“Jadi, hanya ada dua alternatif. Saya menitipkan Ibu untuk tinggal di rumah Paman dan membiayai semua keperluannya, atau….”
Aku dapat melihat dari sudut mata, alis Bibi mengerut, pertanda tak setuju pada ide pertamaku. Sengaja kugantung kalimat.
“Atau, saya dapat menitipkan Ibu di panti, yang memiliki reputasi baik, punya banyak perawat dan fasilitas memadai untuk memulihkan kesehatannya. Biaya tetap menjadi tanggung jawab saya.”
Aku hampir tertawa melihat Bibi menendang kaki Paman di bawah meja kaca. Tanda setuju dan lega terpancar dari wajahnya. Aku tahu, tak ada yang suka mengurus orang sakit dan bertabiat buruk. Bibirku menyungging senyum semanis dan setulusnya.
“Emh… mengenai uang hasil penjualan rumah kami kemarin, saya pikir, lebih baik saya berikan kepada Paman dan Bibi sebagai tanda terima kasih karena telah membawa Ibu ke rumah sakit.”
Aku mengangguk sopan pada Bibi, yang sekarang bibirnya membentuk senyum lebar. Paman terlihat jengah dan kikuk mendengar kalimat terakhirku.
“Ah, Nina, uang itu kan hakmu.”
Kali ini Bibi menginjak kaki Paman. Aku menunjukkan wajah tak berdosa, pura-pura tak mengetahui apa yang sedang terjadi. Paman menahan sakit, sambil meringis, dan tersenyum padaku.
“Tapi, kau tahu, sisanya nanti tak seberapa. Biaya rumah sakit mahal, Nina, sedangkan rumah kalian dijual dengan harga miring.”
Aku berpura-pura mengangguk maklum.
“Saya mengerti, saya minta maaf telah merepotkan Paman dan Bibi karena ketidakhadiran saya saat Ibu sakit kemarin. Begini saja, saya harap, uang yang tak seberapa itu menjadi tanda terima kasih saya. Bagaimana? Kalau Paman sungkan, artinya Paman tidak menerima ucapan terima kasih saya.”
Aku memasang wajah sedih. Paman segera mengangguk, setelah kakinya diinjak Bibi lagi. Aku segera beranjak berdiri. “Baiklah, saya akan segera mencari panti yang baik, agar Ibu merasa nyaman. Saya harap ia segera sembuh. Nanti saya akan memberi kabar kepada Paman di panti mana beliau dirawat. Ini nomor telepon saya.”
Sejak itu aku tak pernah menghubungi Paman lagi. Begitu mudahnya segala sesuatu. Aku segera menemukan tempat yang tepat buat Ibu. Sebuah panti khusus untuk penderita sakit jiwa! Ya, itu adalah tempat paling tepat untuknya. Untuk jiwanya yang sakit.
Kebetulan sekali, letak dan kondisi panti itu sesuai dengan kriteriaku: jauh dari pusat kota dan kondisinya jauh dari memadai. Aku suka akan bayangan dirinya yang putus asa di atas kursi roda dan tak dapat berbuat apa-apa untuk menghabiskan hari tuanya di dalam panti menyebalkan itu!
Malangnya, beberapa waktu lalu, Dokter Wisnu diminta bertugas di tempat itu. Suatu hal di luar dugaanku. Hidup dapat mempunyai begitu banyak kebetulan di dalamnya. Aku dapat merasakan nada suaranya yang terkejut saat menghubungiku. Aku tak peduli, aku pun tak berharap ia dapat mengerti. Mungkin, ia merasa aku keterlaluan karena Ibu sampai dirawat di sana. Tapi, aku tak merasa diriku jahat. Dendamku terbalas melihat penderitaannya, menghabiskan sisa umurnya dengan frustrasi. Aku ingin ia merasakan sakit yang sama, seperti ia telah membuat jiwaku sakit.
Aku tersadar dari lamunan. Perutku terasa mual. Kupandang sekeliling ruangan dengan perasaan hampa. Aku tidak pernah menyesal memasukkan Ibu ke panti. Aku juga tak menyesal meninggalkan Yo tadi malam. Tapi, mengapa hatiku terasa kosong? Mengapa aku tak dapat merasa bahagia? Apa yang masih salah pada diriku?
Yo, katakan padaku, bagaimana aku dapat berbahagia? Atau, salahkah aku saat meninggalkanmu tadi? Aku pikir itu cuma mimpi. Aku harap itu juga cuma mimpi. Tapi, perasaan hampa ini nyata. Nyata! Aku tak dapat memungkiri, kepergianmu dulu membuat aku makin membenci Ibu. Aku selalu berpikir, karena amarah Ibu sore itulah kau pergi dari hidupku. Mungkin, seandainya kau tak pergi, kita sudah berjalan menyongsong pelangi. Aku tahu pasti, karena menjalani hidup bersamamu selalu berwarna.
Bodoh kau, Nina! Yo tak pernah memedulikanmu. Ia pergi seenaknya dan meninggalkanmu! Apa ia peduli padamu? Apa ia tahu betapa sakitnya perasaanmu? Apa ia pernah mencarimu? Begitukah tandanya seseorang yang menyayangimu? Apa buktinya bahwa ia memerhatikanmu?
Asam lambungku makin mendesak. Aku berlari ke kloset dan melakukan ritual kebanggaanku, yang selalu membuatku merasa puas.
Yo menelepon berkali-kali, setiap hari. Hatiku makin terasa gersang. Aku tak tahu harus berkata apa. Jadi, setiap kali ia menelepon, selalu kumatikan. Aku harap, ia mengerti kegelisahanku, kecemasanku, dan ketidakmampuanku melepaskan diri dari masa lalu. Pikiranku kacau. Aku butuh ruang. Aku perlu waktu. Sendiri. Aku tak dapat lagi menjalankan aktivitas sehari-hari dengan baik sejak Yo menyampaikan perasaannya.
Aku yakin, cuti adalah keputusan terbaik. Aku lelah. Aku benci suara-suara di kepalaku. Kuharap air dapat menenangkanku.
“Jadi mau ke Bunaken? Kupikir, kau hanya ke Bali atau Lombok. Apa tidak terlalu jauh?” Susan tiba-tiba sudah ada di belakangku.
Aku memang ingin pergi jauh….
“Kau sedang ada masalah, Nin?” tanyanya lagi.
Gerakanku terhenti. Biar bagaimanapun, Susan teman yang baik. Ia tak pernah ikut campur urusanku. Aku tahu, perhatiannya tulus. Aku hanya tersenyum, berharap dapat mengusir kekhawatirannya.
“Aku cuma merasa jenuh.”
Ia mengangguk-angguk, tampak ingin memercayai ucapanku.
“Nin, mengapa setiap kali ada telepon dari Dokter Wisnu atau Yo, kau tak pernah mau menerimanya?”
Aku tak mungkin menceritakan semua pada Susan. Tidak akan!
“Siapa, sih, Dokter Wisnu? Kalau aku boleh tahu,” katanya.
Kepalaku jadi berat. Aku malas mengatakan kebohongan. Kebohongan selalu mengantar pada kebohongan lain. Apa aku dapat terus berbohong pada semua orang seumur hidupku? Tapi, aku tak ingin berkisah tentang hidupku.
Aku memandang Susan. Sedikit cerita tak akan menyakitkan.
“Dia dokter jiwa yang merawat ibuku….”
Dan, yang pernah merawat aku.
“Bukankah kau bilang ibumu dirawat di panti wreda?”
Aku mengangguk, tertunduk. Tak tahu bagaimana harus menyambung kalimatku tadi.
Aku merasakan sentuhan jemari Susan pada bahuku. Air mataku menetes. Susan memelukku. Aku merasa rapuh, seperti anak kecil yang rindu pelukan bunda, tanpa terasa air mataku bertambah deras. Tenggorokanku tercekat. Aku lelah… aku lelah….
“Ah, mengapa kau tak pernah bercerita padaku? Aku ini sahabatmu. Kenapa kau tak pernah membagi masalahmu?”
Aku menyusut air mataku. “Karena, kau juga tak pernah bercerita apa pun padaku. Misalnya, mengapa hingga saat ini kau belum juga mau menikah, kekasihmu selalu berganti-ganti?”
Susan menghela napas. Sekali ini wajahnya tersaput kabut.
“Aku trauma pada pria. Sesungguhnya, aku jijik pada mereka.”
Aku ternganga. Bagaimana mungkin?
Susan menatapku dengan pandangan kelam. Menghela napas dengan berat berkali-kali, berusaha untuk mengumpulkan kekuatan tampaknya. “Di umurku yang kesebelas, ibuku menikah lagi. Ayah tiriku tampak baik dan aku amat memujanya. Kau tahu kan ayah dan ibuku berpisah karena Ayah menikah lagi? Jadi, kehadiran Om Bima bagaikan pahlawan bagi kami.
“Suatu kali, Ibu harus pergi ke luar kota untuk suatu tugas kantor. Aku ingat betul, saat itu aku mendapat haid pertamaku. Aku bingung dan sungguh tak tahu harus bertanya pada siapa. Aku ketakutan melihat darah yang mengalir di sela pahaku. Kupikir, aku menderita suatu penyakit berbahaya. Saat aku panik sendirian di dalam kamar, Om Bima masuk. Tutur katanya yang halus dan sopan, membuatku nyaman dan mempunyai keberanian untuk bercerita tentang ketakutan yang kualami. Ia bilang, ia mau melihatnya. Tapi, aku malu dan ternyata ia memaksaku.”
Tangis Susan pecah.
“Kau bayangkan? Aku kehilangan kegadisanku di haid pertamaku! Aku melolong, menjerit, melawan, tapi suara hujan mengalahkan semuanya! Saat itu aku sendirian di rumah. Om Bima mengancamku untuk tidak memberi tahu siapa pun. Ia mengancam akan membunuh adik-adik dan ibuku saat mereka sedang tidur! Kau tahu, esoknya aku bahkan tidak dapat masuk sekolah karena tak dapat menahan rasa sakit.
“Om Bima tak berhenti sampai di situ. Perbuatan busuk itu selalu ia lakukan setiap kali ada kesempatan! Aku tak tahan. Setiap kali aku hanya dapat berdoa karena tak tahu harus bercerita kepada siapa. Aku hampir gila. Setiap detik, hidup bagiku adalah mimpi buruk. Aku makin jarang ada di rumah. Setiap malam, setiap kali mataku terpejam, mimpiku hanya berputar di dua kisah: perbuatan Om Bima padaku atau tangan-tangan kuatnya sedang mencekik Ibu dan membantai adik-adikku yang sedang tidur!
“Enam tahun kemudian, Om Bima tewas saat mobilnya ditabrak truk. Tak ada hari yang lebih kusyukuri daripada hari itu. Kupikir, penderitaanku akan segera berakhir. Tapi, aku salah. Ada kesakitan lain yang harus kuterima. Aku merasa diriku begitu kotor. Dan, aku jijik pada pria! Aku tak dapat mencintai pria! Tak ada yang tahu bahwa hingga detik ini pun aku masih mengatasi rasa itu. Pernah aku berkata jujur pada Ibu, mengenai perbuatan Om Bima. Tapi, aku ditamparnya! Dia berpikir, aku sudah keterlaluan. Hatiku sakit, bagaimana mungkin beliau tidak memercayai aku, darah dagingnya sendiri ?”
Susan mengusap air matanya. “Jadi, bagaimana aku bisa menikah dan mempunyai anak, bila setiap kali kekasihku mengajak bermesraan, yang terbayang hanya wajah Om Bima. Dan, aku berganti-ganti kekasih karena aku merasakan kepuasan tersendiri saat berhasil membuat seorang pria patah hati. Tapi, aku tetap tak bahagia. Meski mimpi buruk itu sudah menghilang, aku tak dapat merasa bahagia.”
Aku termangu. Tak tahu harus berkata apa.
Penulis: Inawati