Dalam wacana ini wanita dianggap memiliki kekuatan besar sebagai agen perdamaian, mengajak bertoleransi dimulai dari dirinya sendiri, keluarga dan masyarakat sekelilingnya. Wanita yang sejatinya memuja keharmonisan akan mudah mentrasformasikan dirinya menjadi agen perdamaian dan toleransi.
Hal ini bisa digambarkan dengan istilah The Butterfly Effect dalam Chaos Theory, yang mengatakan bahwa kepakan sayap kupu-kupu yang terkesan lemah di pedalaman Amazon ternyata bisa menyebabkan terjadinya badai besar di Dallas, Amerika Serikat beberapa waktu kemudian. Apapun yang dilakukan seseorang akan memberi pengaruh kepada orang lain, baik kita menyadarinya atau tidak atau sekecil apapun peran yang dimilikinya.
Woman in Peace hanyalah satu dari topik yang akan dibicarakan di IWC nanti. Konferensi yang terdiri dari beberapa sesi ini juga akan fokus pada topik Women in Environment, Ethical Leadership, dan Social Media. Aneka topic menarik ini akan disampaikan oleh para pembicara yang andal di bidangnya.
IWC sendiri adalah konferensi yang terdiri dari beberapa diskusi panel menampilkan kontribusi penting wanita di bidang lingkungan, pembangunan berkelanjutan dan perdamaian. Konferensi ini juga menyediakan platform global bagi wanita, terutama pembuat kebijakan, pengambil keputusan, serta opinion leaders, untuk berdialog dan bertukar pengalaman. Anda bisa menari info lebih lanjut di website www.iwc.artofliving.org
IWC diselenggarakan oleh The Art of Living Foundation. Yayasan yang didirikan 35 tahun lalu oleh Sri Sri Ravi Shankar di Bangalore, India ini berakar pada spirit bangsa India. Dimana di dalamnya terdapat nilai-nilai universal dan filosofis yang didapat melalu sarana latihan bernafas, olahraga, hingga makanan. The Art of Living telah hadir di lebih dari 140 negara, dengan aneka program dan inisiatif memerangi kemiskinan, serta konflik, di seluruh dunia. (f)