Osteoporosis adalah kelainan tulang yang ditandai oleh berkurangnya kepadatan tulang
Selain osteoblas, ada juga osteoklas yang justru bekerja untuk merusak tulang. Dalam keadaan seimbang, tulang yang sudah tua akan dirusak oleh osteoklas, lalu dibentuk kembali oleh osteoblas. Namun, kemampuan osteoblas dan osteoklas bisa saja menjadi tidak seimbang. Sehingga, tulang yang menua akan tetap dirusak oleh osteoklas, tapi tidak diimbangi dengan kemampuan osteoblas untuk membentuk tulang baru.
Kemampuan osteoklas merusak tulang itu selama 3 minggu, sedangkan pembentukan tulang membutuhkan waktu lebih lama, yaitu 3 bulan. Akibatnya tulang menjadi mudah patah, bungkuk hingga berkurangnya tinggi badan.
Apa penyebabnya?
Berdasarkan penyebabnya, osteoporosis dibagi menjadi dua, yaitu osteoporosis primer dan osteoporosis sekunder. Osteoporosis primer berkaitan dengan kekurangan hormon (khususnya wanita) dan bertambahnya usia serta penuaan (degeneratif). Sedangkan osteoporosis sekunder disebabkan oleh berbagai keadaan klinis tertentu atau penyakit lain.
90% wanita memiliki gejala osteoporosis, dan 32,3% di antaranya telah menderita penyakit ini.
Berdasarkan penelitian, tulang wanita memang cenderung lebih mudah keropos jika dibandingkan dengan pria, sehingga risiko osteoporosis menjadi lebih tinggi pada wanita. Hal ini disebabkan oleh hormon estrogen yang memiliki peranan penting dalam pembentukan tulang, akan menurun produksinya menjelang masa menopause, di atas usia 40 tahun. Umumnya yang terjadi pada wanita adalah osteoporosis primer yang disebabkan oleh kadar hormon estrogen yang rendah tersebut. Maka, penting bagi wanita untuk mencapai puncak massa tulang yang terjadi hingga usia 30 tahun.
Seseorang disebut mengalami osteoporosis, bila densitas massa tulangnya minus 2,5 DMB (density mass bone). Bila minus 1,5 DMB belum disebut osteoporosis, namun sudah dikatakan osteopenia.
Apa Itu Osteopenia?
Osteopenia adalah kondisi di mana seseorang dianggap memiliki gejala osteoporosis. Osteopenia ini biasanya terjadi di usia muda, di mana kondisi DMB tulangnya berada di bawah angka 1 DMB hingga 2,5 DMB. Namun, penderita osteopenia tak berarti akan menderita osteoporosis. Karena, dengan perawatan yang tepat, massa tulangnya dapat ditingkatkan secara perlahan-lahan.
The Silent Disease
Penyakit osteoporosis tidak memiliki gejala yang jelas, dan baru terdeteksi ketika penderita mengalami patah tulang. Itulah sebabnya, penyakit ini disebut sebagai silent disease. Umumnya, penderita osteoporosis rentan mengalami patah tulang pada panggul, pergelangan tangan, dan tulang belakang. Untuk mendiagnosis penyakit ini ada beberapa cara, seperti pemeriksaan kepadatan tulang (bone densitometry) yang merupakan standar diagnosis penyakit osteoporosis, USG, serta CTx (C-Telopeptide). Pemeriksaan DMB dapat memberikan informasi secara lebih baik. Namun sayangnya, tidak tersedia secara luas dan hanya ada di rumah sakit besar.
Menurut dr. Bambang, sebaiknya seorang wanita melakukan pemeriksaan DMB lima tahun setelah menopause, sedangkan bagi pria, di atas usia 60 tahun. Tak ada salahnya mengetahui kualitas tulang Anda sejak dini, agar jika terindikasi kondisi tulang yang rapuh dapat dicegah sebelum benar-benar terserang osteoporosis.
Cara Pengobatan
Osteoporosis bukan tidak mungkin disembuhkan. Ada beberapa langkah medis yang bisa ditempuh, seperti terapi hormon dan minum obat-obatan yang kini makin canggih. Namun, karena osteoporosis merupakan penyakit degeneratif, maka perlu waktu yang lebih lama untuk penyembuhannya. Pada wanita, hormon pengganti memberi hasil baik untuk mengatasi keluhan seputar menopause sekaligus meningkatkan kepadatan tulang. Namun, penggunaan hormon pengganti terus-menerus dalam waktu lama akan memiliki efek jangka panjang, seperti masalah kanker payudara hingga stroke.(f)