Trending Topic
Tak Pernah Puas

14 Sep 2015

Besok harus lebih baik dari hari ini. Itulah prinsip sebagian besar orang, dan mungkin Anda salah satunya. Bukan karena bosan, tapi memang pada dasarnya manusia selalu ingin menjadi lebih baik, dari segi materi maupun kepuasan pribadi. Namun, jangan asal jadi lebih, jadikanlah pencapaian itu bermakna.

Setelah booming olahraga lari saat car free day, event lari 10 km kemudian bermunculan dan dibanjiri peserta. Selanjutnya, lari maraton yang dulunya mungkin tak terbayang akan dilakukan orang biasa, bukan atlet, perlahan makin diminati.
   
Fenomena hampir sama juga terlihat di media sosial. Perhatikan saja bagaimana foto-foto yang beredar kian hari kian menantang adrenalin, makin sulit, dan rumit. Pose-pose yoga yang diunggah tidak lagi sekadar gerakan dasar yang indah, melainkan pose yang menuntut penguasaan teknik yang sulit di tempat-tempat yang tidak biasa, seperti pose tubuh terbalik dengan bertumpu pada tangan (handstand) di atas batu karang atau pose mirip akrobat yang dilakukan berdua pasangan.

Demikianlah manusia. ”Dari sananya (baca: by default, atau inheren) manusia memang tercipta dalam gerak dinamis untuk selalu berkembang,” ujar Andreas Toto Subagyo, seorang life coach.

Dorongan yang manusiawi ini paling mudah diamati pada anak kecil yang sudah mulai mampu mengenali ‘dunia di sekitarnya’. Dia akan habiskan waktunya untuk bermain-main, atau lebih tepatnya: mengeksplorasi bermacam-macam benda di sekelilingnya. Semuanya menimbulkan kegembiraan karena semuanya adalah pengalaman atau mainan baru baginya.
Advertisement

Sepakat dengan itu, psikolog sosial Bagus Takwin mengatakan, ”Manusia itu makhluk yang self trancendence, ia selalu terdorong untuk melampaui dirinya.” Itu sebabnya, setelah lulus sekolah dasar, seseorang ingin lanjut ke sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, hingga universitas untuk mencapai S-1, S-2, bahkan S-3.

Fenomena itu mencerminkan ‘gairah’ yang masih hidup dalam diri seseorang, yakni gairah untuk selalu lebih berkembang. Demikian menurut Toto. Tanpa gairah semacam itu, orang sudah lama mati, bahkan meskipun secara fisiologis dan biologis masih ada gejala kehidupan dalam dirinya.

”Gairah itu pula yang antara lain membedakan spesies manusia dengan spesies lain. Dari zaman batu sampai sekarang, sarang burung manyar, ya, tetap begitu-begitu saja, meskipun kita mengagumi ‘kegeniusan’ burung manyar ketika membangun rumahnya. Berbeda halnya dengan hunian manusia. Ada ribuan bahkan jutaan variasi arsitektur rumah bagi manusia,” papar lulusan Loyola University Maryland, Amerika Serikat, ini.

Toto menjelaskan, karena manusia adalah juga makhluk rohaniah, maka gairah tersebut tidak hanya tertuju pada hal-hal yang bersifat fisik atau materi. Gairah tersebut pula yang membuat sains dan teknologi berkembang pesat, termasuk juga filsafat, metafisika, dan spiritual. Sekali lagi, dari sananya manusia haus akan sesuatu-yang-lebih-besar-dari-dirinya. (f)




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?