Seseorang yang Tidak Bersuara Saat Marah Berisiko Menderita Sakit Punggung
13 Dec 2016
Apakah Anda termasuk orang yang
mengeluarkan emosi saat beradu pendapat, atau justru memendamnya di dalam hati? Menurut penelitian yang dilakukan oleh psikolog
Dr. Robert Levenson dari University of California, Berkeley, AS, cara kita
meluapkan emosi dapat memprediksi penyakit yang akan diderita nantinya.
Penelitian ini diterbitkan di jurnal berjudul
Emotion, yang dilakukan tim peneliti yang dipimpin Robert selama 20 tahun dengan menganalisis kehidupan pasangan yang menikah. Para peneliti pun memerhatikan cara pasangan bertengkar dalam waktu 15 menit, dari ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan nada suara. Lalu tiap lima tahun sekali, ditelitilah penyakit-penyakit yang mereka derita.
Hasilnya, pasangan yang selama bertengkar lebih ekspresif alias meluapkan emosinya terang-terangan,
berisiko terkena sakit dada, tekanan darah tinggi, dan
masalah kardiovaskular. Sedangkan mereka yang lebih suka menunjukkan kemarahan dengan bersikap diam, termasuk menghindari kontak mata, lebih besar risikonya untuk terkena
sakit punggung, leher kaku, dan penyakit otot lainnya.
“Selama bertahun-tahun kami tahu kalau emosi negatif dikaitkan dengan masalah kesehatan. Dengan penelitian yang lebih dalam, kami bisa menemukan risiko kesehatan yang lebih detail. Ini dapat membantu orang untuk lebih mengatur emosi agar memiliki kehidupan yang lebih berkualitas,” jelas Robert.
(f)
Topic
#emosidanpenyakit