”Sejak saya kuliah di jurusan teknik komputer, jumlah mahasiswinya memang jauh lebih sedikit dibanding mahasiswa. Hanya sekitar 20 persen. Itu pun setelah lulus tidak semuanya bekerja di bidang TI. Jadi, tidak heran kalau jumlah wanita yang berkarier di bidang TI tidak sebanyak pria. Menurut kolega saya di Twitter Amerika, di sana pun kurang lebih sama kondisinya,” ujar Aulia Halimatussadiah (32), founder nulisbuku.com, salah satu penggerak komunitas GirlsinTech di Jakarta.
Hal ini juga diakui Deche Pangestu (30), Chief Technical Officer Tororo.com. “Sejauh ini kiprah wanita dalam bidang programming masih sangat sedikit. Mungkin dari 10, hanya 2 wanitanya,” ujarnya. Meski, tak dipungkiri, masih sedikit wanita yang terjun ke dunia TI, menurut Calvin, ini bukan karena wanita tidak memiliki kapabilitas di bidang TI, tapi lebih karena pilihan wanita sendiri. Bisa jadi, pilihan itu tidak ada karena orang tua mereka yang tidak mengenalkan dan mengizinkan anak perempuannya akrab dengan dunia TI.
Harus diakui, jumlah wanita programmer memang sedikit. ”Padahal, menurut bocoran dari seorang teman, wanita yang bekerja di industri software mendapat penghasilan yang lebih besar ketimbang pria. Saya ingin mendorong wanita belajar coding,” ujar Wahyudi.
Ia menambahkan, meski banyak orang berpikir coding dan developing melulu urusan teknik, sesungguhnya, saat ditangani wanita, hasilnya biasanya akan lebih istimewa. ”Biasanya, wanita lebih detail dan memiliki kekuatan dalam menciptakan visual yang lebih indah dilihat. Sebenarnya bukan soal kemampuan teknik yang diperlukan,” ujarnya. (f)