Fiction
Sunyi [8]

12 May 2012


Kuurungkan niatku ke Bunaken. Ada hal yang harus kuselesaikan dan tak dapat kutunda lagi. Keberanian Susan menceritakan kisah sedihnya memberikan inspirasi baru bagiku. Ya, mengapa tidak sejak dulu kutanyakan kepada Ibu, mengapa ia begitu membenci Ayah dan aku? Di mana ayahku sekarang? Sejak dulu aku tak begitu peduli. Karena, kupikir, tak ada gunanya. Tapi, sekarang aku mengerti, aku punyai hak untuk tahu, untuk mengerti, atau untuk melupakan dan terus maju, menyusuri lorong hidup di hadapanku. 

Selama ini aku merasa hidup seperti tikus di selokan. Yang mencari jalan untuk terus sembunyi dan menghindar dari kenyataan hidup karena takut. Takut untuk tahu, mengapa aku disebut anak berengsek. Takut untuk memaafkan Ibu, takut untuk mengasihi Ibu? Aku merasa diriku sakit. Ya, mengapa aku tidak berani melangkah menuju cahaya? 

Pagi ini, kuputuskan untuk mengunjungi Ibu. Langit mendung sejak awal hari. Abu-abu, sekelabu hatiku. Kukuatkan jiwa untuk menghadapi jawaban paling buruk sekalipun. Selama ini, aku terlalu sibuk menghadapi ketakutanku, menghadapi hari-hari bersama Ibu. Takut pada amarahnya, makiannya, pukulannya, lalu sibuk dengan susunan rencana balas dendamku, yang kupikir akan membuat hatiku bahagia. Tapi, ternyata tidak! Tetap saja aku berkubang dengan suara-suara di kepalaku. 

Jantungku berdebar empat kali lebih keras ketika kuparkir mobil di halaman berkerikil itu. Gerimis membasahi bebatuan, membuat hatiku bertambah gundah, meragukan keyakinan yang tadinya bersemi di jiwaku. 

Nina, apa kau yakin Ibu akan mengatakan kebenaran padamu? Apa kau tak berpikir, ia akan mengatakan apa saja untuk menyakiti hatimu? Bodoh sekali kau, Nina, berpura-pura kuat! Sadarlah, kau tidak setegar Susan! Hidupmu jauh lebih menyedihkan dibandingkan dengannya! 

Rintik gerimis membuat dinding lorong bertambah lembap, menimbulkan bau kian menyengat. Penghuni panti yang berada di kebun dihalau masuk oleh perawat. Kulihat, sebagian tertawa senang, menari di tengah gerimis. Beberapa merengut marah, sebagian lagi memaki perawat dan meronta. Ibu tak kulihat. Mung­kin, ia sedang berada di kamarnya. Ia tak terlalu suka bersosialisasi. Sejak dulu. Sedari aku kecil, Ibu tak pernah bertegur sapa dengan tetangga. Ibu selalu bersikap keras dan galak. Aku dapat mengerti bila tetangga kami mendengar Ibu berteriak-teriak, tapi tak ada yang berniat menolongku.

Setiap pulang sekolah, aku hanya tertunduk menyusuri gang rumahku, masuk, dan langsung menutup pintu. Itulah duniaku. Ibu tak suka bila ada anak tetangga yang mengajakku bermain. Kemudian, aku makin tak nyaman bila diajak bicara oleh siapa pun. Aku yakin, mereka menganggap aku aneh. Cukup melegakan bila tak ada ibu-ibu yang harus kulewati rumahnya, memandang, sambil berbisik-bisik. Padahal, aku tak ambil pusing apa kata mereka. Begitu yang diajarkan Ibu. Aku tak membutuhkan mereka, tak membutuhkan Ayah, tak membutuhkan siapa pun, kecuali Ibu!

Dugaanku benar. Ia masih menyukai dunianya sendiri. Tubuhnya kurus, terbalut daster kusam. Ia tampak lebih tua dari usianya, yang baru berada di ujung empat puluhan. Rambutnya terurai tak terurus. Jarinya sibuk memilin-milin ujung rambut. Seperti aku, yang selalu merasa kesepian, aku percaya, ia juga mengalami perasaan yang sama, jauh di dalam lubuk jiwanya. Kesenyapan yang tak dapat terjamah oleh siapa pun. 

Rasa tegangku berubah menjadi iba. Entah iba pada sosok tuanya atau iba pada nasib yang mengantarkan kami berdua. Suara petir mengejutkanku. Aku mencari perawat yang dapat membuka kunci pintu kamar ini. Tanpa bersuara, perawat itu membuka pintu, mempersilakan aku masuk. Ibu tampaknya tak sadar oleh kehadiranku. Perlahan, kusentuh bahunya.

Ia mengusap jemariku di bahunya, lalu berkata dengan suara serak paraunya, “Apakah putriku datang hari ini, Suster?”

Lidahku kelu, tenggorokanku tercekat, dadaku pilu, tak menyangka akan mendengar pertanyaan itu keluar dari bibir yang selalu sinis.

“Ini saya, Bu, Nina….”

Ibu melepaskan jemarinya, memutar kursi roda, lalu menatapku tajam. Setengah mendengus, ia membuang muka. “Mau apa kau datang?”

Advertisement
Hatiku mengeluh. Ah, Ibu, kalimat Ibu yang pertama tadi itu nyata atau hanya ilusi? Kukumpulkan keberanian dan mendekat padanya.

“Saya…,” tiba-tiba rasa bingung menyergapku, ketika menatap matanya. Ya, untuk apa aku datang ke sini? Cepat pulang, Nina! Kau ini mengigau atau apa? Jangan sok jadi anak baik! Ibumu tak mengharapkanmu. Ia tak pernah mengharapkan kelahiranmu! Jangan pernah berkhayal ia akan merindukanmu! Tapi, tunggu, kau ingin bertanya mengapa kau dipanggil anak berengsek? 

Plak! Tamparan di pipi kiri membuatku tersadar kembali. Ibu? Ibu menamparku? Aku memandangnya tak percaya. Dengan susah payah ia bergerak dari kursi itu hanya untuk menamparku?

“Ya, aku menamparmu! Kenapa? Kau tak suka?” ia meringis.

Aku menggeleng tak percaya. Hatiku menjerit-jerit, mengatakan aku bodoh. Dengan lutut gemetar menahan emosi, kukepalkan jemari untuk menguatkan diri. “Saya hanya ingin bertanya dua hal pada Ibu. Saya harap, Ibu mau menjawab dengan jujur. Lalu, saya pergi, tak akan kembali lagi.”

Ibu memiringkan wajahnya, “Keluarkan aku dari sini! Kau mau membuatku mati di tempat ini?”

“Saya akan memberikan tempat yang lebih baik bagi Ibu! Nanti! Tapi, Ibu harus menjawab pertanyaan saya dulu. Kalau Ibu memukul saya lagi, saya akan berteriak! Dan, saya akan pastikan Ibu terkunci di kamar ini selamanya!”

Aku mendekatkan wajahku kepadanya. Bila kau memukulku lagi, kau membusuk di tempat ini pun, aku tak peduli!
Ia menarik-narik rambutnya. Wajahnya kosong tanpa ekspresi, seolah tak terjadi apa-apa. Entah apa yang ada di alam pikirannya. Aku menarik napas. 

“Pertama, mengapa Ibu benci saya hingga selalu menyebut saya anak berengsek? Kedua, di mana Ayah sekarang?”

Wajahnya berubah warna. Kupikir, ia akan mengamuk lagi mendengar pertanyaanku. Tapi, hening. Kutunggu sesaat. Tak ada jawaban, tak ada suara. Aku mulai menyesal dan hendak beranjak pergi ketika kudengar suara seraknya.

“Aku tahu, suatu saat kau pasti menanyakan ini.” Matanya menerawang. Kepalanya bergerak-gerak, seakan mengikuti alunan hujan gerimis. Kadang-kadang, aku ingin tahu apa isi kepala Ibu, yang tega menyiksaku bertahun-tahun.

Aku menunggu dengan gelisah. Apakah ia akan mengerti, betapa pentingnya jawaban ini bagi identitas hidupku? Aku terkejut mendengar lolongan tangisnya yang meledak tiba-tiba. Ia meratap, sambil tersedu. Aku hendak menghampirinya, namun kubatalkan niatku, ketika melihat matanya mendelik. Ia lalu membenturkan kepalanya ke kusen jendela berkali-kali. Pelipisnya mulai berdarah. Aku termangu, tak dapat menggerakkan kaki untuk menolongnya. Ingatkah Ibu, dulu Ibu kerap menghantamkan kepalaku ke lemari atau tembok untuk melampiaskan kekesalanmu?

Tak kusangka efek pertanyaanku dapat membuatnya seperti itu. Aku menyingkir, ketika beberapa perawat masuk kamar dan menyuntikkan sesuatu ke lengan Ibu. Tak lama, ia terkulai lemas.

                                                                                        cerita selanjutnya >>

penulis: Inawati



 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?