Foto: Dok. Femina Group
Menurut pemerhati sejarah Palembang, Kms. H. Andi Syarifuddin, pempek dikenal dengan nama kelesan di masa kesultanan, yang berarti tahan disimpan lama.
Pempek mulai dijual di masa kolonial, dibuat oleh warga Melayu dan dijajakan oleh warga Tionghoa. Penjajanya dipanggil dengan sebutan ‘empek’, yang berarti paman.
Pindang ikan juga terkenal, bercita rasa asam-pedas dari nanas dan air asam jawa, dan tanpa santan. Selain berisi ikan patin, ikan baung, cumi, dan udang satang (udang galah), coba yang belum umum, yakni pindang ikan lais (ikan asap).
Martabak telur gaya lokal tersaji dengan diiringi kuah kari kambing dan kentang. Nama lainnya martabak tambi, dipopulerkan oleh HAR (Haji Abdul Rozak), yang merupakan keturunan India.
Rekomendasi kuliner:
• Pempek Saga “Sudi Mampir”, Jl. Merdeka No.8/ 22 Ilir
• Pindang Sophia, Jl. KHM Asyik Belakang Sekta V SU.1
• RM Pindang Musi Rawas, Jl. Angkatan 45 No.18
• Mie Celor H. Syafei, Jl. Merdeka No.54
• Warung Aba (Lakso, Burgo, Celimpungan), Jl. Dr. M. Isa No.26/15
• Nasi Minyak H. Saudi, Jl. Lingkaran 1 No. 284
• Cipta Rasa/ Globe Cinde (nasi goreng merah), Jl. Jend. Sudirman No. 906A (f)
Topic
#foodstory, #kulinerpalembang, #palembang, #wisatakuliner, #traveling