Tangan kiri Bojan.Z dinamis mengetuk-ngetuk bagian dalam piano menghasilkan bunyi eksperimental, sedangkan jemari kanannya lincah menari di atas tuts hitam putih. Itulah sekelumit aksi pianis jazz asal Serbia dalam penampilan perdananya di Goethe Haus, Jakarta, Selasa kemarin (19/02).
Meskipun hanya ditemani piano akustik dan sebuah piano elektrik, Fender Rhodes, Bojan mampu memberikan suguhan menarik lewat 9 lagu gubahannya yang mayoritas diambil dari album Soul Shelter.
Pianis berkepala plontos ini rupanya senang berinteraksi dengan penonton, ia tak segan menceritakan satu per satu lagu yang dibawakannya malam itu.
Misalnya lagu Bohemska yang bernuansa arabian dalam susunan melodinya, ia tujukan untuk kaum nomaden, seperti kaum gypsy, para musikus, dan pelancong yang gemar melintas berbagai wilayah maupun negara.
Terinspirasi akan keindahan kampung halaman di Belgrade, Sarajevo ia pun mengomposisi lagu bertajuk Hometown.
Pria yang meraih gelar “Chevalier de l’ordre des Arts et des Lettres", penghargaan prestisius dari pemerintah Perancis ini juga menyuarakan kritikan sosialnya terhadap ancaman kepunahan gajah-gajah Afrika melalui sentuhan piano klasik dalam lagu Don’t Buy Ivory dari album terdahulunya , Solobsession.
Pianis yang meraih penghargaan musisi terbaik tahun 2001, Django Reinhardt dari Akademi Jazz Perancis ini menunjukkan kerapuhan emosional saat membawakan lagu Dad’s Favorite. Lagu ini salah satu yang spesial, karena mendiang sang ayah yang juga seorang pianis, mewarisi sebuah alunan melodi yang terus terngiang di kepala Bojan yang mendorongnya untuk melakukan eksplorasi lebih dalam menjadi sebuah gubahan lagu utuh.
Menutup konser semi-akustiknya selama 1,5 jam, Bojan mencoba menyebarkan semangat optimisme lewat sebuah lagu cover, Duke Ellington berjudul On A Turquoise Sky. Tur Bojan ini akan dilanjutkan di IFI Bandung pada 21 Februari dan IFI Yogyakarta pada 23 Februari.
Woro Hartari Trianti