Rabi’ah al-‘Adawiyah adalah tokoh tasawuf yang sangat populer sebagai rujukan mazhab cinta dalam agama. Penulis buku ini mengangkat Rabi’ah sebagai sosok yang ingin mengingatkan pembaca pada hakikat agama sebagai ajaran cinta kasih. Bukan sebagai alat kekuasaan dan kekerasan.
Nama Rabi’ah sendiri sayangnya kemudian redup di antara bersinarnya nama-nama tokoh pria. Penulis sendiri bahkan punya tiga hipotesis terhadap sosoknya: 1) Tokoh nyata yang tercatat dalam literatur-literatur sejarah, 2) Ia adalah sosok imajiner, 3) Ia adalah sosok historis yang kemudian menjadi tokoh mitologis.
Kelelakian tidak menjadi patokan bahwa mereka lebih mulia dari perempuan. Banyak wanita meraih martabat tinggi dalam agama dan dunia spiritual, seperti Maryam (ibu nabi Isa), Yukabad (ibu nabi Musa), juga Sara dan Hajar (istri nabi Ibrahim). Rabi’ah adalah salah satu contoh wanita yang hidup setelah zaman Nabi, sekitar pertengahan abad ke-2 Hijriah atau 8 Masehi, yang juga layak menjadi panutan untuk menemukan perspektif lain dalam beragama.
LUCIA PRIANDARINI (KONTRIBUTOR - Jakarta)
FOTO: DOK. FEMINA GROUP