Ia juga banyak bercerita tentang bagaimana rasanya menjadi aktivis dan penulis yang menjadi target pembunuhan. Sosok Nawal sebagai seorang anak muncul ketika ia menceritakan saat ia kehilangan orang tuanya.
Sebagai anak tertua kedua, ia pun menanggung beban menghidupi dan mengasuh ketujuh adiknya. Nawal memang sangat dekat dengan ayahnya karena beliaulah yang mengajarkannya untuk memiliki harga diri dan keberanian untuk mengutarakan pendapat.
Lewat kisah hidupnya ini, Nawal tak segan menggambarkan pemikirannya yang terbuka dan karakternya yang gigih. Perjuangannya itu berhasil membawanya mendobrak batas-batas yang disematkan adat dan agamanya untuk wanita. Ia membuktikan diri lewat prestasi dan perjuangan tanpa henti untuk hak-hak wanita muslim.
Cara Nawal menuturkan kisah hidupnya dengan penuh kejujuran dan lewat kalimat-kalimat yang puitis membuat buku ini sangat inspiratif dan empowering.
LUCIA PRIANDARINI (KONTRIBUTOR - Jakarta)
FOTO: DOK. FEMINA GROUP