Dalam perjalanan ke Sumatra Barat kali ini, femina tak hanya berhenti di Padang, tapi juga mampir di Bukittinggi. Di antara kedua kota itu, tepatnya di Jl. Raya Padang-Bukittinggi Km.6, ada sebuah titik yang menarik perhatian: Pondok Lamang Pak Pangeran. Dalam 24 jam, ada saja pelintas yang mampir untuk menikmati lamang dan kawa daun di sini.
Lamang adalah ketan matang dari beras ketan, santan, dan garam yang dimasukkan ke dalam bambu berlapis daun pisang di bagian dalam bambu. Setelah bambu dibakar hingga matang, bambu dipecah dan lamang dipotong-potong.
Titik ternikmat lamang ditemukan saat disantap bersama daging buah durian yang legit. Sepadan sekali dengan gurihnya lamang! Beda halnya saat lamang dinikmati bersama tapai ketan hitam, rasanya mirip sensasi menyantap tapai uli. Asam-gurih-segar!
Menikmati lamang tak lengkap tanpa menyeruput kawa daun. Kawa yang berarti kopi dalam bahasa Minang, dibuat dari irisan daun kopi yang dibakar lalu direbus hingga seduhannya kecokelatan. Kawa daun sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Dulunya, berton-ton biji kopi yang dihasilkan dari pohon kopi yang tersebar hampir di sepanjang jalan raya Padang-Bukittinggi hanya dinikmati kaum bangsawan, sedangkan masyarakat biasa harus cukup puas dengan rebusan daun kopi ini.
Minuman ini tentu tidak terlalu terasa kopi, justru hampir mirip air teh tanpa gula. Ingin yang manis? Cukup tambahkan susu kental manis yang memang disediakan untuk yang ingin mengejar rasa.(f)
Alamat: Jl. Raya Padang-Bukittinggi Km.6, Sumatra Barat. Jam buka: 06.00 – 24.00 WIB. Harga*): Rp5.000-Rp40.000. Suasana: Warung sederhana pinggir jalan, berlatar hutan pohon kopi.
*)Harga dapat berubah sewaktu-waktu, cek sebelum bersantap.