Dunia peran yang tak pernah berhenti mencari bakat baru membuka pintu peluang lebar-lebar bagi mereka yang memang beraspirasi untuk menjadi sukses dan terkenal. Di tengah wajah-wajah baru yang menghiasi layar lebar dan layar kaca, ada Ratu Tika Bravani (23). Mengaku sebagai gadis ‘biasa’, mahasiswi fakultas ekonomi jurusan akuntansi ini diam-diam sudah mengantongi beberapa penghargaan. Prestasi terbarunya, terpilih memerankan Fatmawati dalam film Soekarno: Indonesia Merdeka garapan Hanung Bramantyo.
“Saya ini orang biasa, kok. Bertemannya juga dengan orang biasa,” ujar Tika, saat dirias untuk pemotretan sampul femina beberapa waktu lalu. Memang, jauh dari citra selebritas yang glamor, wanita kelahiran Denpasar, 17 Februari 1990, ini pagi itu memilih untuk tampil kasual dengan jaket dan legging. Karena jarang melakukan pemotretan, Tika merasa waswas harus berpose di depan kamera. “Soalnya saya sama sekali tidak berbakat modeling,” akunya, tertawa.
Di balik kerendahan hati itu, tersimpan bakat akting besar yang siap diasah. Salah satu buktinya adalah Piala Vidia Festival Film Indonesia yang ia terima tahun 2012 untuk perannya dalam Pahala Terindah. Penghargaan untuk Pemeran Pendukung Wanita FTV Terbaik ini menjadi kejutan bahkan untuk Tika sendiri, yang tidak begitu berharap akan menang. Di ajang yang sama, tahun 2010, Tika juga mendapat nominasi Pemeran Utama Wanita Terbaik untuk perannya dalam film Alangkah Lucunya (Negeri Ini). Sayang, waktu itu ia dikalahkan Laura Basuki.
Tika boleh saja bergaul dengan orang biasa di kehidupan nyata. Tapi, di depan kamera ia sudah bersanding dengan banyak aktor senior, sebut saja Reza Rahadian, Slamet Rahardjo, dan Tio Pakusadewo, yang menjadi lawan mainnya dalam Alangkah Lucunya (Negeri Ini). Peran sebagai wanita urban dengan moral yang dipertanyakan dalam film garapan Deddy Mizwar itu agaknya menjadi batu loncatan karier Tika di dunia hiburan. “Tawaran casting datang tidak diduga-duga. Kebetulan saya dan putrinya Kang Deddy sama-sama mengikuti ajang pemilihan Abang None Jakarta 2009,” ungkapnya.
Keseriusan Tika dalam mendalami karakter juga terbawa sampai ke peran-peran lain, termasuk dalam film Soekarno: Indonesia Merdeka yang kini sedang merampungkan proses syuting. Tika harus mencari banyak referensi sejarah tentang ibu penjahit bendera Indonesia itu. “Saya ingin mempelajari keseharian ibu negara Indonesia pertama itu, mulai dari gaya berpakaian hingga gaya berbicaranya,” ujar Tika.
Selain membaca buku biografi, Tika juga bertemu dengan putra sulung Fatmawati, Guntur Soekarnoputra, yang dengan senang hati bercerita tentang ibundanya. “Beliau bercerita banyak tentang kepribadian Ibu Fatmawati, misalnya tentang logat Bengkulu yang kental, dan sikapnya yang saklek khas orang Sumatra,” tutur Tika.
Dibanding bermain tokoh fiktif, memerankan tokoh sejarah membutuhkan keberanian dan memberi pressure tertentu bagi sang aktor. Tika juga merasakannya. “Saya tidak bisa sembarangan mengeksplorasi, tapi di saat yang sama saya juga harus menginterpretasikan sendiri karakternya. Ini tantangannya,” kata Tika. Meski begitu, ia siap menghadapi kritik positif dan negatif yang datang saat film ini dirilis, Desember 2013. “Biar orang lain yang menilai, yang penting saya sudah mengusahakan yang terbaik,” katanya.