“Saya ingat sekali di tahun 80-an, orang idealis itu dianggap bodoh. Sekarang saya melihat kebalikannya. Tanpa idealisme, orang tidak mungkin survive,” ungkap Eki, tentang idealismenya dalam menjalani pilihan-pilihan hidup. Ia selalu membekali diri dengan visi yang jelas dan jauh ke depan.
Gambaran visinya ini terlihat lewat salah satu lagu yang ditulisnya untuk Humania di album Interaksi (2000). Lagu yang ditulisnya di tahun 1998, di masa kerusuhan politik dan ekonomi di Indonesia, yang bercerita tentang globalisasi dan perubahan dinamis di dunia politik, sosial, dan ekonomi tanah air.
Menurutnya, butuh waktu 15-20 tahun bagi Indonesia untuk bounce back dan tinggal landas. “Sepuluh tahun pertama akan menjadi a slow painful healing bagi Indonesia. Dan 10 tahun berikutnya akan jadi the most exciting era buat Indonesia, akan banyak perubahan di dunia perpolitikan, ekonomi, semuanya. Dan ini sudah saya tulis 20 tahun sebelumnya,” ujarnya tentang isi lagu dalam album Interaksi.
Rentang waktu 20 tahun ini menjadi masa regenerasi, dan siapa yang akan menjadi pengambil keputusan di 2020. Generasi yang setelah merampungkan sekolahnya terjun ke masyarakat era reformasi, sehingga tidak terkontaminiasi oleh orde baru. “Makanya saya selalu bilang, ambil posisi masing-masing, jalani peran masing-masing sebaik mungkin, secara konsisten, sampai ketemu lagi di 2020!”
Di Australia lah ia memiliki cukup ruang untuk mengekspresikan diri, dan menemukan siapa dirinya. Sekembalinya ke tanah air, ia tetap konsisten di jalur yang menjadi pilihannya dan merasa nyaman dengan jati dirinya sendiri. Tetapi, apakah benar gara-gara terlalu nyaman ia sampai nyaris lupa berumah tangga? Mendengar pertanyaan ini, Eki tertawa. Seperti pilihan-pilihan hidup lainnya, ia merasa bahwa menikah bukanlah pilihan yang dibuat atas tuntutan sosial atau keharusan.
“Saya menikah Desember 2014, ketika usia saya 44 tahun. Perbedaan usia saya dan istri cukup jauh, 13 tahun. Tetapi semuanya berjalan lancar dan baik-baik saja. Saya sendiri melihatnya sebagai bagian dari jalan hidup,” ujarnya, bijak. Istrinya, Antie (32) merupakan alumni Wajah Femina yang selain terjun ke dunia modeling, juga menjadi seorang balerina. Kini, keduanya telah dikarunia satu putra, Quenra Puradiredja (1,5), dan sedang menanti adik Quenra, yang memasuki usia kandungan tiga bulan.
Di masa lajangnya, Eki memang tengah benar-benar mempersiapkan masa depannya. Kini ia menyadari, bahwa tidak ada orang yang bisa menjawab pasti kapan ia siap menikah atau punya anak. “Menikah saja, dan jalani. Punya anak saja dulu, nanti semuanya akan mengikuti. Saya menyadarinya sekarang, tapi tidak ada penyesalan,” ujarnya, dengan nada pasti.
Tak urung menikah di usia kepala empat ini sempat membuat dirinya menjadi bahan pembahasan di antara teman-temannya. Terutama, mengingat usia dan gap generasi antara dirinya dan anak-anaknya nanti. Eki, memilih untuk menyikapi ini dengan bijak. “Mungkin nanti ada teman Quendra yang usia ayahnya 30-an, ya biarkan saja. Saya percaya bahwa setiap anak punya ceritanya masing-masing, jalan hidup masing-masing.”
(Naomi Jayalaksana)