Koleksi ini mengeksplorasi gagasan tentang jejak waktu, alam, dan transformasi yang membentuk karakter sebuah karya yang elegan, effortless dan timeless.
Visual utama di lokasi show adalah pohon besar, melambangkan kekuatan akar, pertumbuhan, dan perubahan. Filosofi tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam desain yang terinspirasi oleh lanskap berlumut, vintage tapestry, motif botani, hingga interpretasi pola harimau Tibet.
Palet warnanya tenang–hijau lumut, forest green, biru porselen pucat, biru Prussia, ecru, mocha, hingga berbagai rona cokelat bumi mendominasi koleksi.
Dari sisi siluet, Biyan menampilkan banyak potongan feminin yang lebih santai. Garis tubuh yang ramping, pinggang rendah atau dropped waist, konstruksi peplum, serta tailoring yang ringan menjadi elemen penting dalam koleksi ini.
Makna Patina tampaknya juga ikut merepresentasikan para perempuan anggun klien Biyan yang memenuhi front row. Terdengar bisik-bisik kekaguman akan detail intricate busana di runway, serta bagaimana mereka berkomentar merasa stand out dan jadi pusat perhatian dalam busana koleksi rumah mode ini.
Ketika Mariana Renata muncul kembali sebagai model pamungkas show ini, Patina pun pantas disebut refleksi tentang bagaimana waktu dapat memperkaya makna dan karakter, baik pada tekstil maupun pada individu yang mengenakannya.
Di era ketika tren datang dan pergi dalam hitungan minggu, Patina menawarkan perspektif yang berbeda–keindahan tidak selalu tentang sesuatu yang baru, tetapi juga tentang bagaimana sesuatu berkembang, berubah, dan memperoleh cerita sepanjang perjalanannya.
Bagi kamu yang mulai mencari gaya personal di luar tren sesaat, koleksi ini seperti a warm reminder bahwa fashion tak lekang waktu sering kali lahir dari perpaduan antara warisan, kerajinan, dan keberanian untuk terus berevolusi. (f)
Zornia Harisantoso