Menolak itu tidak selalu buruk. Namun, memang memerlukan kepandaian untuk memilih fakta mana yang perlu disampaikan. Misalnya, dari investigasi kecil-kecilan, Anda mendapat informasi bahwa perusahaan tujuan itu ternyata tidak bonafide. Tak perlulah menyampaikan fakta tersebut kepada atasan, karena nanti dia malah terhina karena dinilai tidak mampu memilah perusahaan yang prospektif. Menyembunyikan fakta bukan berarti berbohong, kok.
Selain itu, Anda juga perlu melihat alasan di balik pengunduran diri atasan. Ada yang karena alasan sakit hati akibat konflik internal, ada juga yang melihat peluang perkembangan diri. Itu adalah dua hal berbeda. Alasan atasan itu juga sebaiknya menjadi bahan pertimbangan Anda untuk menolak.
Contohnya, Anda menolak dengan mengatakan, “Mbak, maaf, ya, saya masih mau di sini saja, soalnya saya senang sekali dengan budaya kerja di sini. Teman-temannya juga seru.” Padahal, dia mundur dari perusahaan karena alasan sakit hati pada anggota tim dan pada perusahaan. Itu berarti alasan penolakan Anda hanya akan menambah rasa sakit hatinya.
Ketika menolak, ungkapkan rasa apresiasi Anda atas tawaran atau ajakan dia. Tapi, sampaikan juga dengan jujur, apa yang membuat Anda tidak bisa menerima tawaran itu. Misalnya, katakan bahwa Anda sedang mempersiapkan pernikahan, atau suami sedang tidak bekerja sehingga saat ini sulit bagi Anda untuk berpindah perusahaan dan beradaptasi terhadap perubahan.
Tak perlu takut dibilang tidak loyal pada atasan atau justru dianggap terlalu loyal pada perusahaan. Tiap orang mempunyai misi pribadi. Anda perlu bersikap loyal terhadap misi tersebut. (f)