tiris hingga kurang dari 1 juta rupiah. Eka dan suami pun sepakat menggadaikan sebagian logam mulia simpanan untuk biaya hidup.

“Ditambah dengan sisa tabungan melahirkan dan penghasilan suami dari pekerjaan lepas, kami survive untuk melanjutkan hidup hingga sebulan ke depan. Meski memang harus melakukan penghematan besar-besaran,” papar Eka, yang mengurangi acara jalan-jalan dan makan di luar demi berhemat.

Melihat saldo rekening yang besar memang akan membuat kita mudah tergoda untuk melakukan pengeluaran secara impulsif di awal bulan. Sehingga tak disadari, kita tidak menyisakan dana kas di akhir bulan. Prita menekankan, jika kondisi keuangan kita memburuk setelah Lebaran, segera perbaiki. “Menundanya akan membuat kondisi keuangan yang buruk  makin parah. Apalagi  jika Anda menggunakan kartu kredit di periode bulan Ramadan, maka beban utang Anda setelah Lebaran pasti bertambah,” ujarnya.

Dalam upaya memulihkan kondisi keuangan, prioritas utama Anda adalah biaya hidup yang pokok dan melunasi  utang, jika ada. “Mungkin untuk sementara Anda harus rela tidak memiliki jatah belanja pribadi. Dalam kasus Eka, tindakannya berhemat dengan mengurangi makan di luar sudah tepat. Sehingga, saat mendapat pemasukan lagi, ia bisa segera menebus logam mulia yang digadaikan,” jelas Prita.

Eka berujar, kejadian itu menjadi pelajaran berharga baginya, sehingga pada Lebaran berikutnya ia lebih terencana dalam mengatur dan menyiasati pengeluaran Lebaran. Meski begitu, ia tidak menyesali kejadian tersebut. Menurutnya, pengeluaran itu adalah untuk kebaikan karena ia bertujuan untuk berbagi dengan keluarganya.

Berbagi dengan sesama memang salah satu esensi dari Idul Fitri. Meski begitu, jangan sampai kita juga menjadi berlebihan melebihi kemampuan. “Selama tiga puluh hari beribadah puasa, kita tidak hanya melakukan detoksifikasi biologis atau fisik. Dengan menahan hawa nafsu dan amarah, kita juga sudah melakukan detoksifikasi nonfisik. Jangan sampai apa yang sudah kita capai selama sebulan penuh menjadi kehilangan makna justru di saat Lebaran,” ujar Dra. Ida Ruwaida Noor, M.Si, Dosen Sosiologi, FISIP UI.

Menurutnya, social gathering tidak harus dimaknai horizontal, tapi justru harus diutamakan yang vertikal dengan orang-orang yang kurang beruntung dibandingkan kita. Kebiasaan silaturahmi dan memaafkan juga bisa berlanjut, tidak hanya saat Lebaran. “Ini detoksifikasi sosial yang bisa kita lakukan usai Lebaran. Bagaimana meneruskan kebiasaan untuk memaafkan dan memberi setelah Ramadan dan Lebaran, sehingga kesalehan sosialnya lebih melekat dan tercermin,” ujarnya.

Ida lalu menambahkan, selama ini, masyarakat kita terlalu fokus pada kesalehan individu saja. Padahal, kepekaan dan kepedulian kita terhadap kehidupan sosial juga krusial karena kebersamaan atau social togetherness baru akan terbangun kalau kita punya social respectability dan social responsibility. Nilai-nilai inilah yang perlu lebih dikembangkan. (f)
 


Topic

#PuasadanLebaran

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?